Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 93. Pesona Guntur


__ADS_3

"Maaf pak, sejauh ini ibu memang kurang paham dengan hubungan kami. Saya dan Gading jarang bertemu. Mungkin itu yang membuat ibu berfikir demikian.


"Tapi faktanya saya dan Gading masih saling mencintai, kami sudah berjanji untuk memperjuangkan restu keluarganya"


Antonio memandang kearah Sitah seraya tersenyum, raut wajahnya menunjukan rasa bahagia, membuat kening Sitah dan ibunya mengernyit heran. Disaat seseorang ditolak cintanya tentu hal yang lumrah jika wajahnya terlihat muram. Namun beda halnya dengan Antonio. Dia seperti tampak bahagia saat lamarannya ditolak Sitah dengan alasan Sitah mencintai Gading.


"Ini hadiah buat ibu dan Sitah, semoga kalian senang. Karena sudah tidak ada lagi yang harus dibahas, semua sudah klier, Sitah menolak menjadi istri saya, saya pamit ya Sitah, bu Tarni. Semoga kebahagian selalu mengiringi dalam setiap langkahmu Sitah"


Dengan mobil mewah harga miliayaran rupiah, Antonio meninggalkan rumah bu Tarni. Tak ada rasa sedih, apalagi air mata, Antonio tampak biasa saja.


"Lihat Sitah, saat kamu tolak cintanya saja, dia memberikan hadiah segitu banyaknya. Apalagi kalau kamu menerima cinta pak mister"


Sitah menyoroti wajah ibunya dengan perasaan kesal.


"Ibu ini kok labil sih, terkadang ibu menasehati Sitah, agar jangan lagi silau dengan harta, tapi kenapa justru ibu yang sekarang silau dengan harta"


"Ibu bukan lagi silau dengan harta Sitah, ibu cuma menyayangkan kenapa kamu menolak niat baiknya, padahal dia masih lajang, kamu enggak ngambil suami orang. Daripada kamu menunggu Gading yang tidak jelas apakah kalian akan di restui atau tidak"


Mereka terus berdebat, hingga akhirnya Sitah memutuskan keluar untuk mencari udara segar.


Sitah terus melajukan kendaraannya menuju kerumah Dewi, temannya saat bekerja di perusahaan perkebunan porang. Ternyata di situ ada Rina. Dian, Tina dan Ria.


"Tumben kalian ngumpul disini," sapa Sitah.


"Iya mereka kesini sedang menggosip tentang orang paling ganteng di perusahaan perkebunan porang," jawab Dewi sipemilik rumah.


Sitah mengernyitkan dahinya, dalam hati timbul berbagai pertanyaan, siapa lelaki di dikantornya dulu yang sedang naik daun dan banyak digandrungi para kaum hawa.


"Siapa lelaki itu, aku boleh tahu enggak?kalian tenang aja, aku tidak akan ikut bersaing kok"


"Yakin kamu tidak ikut bersaing, tidak tertarik sama dia, ingat jangan menggunting dalam lipatan yah," sahut Dian.

__ADS_1


Sitah menganguk sambil memgacungkan jempolnya.


"Dia adik ipar dari bos besar kita, wajahnya yang cool, pembawaannya yang tenang ternyata telah membuat banyak anak gadis orang menggilainya.


"Guntur maksudnya, tenang dia bukan tipe aku"


Semua wanita mengangguk, masing-masing dari mereka membicarakan kelebihan Guntur. Membuat Sitah heran tak mengerti mengapa baru sekarang mereka kagum terhadap Guntur, apa ada yang berubah dengan penampilanya.


*****


Sementara itu Guntur yang baru datang selepas makan siang dirumahnya berjalan memasuki area kantor. Saat ini dia memang terlihat gagah dan berwibawa setelah dia memotong rambut gondrongnya karena di tegur oleh Gilang.


"Lihat pak Guntur, ganteng banget, semoga saja belum punya gebetan"


"Kalau kamu berani ungkapin perasaanmu sekarang juga, aku acungi jempol deh, kalau kamu"


"Males aku ngungkapin cinta sama dia, takut ditolak. Bagiku cinta tidak harus memiliki namun cukup hanya dengan menikmati"


"Ada apa mas memanggilku," tanya Guntur saat sampai didalam ruang kerja kakak iparnya. Gilang mengajak Guntur duduk untuk membicarakan pekerjaan.


"Begini tur pak Antonio yang akan bekerja sama dengan kita dalam hal ekspor produksi porang ke Cina. Dia akan menugaskan adiknya untuk berkantor disini namanya Antinia, jadi kamu siapkan ruangan untuknya dan juga sebuah rumah untuk tempat tinggal dia. Kamu kan tahu ini desa, tidak ada apartemen yang disewakan apalagi hotel. Jadi ya kita harus siapkan tempat tinggal, sebagai fasilitas dari kita. Untuk selanjutnya kamu aku pindahkan menangani bagian ekspor bekerjasama dengan Antinia.


Pekerjaanmu biar Dewi yang gantikan, aku lihat dia kerjanya bagus. Kita akan promosikan dia," ujar Gilang.


"Kenapa Dewi mas, kalau dia berarti aku harus trening dia dulu, kenapa bukan Deni saja yang menggantikanku dan Dewi yang menggantikan Deni jadi asisten merangkap sekertaris mas Gilang"


Guntur protes dengan keputusan Gilang yang menurutnya tidak tepat.


"Aku tidak mau punya sekertaris perempuan, aku kan harus menjaga perasaan Sekar, takut dia cemburu"


"Mas-mas sampai segitu takutnya sama istri, harusnya mbak Sekar mengerti dengan pekerjaan suaminya, cemburu aja yang diutamakan. Mas Gilang apa engga risih kalau istrinya sedikit-sedikit cemburu. Sedikit takut sama istri"

__ADS_1


Gilang menatap Guntur, dia langsung memberi penjelasan pada adik iparnya. Dia bukannya takut kepada istri cuma tidak mau melawannya karena takut menyakiti hati Sekar karena rasa sayangnya yang begitu besar.


"Kalau kamu sudah menikah kamu akan tahu rasanya. Bagaimana rasanya ingin selalu membuatnya tersenyum sepanjang hari karena senyum istri adalah bahagianya, senyum istri merupakan kekuatan tebesar untuk menghadapi kerasnya hidup.


Rasa takut istrinya sedih dan menangis, karena air matanya adalah sebagai bukti kalau ia telah gagal menjadi suami yang baik, gagal menjadi pelindung bagi istrinya. Apalagi bagi seorang ibu yang punya bayi masih menyusui, kesedihannya membuat asinya seret, tidak lancar dan bahkan bisa berhenti sama sekali," ujar Gilang.


"Ternyata berat juga ya jadi suami, aku jadi enggan menikah cepat mas, rasanya kok belum siap"


Ucapan Gilang membuat Guntur berfikir jika menikah membuatnya terikat dan tidak bebas. Gilang malah tertawa mendengar ucapan adik iparnya. Dia memaklumi karena lelaki dihadapannya belum pernah mengalami jatuh cinta seperti dirinya.


Bagi Gilang menikah memang membuat kita terikat tanggung jawab dalam segala hal, soal hati yang harus menjaga hati istri agar jangan sampai tersakiti juga soal materi, bekerja keras agar wanita yang dicintainya selalu berkecukupan secara materi. Namun dibalik itu semua, ada kebahagiaan yang luar biasa yang hadir di dalam pernikahan. Bahkan kebahagiaan yang kita peroleh jauh lebih besar bila di banding pengorbanan kita untuk meraihnya.


"Nanti kalau kamu sudah jatuh cinta kamu akan tahu rasannya"


Guntur tersenyum mengejek, namun Gilang seperti tak perduli.


"Masih ada waktu seminggu bagimu untuk mengajari Dewi agar menguasai pekerjaanmu," ujar Gilang tanpa kompromi, dan tidak mau tahu, baginya Guntur harus digembleng untuk menguasai semua pekerjaan diperusahaan, agar jika berhalangan ada Guntur dan Deni yang bisa diandalkan.


"Iya mas, tapi rumah dinas telah terisi semua, kemarin ada beberapa karyawan bagian panen yang menempatinya.


Gilang berfikir sejenak, kira-kira di mana Antinia harus tinggal, tak ada rumah penduduk yang kosong yang bisa ditempati.


"Biar dia tinggal dirumahmu saja"


"Apaaaa?"


Spontan Guntur berbicara dengan suara keras. Tak mengerti jalan fikiran kakak iparnya.


"Tinggal dirumahmu, kamu tinggal dirumah bapak dan ibu, lagian kamu juga kalo mau makan selalu kesana"


"Ohhh...aku kira kakak ingin aku tinggal satu rumah dengan bule itu, soalnya diluar negeri kan itu biasa, he...he...itu cuma harapanku sih"

__ADS_1


******


__ADS_2