Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 45. Cintanya Dibawa Mati


__ADS_3

Hari ini seperti hari kemarin, bunda Reni datang kembali kerumah pak Soko, untuk membantu mengurus Hawa. Malam tadi dia sulit tidur karena terus teringat bayi menggemaskan bernama Hawa.


Begitupun hari-hari berikutnya. Terkadang bunda Reni juga membawa Hawa kerumah Gilang. Namun seperti biasa, bunda Reni selalu mengantarkan Hawa dan pulang dari rumah pak Soko sebelum ayah dua anak itu datang dari bekerja. Dia merasa


tidak enak kalau harus bertemu duda itu.


"Bunda kok hampir tiap hari sih main ke tempat pak Soko. Kalau bunda ada hati dengan pak Soko, sebaiknya bunda jujur saja"


Gilang menyarankan agar bundanya terus terang saja tentang perasaannya dan Jangan sering main ketempat duda. Karena bisa berakibat jadi guncingan para tetangga. Maklumlah, Gilang adalah sosok panutan yang sangat disegani, baik oleh karyawannya maupun oleh seluruh anggota keluarga yang menempati perumahan dinas.


"Seenaknya saja kamu itu ngomongnya Gilang. Bunda cuma kasian sama anak-anak pak Soko"


Rasa sayangnya pada Hawa membuat wanita setengah baya itu ingin menimang hawa setiap hari. Sehari saja tak bertemu rasanya hati begitu rindu?.


"Dari dulu bunda tidak ada niatan untuk menikah lagi. Bunda tidak mungkin dan tidak akan bisa mencintai laki-laki lain selain ayahmu, cinta bunda sudah habis dibawa mati" wanita cantik itu merawang jauh kedepan. Walau akhir-akhirnya sering terbersit dalam hatinya ingin kembali merasakan belaian cinta seorang suami.


"Jangan bicara seperti itu bunda, cinta bisa datang kapan saja kalau Allah menghendaki"


Bunda Reni langsung terdiam mendengar ucapan Gilang. Hatinya bertanya, apakah rasa sayangnya pada hawa akan membawa hatinya untuk jatuh cinta pada pak Soko. Tapi bunda rasa itu tidaklah mungkin. Tak ada rasa sama sekali untuk lelaki itu, apalagi pak Soko pun terlihat sangat dingin, lelaki itu hanya fokus pada pekerjaan dan masa depan buah hatinya.


"Kalau bunda memang tak ada rasa sama sekali pada pak Soko, sebaiknya bunda jangan terlalu sering kerumah pak Soko bun"


Bunda Reni mengernyitkan dahinya, bingung dengan cara berfikir putra semata wayangnya. Namun dia tetap mencoba bersabar, mungkin dia mendengar aduan ibu-ibu yang melihat bunda Reni datang ketempat pak Soko setiap hari.


Ibu dari orang nomor satu diperusahaan perkebunan porang itu menjelaskan pada putranya. Bahwa dia datang ketempat pak Soko saat lelaki itu sudah berangkat kerja, Srintil adalah saksinya.

__ADS_1


Tapi selama ini lingkungan sekitar mungkin tak memperhatikan sedetail itu, mereka hanya melihat sekilas kemudian berkomentar dan bergunjing kesana kemari.


Untuk menghindari pergunjingan warga lebih jauh dan untuk menjaga nama baiknya jangan sampai mendapat julukan janda murahan. Bunda Reni memutuskan untuk tidak datang kerumah pak Soko lagi.


*****


Hari ini tepat pada pukul sepuluh, Deni dan Enjela seorang bidan cantik akan melangsungkan akad nikah untuk meresmikan hubungan mereka.


Semua kerabat Deni telah datang kerumah Dinas Deni. bu Asih, pak Hadi dan Guntur pun telah hadir juga. Sementara bunda Reni, Sekar dan Gilang juga sudah siap dengan pakaian kopel mereka.


Tiba-tiba hand phone Gilang yang ada dalam saku celana berbunyi. Ternyata kabar dari pak Soko yang mengabarkan bahwa Hawa putri bungsunya sakit. Sudah seminggu ini dia rewel terus. Pak Soko memberitahukan bahwa dia tidak bisa ikut menyaksikan ijab qabul Deni.


Mendengar kabar tersebut bunda Reni dan Sekar terkejut. Pasalnya, sudah seminggu ini bunda Reni tak datang kerumah pak Soko. Dengan tergesa-gesa Gilang, Sekar dan Bunda melangkah kerumah pak Soko yang jaraknya sekitar seratus meter dari kediaman Gilang.


Sesampainya dirumah pak Soko mereka disambut baik oleh pak Soko. Hawa menangis tak henti-hentinya, suaranya serak, wajahnya memucat. Dia berada dalam gendongan pak Soko yang wajahnya tampak sembab.


Bunda Reni segera mendekati pak Soko, dia tersenyum pada Hawa dan mengulurkan tangan. Sontak tangis Hawa langsung berhenti dan menyambut uluran tawa bunda Reni. Dia terkekeh dalam pelukan bunda Reni dan tak lama kemudian terlelap.


"Sebaiknya bunda dan Srintil dirumah saja menjaga Hawa. Kalian semua berangkatlah untuk menghadiri pernikahan Deni," ujar bunda Reni sambil terus mendekap Hawa.


"Dede Hawa mungkin kangen sama bunda, andai ayah menikah dengan bunda, mungkin aku dan Hawa akan selalu bahagia," celetuk Sarah.


"Husss...jangan ngomong sembarangan. Anak seumuran kamu belum pantas untuk membahas pernikahan"


Pak Soko langsung mengingatkan Sarah. Bapak dua anak itu amat gugup dengan ungkapan hati putri sulungnya. Dia pun segera meminta maaf kepada Gilang dan ibunya. Setelah di rasa Hawa sudah tenang dan tertidur. Pak Soko dan Gilang pun mengikuti saran bunda Reni. Mereka semua segera berangkat untuk menghadiri acara pernikahan Deni.

__ADS_1


Bunda Reni dengan sabar mengurus Hawa, menungguinya saat tidur, memandikannya dan mengajaknya bermain. Hatinya sangat bahagia, akhirnya dia punya kesempatan untuk memanjakan bayi menggemaskan itu. Sementara Srintil menggunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk mengurus pekerjaan rumah tangga, memcuci baju, piring, nyapu dan ngepel lantai.


******


Gilang, Sekar, Pak Soko dan Sarah berada dalam satu mobil menuju rumah orang tua bidan Enjela untuk menyaksikan pernikahan Deni.


Sepanjang jalan mereka hanya bungkam hanyut dalam fikiran mereka masing-masing. Pak Soko merasa tidak enak pada Gilang, karena tingkah Hawa, yang begitu merindukan sosok bunda Reni. Begitu pun Gilang, seminggu tak bertemu Hawa, telah membuat bundanya selalu murung. Bunda kerap menyendiri dalam minggu terakhir ini, semenjak memutuskan menjauhi hawa demi kebaikan semua, agar tidak menjadi gunjingan tetangga.


"Sepertinya ada ikatan batin antara bunfa dan Hawa, ya pak, terbukti setelah melihat bunda, anak itu terus mengulurkan tangannya mau ikut. Setelah digendong dia terlihat tenang dan gembira hingga tertidur"


Sekilas Gilang melirik pak Soko yang tertunduk. Saat ini ayah sarah benar-benar sedang bingung. Beberapa kali Sarah mengungkapkan perasaan bahwa jika ayahnya ingin menikah lagi, dia ingin bunda Renilah yang diharapka jadi ibu sambungnya.


"Betul pak saya juga bingung, padahal dari kemarin-kemarin sudah berbagai cara saya lakukan untuk menenangkan Hawa. Kelembutan hati bunda Reni telah membuat kedua putri saya jatuh hati padanya"


Gilang tersenyum mendengar penuturan pak Soko.


"Tepatnya anak-anak bapak dan bunda saya sudah saling jatuh cinta pak, saya berharap bapak juga segera jatuh hati dengan bunda saya, agar kalian kembali hidup bahagia, terutama anak-anak"


Bagaimana keadaan bunda Reni yang selalu sedih setelah memutuskan untuk menjauhi kedua putri pak Soko. Gilang berterus terang, dia tidak akan tega menjauhkan Sarah dan Hawa dari bundanya.


"Kalau Saran saya, sebaiknya bapak nikahi bunda saya demi anak-anak pak," saran Gilang.


"Saya takut tidak bisa membahagiakan bunda Reni pak. Setelah kematian istri saya, rasanya tak ada lagi rasa cinta yang tertinggal untuk wanita lain. Cinta saya telah dibawa mati oleh mendiang istri saya"


Gilang dan Sekar mengernyitkan dahinya. Merasa heran dengan jawaban pak Soko yang hampir mirip dengan jawaban Bundanya.

__ADS_1


*******


__ADS_2