Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 110. Kesepakatan


__ADS_3

"Terimakasih banyak ya Bu, karena bu Asih telah menjaga nama baik anak perempuan saya, saya senang akan berbesan sama anda pak Hadi, bu Asih," ujar nyonya Luna.


Bu Asih dan pak Hadi terlihat senang, apalagi ternyata kedua orang tua Antinia telah mengetahui nama mereka berdua. Tentu itu semua berkat Antinia yang sudah menceritakan tentang mereka dengan mommy dan daddynya.


"Sama-sama bu Luna, saya juga mengucapkan terimakasih karena anak saya Guntur diperkenankan untuk melamar Antinia, padahal kami hanya orang desa yang miskin, tak punya harta dan pendidikan yang tinggi," jawab bu Asih.


Setelah mengobrol ringan untuk berbasa-basi. Kedua orang tua Antinia mengajak tamunya untuk makan siang. Lagi-lagi bu Asih terlihat kagum melihat menu makanan yang beraneka ragam dimeja makan. Namun pak Hadi segera menjawil lengannya agar istrinya bersikap biasa saja. Bu Asih tersenyum mengerti maksud suaminya.


"Ayo pak hadi, bu Asih, Guntur silakan dimakan hidangannya, ini semua masakan istri saya, hari ini sengaja dia turun kedapur memasak untuk menjamu calon besannya," kata tuan Antoni.


Pak Antonio melirik istrinya, sedangkan sang istri merasa tersanjung dengan sikap suaminya yang begitu bangga atas apa yang telah dikerjakannya.


"Saya ini kedapur sekalian mengajarkan Antinia memasak, dia kan akan menjadi seorang istri, yang harus bisa memuaskan perut suaminya dengan masakan-masakan hasil tangannya sendiri. Walaupun yang harus lebih dipuaskan bagian bawah perut, tapi bagian perut juga penting"


Guntur tertunduk malu, wajahnya terlihat memerah. Merasa bagian bawah perutnya akan selalu dipuaskan oleh istrinya nanti, dia langsung melirik Antinia, ada yang hidup dibawah sana, membuat hatinya berdebar dan tak fokus.


"Mommy ini tidak usah menyebut bagian bawah perut juga kali, itu kan tidak sopan didepan tamu calon besan mana dimeja makan"


Antonio yang dari tadi hanya menjadi pendengar memprotes ucapan mommynya.

__ADS_1


"Iya mommy ini, maafkan ya calon besan, istri saya memang kalo bicara jarang di filter, maklum setiap siang dan malam saat kami berduaan, kerjaan dia memang memuaskan bagian bawah perut saya"


Semua orang akhirnya tertawa lepas, Guntur samakin panik karena hasratnya mulai timbul. Terbayang bagaimana tangan lembut Antinia membelai bagian tertentu dari tubuhnya. Ingin sekali dia mengusulkan agar pernikahannya dipercepat.


"Bagaimana kalau pernikahan kami dipercepat saja, Antinia sudah tidak sabar ingin memuaskan bagian bawah perut milik suamiku"


Semua terperangah, tak disangka seorang gadis anggun yang dari tadi terlihat malu-malu mampu mengeluarkan ucapan seperti itu. Rupanya keluarga ini suka bicara fulgar tanpa filter.


Dimata Guntur itu sangat menyenangkan dilakukan saat telah menikah nanti, membuat hasratnya tak pernah surut saat berduaan dengan istri tercintanya. Mereka terus berbicara banyak hal sambil terus menyantap makanan. Setelah selesai makan, dua keluarga besar itu kembali duduk diruang tamu. Pak Hadi kini mulai bicara memgutarakan maksud kedatangannya.


"Terimakasih banyak ya pak Antoni dan bu Luna karena telah menyambut kedatangan kami dan putra kami dengan sangat baik. Sungguh ini suatu kehormatan yang luar biasa bagi keluarga kami. Kedatangan kami sekeluarga adalah untuk melamar putri anda untuk menjadi istri Guntur putra kami. Sebenarnya sebagai orang biasa, kami merasa tidak pantas datang kemari meminta anak bapak dari keluarga berada menjadi istri seorang pemuda desa seperti Guntur. Tapi kami tahu mereka saling mencintai. Saya sebagai orang tua tak tega melihat mereka terus menjalin hubungan cinta kasih tanpa status resmi dan jelas dimata Tuhan, pemerintah dan masyarakat.


Tuan Antonio memandang semua yang ada diruang tamu. Dia mulai bicara untuk menjawab kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut pak Hadi.


"Kalau saya pribadi dan istri saya tentu menerima lamaran pak Hadi dan bu Asih, tapi alangkah baiknya kita tanyakan langsung kepada putri saya, apakah dia menerimanaya, walau saya pribadi tahu kalau dia pasti mau, karena sepertinya dia sudah tidak sabar ingin nemuaskan bagian bawah perut milik Guntur. Tak ada salahnya mari kita tanya Antinia agar kita semua mendengar jawabannya langsung dari mulut dia, bagaimana nak apa kamu bersedia jadi istri Guntur," jawab tuan Antoni.


"Bersedia Daddy, mom, bapak, ibu"


Antinia langsung menyahut, dia menerima lamaran Guntur tanpa basa-basi sedikitpun. Membuat semua yang hadir lagi-lagi menahan senyum.

__ADS_1


"Tuh kan sesuai fikiranku jawabannya. Karena Antinia telah menerima lamaran Guntur, lelaki yang dicintainya dan selalu ada dalam fikiran dan khayalannya setiap hari. Mari kita bicarakan kapan waktu yang tepat untuk mereka menikah dan bagaimana acara pernikahannya. Silakan pak Hadi"


Pak Hadi menarik nafas, dia memandang kedepan tanpa berani menatap wajah tuan Antoni. Hatinya berdebar, disinilah bagian yang membuatnya grogi sebagai orang yang tak mempunyai banyak harta. Bu Asih mengeluar,,,,,,,,kan sesuatu dari dalam tasnya.


"Sebelumnya saya mau menyerahkan perhiasan ini untuk Antinia, sebagai pengikat karena Antinia sudah menerima lamaran Guntur. Memang tidak seberapa bagi anda, tapi kami sudah mengeluarkan segenap kemampuan kami untuk mendapatkannya," ucap pak Hadi.


"Kalau soal acara pernikahan, mungkin cara kami berbeda dengan bapak dan ibu. Kami orang desa jadi cara membuat resepsi pernikahan ya seperti orang desa. Jadi menurut pendapat kami, mari kita adakan acara masing-masing sesuai kemampuan kita. Saya dan istri akan mengadakan resepsi didesa dan bapak silakan melaksanakan dikota seperti yang bapak mau"


Akhirnya kedua keluarga itu sepakat mengadakan akad Nikah di kota tepatnya diKUA dimana mempelai wanita berdomisili. Selanjutnya akan diadakan resepsi pernikahan disebuah hotel bintang lima yang diadakan oleh orangtua Antinia dengan tamu undangan adalah keluarga besar, kerabat dan seluruh rekan kerja, fatner bisnis, teman pak Antoni sekeluarga. Sedangkan bu Asih melaksanakan hajatan didesa mengikuti tradisi di desa Cipaganti pada minggu berikutnya.


Setelah semua disepakati, Guntur dan keluarganya pun pamit undur diri dari kediaman Antinia.


"Terimakasih atas jamuannya ibu Luna, ini adalah pengalaman pertama saya bertamu dirumah orang kaya, saya sungguh terkesima melihat rumah ibu yang sangat megah ini. Saya sangat bangga menjadi besan ibu lho. Tapi bukan karena harta ibu Luna yang melimpah ini yang membuat saya mendukung hubungan Guntur dan Antinia. Namun karena cinta putraku yang begitu besar terhadap putri ibu. Selain itu juga sebagai rasa syukur saya kepada Tuhan karena Guntur anak saya yang selama ini jomblo dan tak pernah mempunyai kekasih akhirnya dia jatuh dan mempunyai kekasih. Saya sangat bahagia setelah tahu ternyata anak saya laki-laki normal, bukan laki-laki jadi-jadian," ujar bu Asih saat mereka bersalaman dan saling cipika-cipiki.


Pak Hadi yang disebelahnya lalu berbisik.


"Jangan dibongkar semuanya bu"


Guntur melebarkan bola matanya, menatap ibunya. Dia sangat kesal mendengar kata-kata ibunya sendiri. Bu Asih memang kalau sudah merasa nyaman bicara dengan seseorang, semua yang dia rasa dan dia tahu dikeluarkan semua tanpa di sortir dulu.

__ADS_1


*********


__ADS_2