
Deni yang telah seminggu menghabiskan cutinya dirumah bidan Enjela akhirnya pindah kerumah dinas kembali beserta istri tercintanya.
"Rumah dinasnya lumayan luas, semoga kamu kerasan tinggal disini nak," ujar mama bidan Enjela.
Kedua orang tua bidan Enjela ikut serta mengantarkan anak dan menantunya pindah kerumah dinas. Berbagai perabotan rumah tangga dibawakan oleh kedua orang tua bidan Enjela untuk mengisi rumah dinas Deni yang isinya hanya peralatan seadanya.
"Ibu bawakan alat pemanas nasi dan lauk, ini ibu juga bawakan, panci presto dan peralatan dapur lainnya. Kalian kalau perlu perabot rumah tangga lagi ambil saja dirumah tidak usah beli", ujar ibu mertua Deni.
Sebelum pulang orangtua Enjelapun menyempatkan diri berkunjung kerumah Gilang. Tentu saja dengan ditemani oleh Deni dan istrinya.
"Wah pengantin baru, tambah gagah kamu Den, sepertinya lebih terawat"
Gilang menyambut kedatangan asisten sekaligus sahabatnya dengan senang hati.
"Mama dan papa Enjela ikut juga, bagaimana pak, bu, suasana disini menurut bapak dan ibu" sapa bunda Reni yang baru duduk disebelah mama Enjela.
"Iya ikut, pengin lihat suasana disini, ternyata suasananya sangat nyaman dan sejuk, sesejuk wajah pendiri perusahaan porang," ujar papa Enjela sambil melirik kearah Gilang.
Gilang hanya tersenyum mendengar sanjungan papa Enjela.
"Semoga sanjungan bapak tidak membuat saya besar kepala dan sombong pak, karena sesungguhnya sanjungan dan pujian adalah ujian yang bisa membuat kita terlena"
"Wah betul itu pak Gilang, tapi apa yang saya ucapkan benar adanya, bukan sekedar pujian"
Semua tersenyum dan duduk diruang tamu dengan suguhan kopi susu hangat dan pisang goreng hangat.
"Ayo silakan diminum pak bu, ini pisangnya hasil tanaman sendiri, nebang dibelakang rumah"
Bunda Reni mengambil secangkir kopi susu dan sepotong pisang goreng dan tak lupa mengajak yang lain.
"Ini suguhannnya pas dengan cuaca hari ini mendung. Akhir-akhir ini banyak hujan yah, pas juga buat yang mau jadi pengantin"
__ADS_1
Mama Enjela berkomentar, manik hitamnya menatap kepada Bunda Reni sambil berkedip.
"Katanya bunda mau nyusul Enjela, kapan ini acaranya"
"Baru mau lamaran dulu bu, nunggu keputusan dari keluarga. Walaupun pernikahan kedua kan juga harus dibuat spesial biar pengantinnya serasa muda kembali," seloroh Gilang.
Bunda Reni langsung menarik rambut Gilang yang duduk disampingnya. Namun sang anak seperti tak perduli. Mereka terus berbincang ringan hingga beberapa jam.
Tiba saatnya pamit pulang, mama Enjela memeluk bunda Reni, mereka sudah sangat akrab seperti teman lama.
"Semoga niat baikmu untuk membina rumah tangga kembali diberi kelancaran oleh yang Tuhan Yang Maha Kuasa bunda. Semoga kelak rumah tangganya samawa dan menjadi pernikahan terakhir"
Dua ibu seumuran itu saling berpelukan. Pak Gilang dan Papa Enjela juga terlihat akrab walau mereka terlahir beda generasi. Terkadang mereka saling ledek dan saling canda seperti sahabat lama.
Setelah beberapa meter meninggalkan rumah Gilang, rombongan mertua dan menantu itu berpapasan dengan seorang wanita berkulit eksotis dan baju kekurangan bahan.
"Mau kemana kamu Sitah?"
Deni menyetop sitah dan menyapa dengan sebuah pertanyaan. Deni memang sudah sering mengawasi.gerak-gerik Sitah yang menyukai Gilang dan berniat masuk kedalam rumah tangganya.
"Kamu mau melamar jadi Sekertari lagi sama pak Gilang," ujar Deni to the point, membuat Sitah menautkan kedua alisnya. Dia memang sering kesal sama Deni karena Deni sering kali menghalanginya saat dia mendekati Gilang.
"Kalau ia memang kenapa ada masalah buat kamu. Kamu kenapa sih selalu ikut campur urusanku untuk dekat dengan bosmu"
Sitah sangat kesal dengan tingkah Deni yang selalu ikut campur jika menyangkut usahanya mendekati Gilang.
"Sebaiknya kamu pulang saja, Gilang tidak mau punya sekertaris perempuan, dia sudah ada Guntur yang merangkap tugasnya sebagai sekertaris. Aku tahu kamu hanya mencari perhatian untuk menggoda pria beristri"
Terjadi adu mulut antara Deni dan Sitah. Deni terus mengingatkan agar Sitah mencari pria lajang saja, jika ingin mencari pasangan hidup, jangan menjadi orang kedua dalam pernikahan orang lain, kasian Sekar dia sedang hamil dan Gilang juga sudah pasti takkan tertarik padanya. Jadi sia-sia saja segala upaya dan usahanya, bahkan malah bisa mengancam karirnya. Sudah enak dia punya pekerjaan tidak jauh dari rumah tidak harus berpisah dari ibunya.
Sitah terus bersikeras ingin melamar jadi sekertaris kerumah Gilang, baginya itu adalah sebuah perjuangan untuk mendapatkan jodoh lelaki great A versi dirinya. Gilang memang sudah beristri, tapi bukankah poligami itu diperbolehkan. Jika Sekar memang paham agama, seharusnya dia akan menijinkan suaminya menikah lagi dengannya, itu menurut Sitah.
__ADS_1
"Sudahlah Deni, kamu tak perlu menghalangi langkahku dalam usahaku mendapatkan jodoh lelaki terbaik. Atau aku akan berteriak kalau kita ada hubungan gelap, agar istri dan mertuamu yang sedang menunggu, tahunya kita pasangan kekasih"
Mendengar ancaman Sitah akhirnya Deni tak lagi menghalangi langkahnya menemui Gilang. Deni juga harus menjaga keutuhan rumah tangganya. Dia cuma bisa berdoa, semoga rumah tangga bos sekaligus sahabatnya senantiasa terjaga.
"Ayo pa, ma, kita pulang saja," ucap Deni tangannya langsung merangkul istrinya. Sepanjang jalan pulang diapun menceritakan bagaimana prilaku Sitah yang terus mendekati Gilang, ingin menjadi istri keduanya. Baginya Gilang adalah jodoh terbaiknya.
"Kamu harus hati-hati nak, perempuan seperti dia bisa berbuat apa saja, untuk mendapatkan keinginannya," ujar mama Enjela.
"Termasuk menjebakmu juga agar rumah tanggamu hancur karena kamu terus menghalangi niat buruknya," papa Enjela menimpali.
orang tua Enjela pun mendoakan semoga anak dan menantunya tidak terhasut omongan orang yang berniat buruk pada kebagiaan pernikahannya.
Sementara itu Gilang menerima kedatangan Sitah dengan hati heran, dia mempersilakan Sitah untuk menunggunya diruang tamu, sedangkan dia memanggil istrinya untuk menemuinya.
"Dia kan karyawan kakak, kenapa mesti Sekar yang harus menemuinya"
"Kamu yang bilang, Sitah seperti apa, aku malas melihat gaya pakaiannya yang tidak sopan, kamu sajalah temui dia"
Sekar melangkah keruang tamu menemui Sitah. Sedangkan Gilang mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu.
"Ada perlu apa kamu bertamu kesini Sitah, kalau ada keperluan pekerjaan sebaiknya temui kak Gilang dikantor saja"
"Aku mau ketemu pak Gilang bu Sekar, tadi kemana pak Gilangmya"
"Oh dia mau tidur, dia nyuruh aku nemui kamu, katanya kalau ada keperluan suruh sampaikan ke aku aja," ujar Sekar dia mendudukan tubuhnya secara perlahan sambil memegangi perutnya yang besar.
"Tapi ini urusan kantor, ibu kan cuma ibu rumah tangga, tak mungkin mengerti urusan orang kantoran seperti kami," Seloroh Sitah.
Kedua alis Sekar saling bertautan mendengar ucapan sarkas Sitah.
"Suamiku lebih tau bagaimana aku, kalau dia menyuruh aku demikian berarti aku dianggap mengerti. Kalau kamu keberatan menyampaikan ke aku ya sebaiknya kumu pulang saja"
__ADS_1
"Aduuuh" Gilang yang berdiri dibalik pintu tiba-tiba hampir kejatuhan cicak. Karena sudah ketahuan oleh Sitah kalau dia sembunyi dibalik pintu. Akhirnya dia pun datang menghampiri Sitah dan Istrinya.
*******