
Hari-hari Sitah jalani dengan tulus dan rasa syukur. Kini dia rajin mengikuti tauziyah dan pengajian dimasjid dekat kontrakannya. Seminggu sekali dia pergi kemajelis dimana Gadingpun selalu hadir disana.
"Allhamdulillah, ternyata kamu rajin juga pergi kesini Sitah. Semoga selalu istiqomah dan semoga dosa-dosa kita diampuni Allah. Aamiin," Gading langsung mengakhiri sederet doa yang dia lantumkan untuk Sitah dan juga dirinya sendiri dengan kata Aamin. Begitupun Sitah, dengan gugup dan salah tingkah mengaminkan doa Gading.
Bekerja dalam satu devisi dan sering bertemu di majelis ta'lim setiap minggu membuat hubungan Gading dan Sitah semakin dekat.
Sitah sering ke kantor dengan membawa masakan untuk Gading, begitu pun Gading yang selalu membantu Sitah yang masih belum berpengalaman dalam bidang marketing.
"Kamu merasa nyaman-nyaman saja kan Sitah bekerja di devisi ini, soalnya kan ini bukan bidangmu, kamu kuliah jurusan sekertaris. Kalau ada kesulitan kamu bisa tanya sama aku," ujar Gading saat mereka makan dikantin dalam satu meja.
"Iya aku senang kok mempelajari hal baru. Aku bersyukur pak Soko memutasikan aku dibagian marketing. Andai aku masih menjadi sekertaris pak Soko mungkin aku akan terus tidak nyaman dengan beliau. Beliau juga kan pasti akan terganggu dengan kehadiranku, akhirnya bekerja jadi tidak nyaman. Selain itu aku juga takut kalau bunda Reni terus-terusan curiga padaku, pasti hari-harinya tidak tenang.
Kenapa aku dulu tidak berfikir sejauh itu ya, sungguh aku benar-benar menyesal, rasanya aku malu dan jijik sendiri kalau ingat apa yang telah aku lakukan"
"he...he..namanya juga penyesalan,pasti datangnya belakangan kalau yang duluan namanya pendaftaran, katanya!"
Gading menimpali sembari tertawa, Sitahpun ikut terkekeh mendengar ucapan Gading. Gading tak bosan-bosannya menasehati sitah, Agar dia tidak perlu menyesali dan meratapi apa yang terjadi. Karena masa lalu yang pahit memberi kita pelajaran agar kita semakin matang dan dewasa.
Orang yang pernah melakukan kesalahan hingga menimbulkan dosa besar dan berakibat fatal dalam dirinya akan selalu berhati-hati dan waspada dalam menjalani hidup karena tak ingin mengulangi kesalaham itu kembali. Beda dengan orang yang jalannya selalu mulus tanpa hambatan, dia sering ceroboh dan tidak hati-hati dan bisa saja hal itu akan membuat dia celaka atau melakukan kesalahan Fatal yang berakibat buruk pada orang lain dan juga dirinya sendiri.
Saat mereka sedang berbincang renyah, pak Soko melintas dengan beberapa menejer divisi, rupanya mereka akan makan bersama.
Saat tak sengaja Sitah bersitatap dengan pak Soko, Sitah mencoba tersenyum ramah, namun pak Soko justru membuang pandangannya kearah lain. Dia tak mau melihat wajah Sitah.
__ADS_1
"Kelihatannya pak Soko belum bisa memaafkan aku, kadang aku selalu dikejar-kejar rasa bersalah. Waktu dirumah Sakit pak Soko belum memaafkanku"
Sitah menceritakan beban beratnya kepada Gading.
"Coba kamu datangi kerumah, kamu baiki istrinya, minta tolong istrinya untuk meminta maaf pada suaminya. Biasanya lelaki hatinya akan selalu melunak didepan wanita yang dicintainya"
Gading memberikan Saran pada Sitah seraya mengakhiri santap siang hari ini. Sore ini sepulang kerja, Sitah dengan diantar oleh Gading menuju rumah pak Soko. Gading melajukan kendaraannya lebih cepat dari biasanya. Berharap Sitah bisa bertemu bunda Reni terlebih dahulu, agar bisa bicara baik-baik dari hati ke hati.
Sampai dirumah bunda Reni, keduanya sangat bersyukur karena menurut informasi satpam. Pak Soko belum pulang. Gading menunggu dipos satpam sedangkan Sitah diantar oleh asisten meneruskan langkahnya menuju ruang makan wanita kaya itu, satpam sudah menghubungi bunda Reni dan menurutnya beliau menunggunya diruang makan.
"Assallamu Allaikum bunda," Sapa Sitah, mendekati bunda, menyalaminya dan duduk tepat dihadapannya.
"Wa allaikum salam, ayo duduk, bagaimana keadaanmu nak, kamu harus selalu positif tingking, bahwa dalam setiap pengalaman pahit yang kita alami pasti ada hikmah di dalamnya. Sekarang kamu belum menyadari tapi suatu saat kamu akan menyadari kalau semua akan indah pada waktunya.
Dengan di dera rasa bersalah yang besar dan tiada berujung. Sitah mengutarakan maksud kedatangannya, mengharap maaf dari pak Soko dari lubuk hatinya yang paling dalam. Agar perjalanannya menuju pintu taubat diberi kelancaran, tanpa ada hambatan yang membuatnya kembali kepada masa lalu yang jahiliyah.
"Teruslah menata diri menjadi lebih baik, bunda doakan semoga kamu cepat mendapatkan jodoh lelaki yang mau menerimamu apa adanya, lelaki yang mampu menjadi imam di rumah tanggamu agar bisa membimbingmu menjadi wanita solehah yang taat kepada Allah hingga mendapatkan jalan terbaik menuju surganya.
"Assallamu allaikum, ada tamu rupanya"
Pak Soko datang mengucap salam dan menyapa tamunya yang belum dia ketahui karena duduk membelakanginya.
"Wa allaikum sallam ayah, ini Sitah dia datang sangat mengharap maafmu agar perjalanannya menuju pintu taubat bisa dilancarkan,"
__ADS_1
Bunda Reni langsung beranjak dan berdiri menyambut kedatangan lelaki terkasihnya. Mencium punggung tangannya dengan takzim. Pak Soko pun mengecup keningnya dan menatapnya dengan binar penuh cinta. Setelahnya bunda Reni memberi tahu maksud kedatangan tamunya yang tak pernah diundang.
"Masih mau bersandiwara lagi kamu Sitah, lebih baik kamu pulang saja. Setelah aku menelpon Gilang dan bermusyawarah dengannya kami sepakat, tak ada maaf untuk wanita sepertimu"
"masss...."
Bunda Reni menepuk bahu suaminya dengan lembut, mencoba untuk menenangkannya.
"Kali ini saya serius pak, saya sudah tobat, saya sadar semakin dalam kita berusaha menyakiti orang lain, hasilnya bukan orang yang saya sakiti yang hancur tapi justru saya sendiri yang hancur, saya sadar itu pak," ucap Sitah sembari terisak.
"Kamu tidak perlu banyak bicara, apapun yang kamu ucapkan takkan merubah pendirianku, tidak ada maaf untuk anak haram sepertimu yang lahir dari rahim seorang wanita penghibur"
Bagai suara petir disiang bolong, ucapan pak Soko telah membuat hatinya bergetar, benarkah yang diucapkan pak Soko kalau dia anak haram dan ibunya wanita penghibur.
"Pak...bapak jangan sembarangan memfitnah saya"
Disisa-sisa pertahanannya menahan tangis, dengan suara bergetar, Sitah berusaha mengucapkan serangkai kalimat pembelaan bahwa ucapan pak Soko salah besar tentang masa lalunya.
Tanpa belas kasian dan sambil tersenyum mengejek pak Soko menceritakan masa lalu bu Tarni secara detail tanpa ada yang tertinggal, karena memang dia adalah saksi hidup masa lalu bu Tarni, yang mengetahui semua rahasianya.
"Pak Giman itu ayah tirimu, dia yang menyelamatkan bu Tarni dari aib yang besar, dia ayah yang baik dan sangat sayang sama kamu Sitah. Dia juga suami yang baik untuk ibumu. Namun sayang kalian tidak pernah menghargai jerih payah perjuangannya. Kalian cuma sibuk dengan rencana-rencana jahat kalian ysng tanpa sadar ada hati yang selalu terluka dan terabaikan. Semoga saja sekarang pak Giman bahagia dengan jalan hidup yang dia pilih.
********
__ADS_1