Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 57. Bahagia


__ADS_3

Pagi ini Sarah bangun pagi dengan bahagia. Senyumnya terus tersungging dari bibirnya.


"Pagi bunda, makasih ya sudah menemani Sarah tidur. Malam ini bunda boleh tidur dengan Hawa dan ayah"


Sarah yang baru bangun tidur menjumpai bunda Reni yang tengah menyusun makanan dimeja makan.


"Bener ya malam ini ayah dan Hawa boleh tidur sama bunda"


Pak Soko yang sedang duduk dimeja makan menikmati secangkir kopi buatan istri menyahut sembari mengedipkan mata kepada istrinya. Bunda Reni pun membalas dengan senyuman semanis mungkin.


"Tentu saja ayah, Sarah kan sayang ayah, Sarah mandi dulu ayah, bunda, muaah..."


Sarah berlari meninggalkan ayah dan bunda barunya menuju kekamar mandi.


Hari ini pak Soko masih libur kerja, Sarah sudah berangkat ke sekolah.


"Bunda...Hawa sudah tidur, Srintil pamit mau kepasar, mau beli keperluan dapur"


Srintil melangkah pergi meninggalkan pak Soko dan bunda Reni yang tengah santai diruang makan menikmati makanan ringan.


"Aku mandi dulu, de Reni sudah mandi," tanya pak Soko," sambil berlalu meninggalkan istrinya.


"Sudah subuh tadi mas" sahut bunda Reni dia pun berlalu masuk kedalam kamar. Kemudian mengambil ponselnya dan berselancar dimedia sosial sambil sesekali melirik Hawa yang tertidur pulas di ranjang bayi.


Kreeet.....


Pak Soko masuk, dengan menggunakan handuk putih yang dililitkan sebatas pinggang. Rambutnya yang basah masih menetes dan mengalir membasahi dadanya yang kokoh. Tanpa sengaja bunda Reni mengarahkan pandangannya kedada bidang pak Soko, dia terus menyoroti area perut pak Soko yang mirip roti sobek akibat terlalu sering bekerja berat.


Gleek....


Tanpa sadar wanita paruh baya yang masih nampak seksi itu menelan salivanya dengan gugup. Pak Soko menoleh dan terkejut melihat istri yang baru dinikahi terbaring santai diranjangnya sembari menatapnya. Wajah cantik, daster yang yang membalut tubuh istrinya terlihat begitu serasi dan nampak seksi. Membuat debaran didalam dada, mengaktifkan sesuatu yang selama ini terkulai dalam damai.

__ADS_1


Lelaki setengah baya dengan perut six pack itu mendekati bunda Reni, tatapan mereka saling mengunci. Bunda Reni sontak merasa gugup karena tak menyangka lelaki yang dari tadi diperhatikan diam-diam justru menghampirinya hingga terdengar jelas jika lelaki itu pun jantungnya sedang berdebar.


"Ada apa menatapku seperti itu, apa kamu mau nyentuh ini"


Pak Soko meraih tangan bunda Reni dan membawanya menyentuh dadanya, juga mengelus perutnya yang kotak-kotak. Dengan malu-malu bunda Reni meraba perut suaminya sembari tersenyum genit hingga membuat lelaki dihadapannya hampir hilang kendali hendak menerkamnya. Untunglah dia masih sanggup untuk bertahan sampai mendapat izin dari wanita dihadapannya.


"Indah sekali mas, akhirnya aku mendapatkan izin untuk menyentuhnya. Apa boleh aku menyentuh benda yang lain"


Pak Soko hanya menganggukan kepalanya tak mampu lagi berucap apapun, dia sangat gugup, ternyata wanita elegan yang selama ini terlihat dingin begitu berani saat hanya berdua dikamar.


Tanpa ragu dan dengan sangat agresif bunda Reni menyentuh dan meraba seluruh bagian tubuh suaminya, seolah dia sedang belajar anatomi tubuh laki-laki. Kini pak Soko pun sudah kehilangan rasa malu. Dia mulai menerkam tubuh istrinya, membawanya kenirwana hingga mereka terlena dalam lautan cinta yang begitu indah. Suara desah nafas keduanya saling memburu, detak jantung mereka saling bersahutan, derit ranjang pun terdengar begitu nyata. Hingga keduanya terhempas setelah mencapai puncak kepuasan maksimal.


"Katanya belum ada cinta tapi kok mainnya begitu semangat," ucap bunda Reni sembari meraba dada bidang suaminya.


"Habis rasanya legit banget, seperti masih perawan, kok bisa begitu ya," ujar pak Soko sambil membetulkan selimutnya.


"Mungkin karena puluhan tahun tidak disentuh, lelaki yang dulu suka bercocok tanam disana pergi meninggalkanku untuk selama-lama. Sehingga ladangnya menjadi hutan kembali"


"Aku janji, aku akan selalu rajin bercocok tanam disana karena saat ini aku sudah jatuh cinta sama kamu sayang"


"Benarkah....kalau begitu ayo kita lanjut ronde kedua, mumpung Srintil belum datang.


Kedua pangantin baru yang sudah tidak muda lagi pun kembali mengulang percintaan yang baru saja usai. mereka kembali ingin merasakan manisnya madu-madu percintaan yang halal hingga beberapa jam lamanya.


"Ayah, bunda, kalian dimana?" Suara teriakkan Sarah yang baru pulang sekolah.


"Sudah siang rupanya, aku fikir masih jam sepuluh, untung kita sudah selesai" bisik pak Soko pada istrinya. Dia melangkah menuju pintu dan membukanya.


"Ayah kebiasaan deh...kalau libur pasti mandinya siang banget. Lho bunda suka mandi kesiangan juga, sama dong dengan ayah"


Sarah memandang ayah dan bundanya yang terlihat baru selesai mandi dengan rambut masih basah. Mereka berdua hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan putrinya.

__ADS_1


"Ayo kita kedapur, bunda mau siapin makan siang, kalian pasti sudah lapar"


Wanita paruh baya yang beru saja menyelesaikan tugas pertamanya sebagai seorang istri itu melangkah kedapur yang menyatu dengan meja makan. Dia terkejut saat melihat meja makan sudah tertata masakan lezat.


Disana ada Srintil yang sedang mencuci perabot rumah tangga. Dia tersenyum melihat bunda Reni.


"Kamu sudah datang Srintil, aku kira masih dipasar, aku kok enggak tahu"


"Sudah dari tadi bunda, tuh sudah selesai masak. Aku langsung kedapur, takut ibadah ibu dan bapak terganggu," ujar Srintil sambil tersenyum penuh arti. Bunda Reni pun tersenyum malu-malu.


"Maaf kalau suaranya mengganggu," ujar bunda Reni tangannya merengkuh bahu Srintil.


"Saya turut bahagia karena bapak dan bunda begitu cepat saling mencintai, soalnya sebelum menikah kalian seperti air dan minyak, sulit menyatu sepertinya. Mungkin karena belum halal," ujar Srintil.


Sebenarnya bunda Reni juga merasa aneh dengan pak Soko. Lelaki yang kini bergelar suami itu, saat ini terlihat sangat menarik. Tubuhnya yang gagah, perutnya yang indah, tutur katanya yang hangat dan lembut benar-benar membuat hatinya meleleh dan pasrah tanpa syarat.


Padahal dahulu bunda Reni benar-benar tidak tertarik pada pak Soko karena sikapnya yang dingin, mukanya yang datar tanpa ekspresi, benar-benar menyebalkan menurutnya.


"lho bunda masaknya cepat sekali, seperti sulap"


Pak Soko yang baru datang dan duduk dimeja makan langsung berkomentar. Sementara Sarah disampingnya sibuk bermain ponsel.


"Srintil yang masak mas, ternyata dia sudah datang dari tadi dan kita tidak dengar. Pak Soko hanya tersenyum pada istrinya.


"Ya sudah ayo kita makan. Mumpung masih hangat, Srintil ayo kita makan sama-sama, jangan sungkan ya"


"Maaf bu saya masih kenyang, tadi baru saja makan"


Sebenarnya Srintil belum makan, namun dia sungkan dan merasa tidak tahu diri jika harus makan semeja dengan majikannya.


Begitulah kehidupan pernikahan pak Soko dan bunda Reni, hari-harinya begitu indah jauh dari apa yang mereka fikirkan selama ini, yang mengira pernikahan mereka tidak mungkin bahagia karena tidak ada rasa saling cinta diantara mereka.

__ADS_1


*******


__ADS_2