
"Bapak sudah jadi seorang kakek, cucu bapak laki-laki"
Pak Hadi mengurai pelukannya, diapun mendekati Gilang dan menggendong cucunya yang ada dalam dekapan Gilang.
"Ternyata cucuku tampan sekali, ini perpaduan Sekar dan Gilang, lihatlah hidungnya mancung seperti Gilang dan tatapannya lembut seperti ibunya"
Pak Hadi mencium cucunya dengan gemas, bayi dalam gendongannya pun menggeliat seolah dia tahu kalau dia berada diantara orang-orang yang menyayanginya.
"Kalian kasih nama siapa, anak kalian?," tanya pak Hadi.
Sekar langsung menatap suaminya, meminta Gilang menjawab pertanyaan bapaknya.
"Namanya Elang Perkasa pak," jawab Gilang sambil mendekat dan membelai rambut putranya.
"Elang Perkasa nama yang sangat bagus"
Kringgg!
Kringgg!
Ponsel Gilang berbunyi, diapun langsung mengangkatnya.
"Bunda...Gilang kangen bunda, lihatlah bunda Gilang sudah jadi ayah, anak Gilang sangat tampan bunda"
Tanpa mengucap salam, Gilang langsung menceritakan bahwa dirinya telah menjadi orang tua. Sekar langsung melirik pak Hadi seraya tersenyum.
"Selamat ya, bunda sangat bangga dengan pencapaianmu saat ini,
Mempunyai prestasi bagus, disekolah, dikampus bahkan dalam berkarir bagi Gilang itu sudah biasa. Begitupun bagi bundanya. Gilang terlahir sebagai lelaki yang cerdas, segudang prestasi pernah dia raih, tapi menjadi seorang ayah dan memberikan cucu pada sang bunda adalah satu hal yang telah dinanti sejak lama.
"Bagaimana rasanya menjadi ibu Sekar?"
Bunda Reni yang sedang vidio call memandang ke arah Sekar yang tampak tersenyum dilayar hand phond.
"Sekar bahagia bunda, lagi belajar menyusui, air susunya sudah keluar tapi Elang belum begitu pintar menghisapnya, kalah sama abinya"
Mereka serentak tertawa mendengar candaan Sekar yang jarang bercanda namun sekali bercanda membuat semuanya tertawa.
"Bunda mau dong lihat cucu bunda"
__ADS_1
Gilang segera mengarahkan kameranya kewajah dan tubuh putranya.
"Ganteng banget yah cucu kita," ujar bunda Reni pada suaminya yang duduk disampingnya.
"Betul bunda wajahnya terlihat berwibawa, dia pasti akan piaway mengurus perusahaan. Dia akan menjadi pewaris di di perusahaan perkebunan porang dan Reni Baskara Grup," ujar pak Soko.
"Dia akan menjadi penerus perusahaan perkebunan porang, kalau Reni Baskara Grup biarkan Sarah dan Hawa yang akan meneruskan," sahut Gilang.
Pak Soko langsung mengungkapkan pendapatnya, Jika anak Gilang lebih berhak mewarisi Reni Baskara Grup sebagai keturunan langsung pendiri perusahaan. Sedangkan Sarah dan Hawa tidak punya hak atas perusahaan itu, jadi dia cukup mempunyai pekerjaan yang layak dan pendidikan yang tinggi. Baginya itu sudah luar biasa, mereka harus tahu diri.
"Bunda, dede bayinya namanya siapa?"
Sarah yang ada dibelakang pak Soko pun bertanya. Gilang langsung menjawab kalau namanya Elang Perkasa. Setelah berbicara panjang lebar, mereka pun mengakhiri panggilannya.
Sudah empat hari mereka dirumah sakit. Hari ini rencananya Gilang dan Sekar akan pulang. Gilang sedang mengurus administrasi, sementara Sekar duduk menunggu sambil memangku Elang yang tertidur pulas.
Sementara itu, bu Asih dan pak Hadi hanya menginap satu malam saja dipuskesmas. karena dia melahirkan normal maka dokter mengijinkannya pulang.
Sejak kelahiran adiknya, Guntur setiap malam menginap dirumah pak Hadi. Saat akan berangkat kerja dan pulang keja dia selalu menyempatkan menimang Langit adik yang sangat dia sayangi.
"Guntur, hari ini mbakmu datang, nanti antar ibu kerumah Sekar ya. Ibu pengin lihat cucu"
"Ibu harus hati-hati ya bu, jangan pecicilan kesana kemari banyak gerak. Ibu cukup duduk manis menemani putri kita, ingat ya ibu baru saja melahirkan"
Pak Hadi terus mengingatkan istrinya. Karena bu Asih terkadang bandel. Setelah bersiap-siap, akhirnya bu Asih sambil menggendong langit masuk kemobil yang akan menuju kerumah Sekar.
"Tunggu bu, bapak ikut saja, bapak khawatir, takut ibu makan yang aneh-aneh" ujar pak Hadi yang langsung masuk kemobil setelah mengunci semua pintu rumahnya. Dia duduk tepat disebelah bu Asih yang memangku Langit.
Hanya perlu waktu beberapa menit mereka sudah sampai dirumah Gilang. Ternyata nenek Leni sudah disana. Wanita renta itu pun sedang menunggu kedatangan Gilang sekeluarga.
"Alhamdullilah Asih, ternyata Tuhan masih berkenan memberimu momongan" Nenek Leni yang sudah datang dari tadi menyambut kedatangan bu Asih dengan gembira. Dia menggendong Langit dengan penuh kasih. Tangan keriputnya terus membelai kepala bayi dalam gendongannya.
"Kalian kok bisa kompakan gitu sama Sekar, hamilnya bareng dan melahirkan dihari yang sama" Nenek Leni terkekeh.
Tak berapa lama kemudian, terdengar deru mobil dan berhenti dicarport rumah Gilang.
"Itu pasti Elang dan Sekar yang datang" Pak Hadi berlari keluar sambil membawa sebuah payung. Cuaca sangat terik, Sekar keluar dari mobil sambil menggendong Elang yang tertidur pulas. Sedangkan pak Hadi langsung mendekat, menyambut Sekar dengan memayungi tubuh Sekar dan putranya.
"Ganteng banget cucuku, perpaduan wajah Gilang dan Sekar." ujar bu Asih.
__ADS_1
"Tapi sepertinya lebih dominan mas Gilang, pasti pas membuat mas Gilang lebih semangat "
Guntur yang dari tadi diam saja mendadak berkomentar setelah melihat wajah Elang.
"Kamu ini kaya tahu aja cara buatnya tur-tur...."
Bu Asih menimpali sembari menapak bahu Guntur.
"Kalau Langit mirip siapa," Sekar mendatangi nenek Leni dan memandang wajah Langit adik laki-laki yang usianya sama dengan putranya.
"He...he...wajahnya sebelas dua belas sama Guntur," ucap Sekar bola matanya melirik Guntur.
"Tentu dong, adik tersayangnya Guntur," sahut Guntur.
"Berarti bapak dan ibu bikinnya enggak kreatif, soalnya hasilnya gitu-gitu juga"
Tawa mereka pecah mendengar ucapan Sekar. Semenjak menikah dengan Gilang, sifat Sekar cenderung lebih santai. Bahkan terkadang terlihat sangat konyol mengikuti gaya suaminya yang sika bercanda.
Saat asyik ngobrol santai, Sebuah mobil mewah masuk kehalaman rumah Gilang. Semua pandangan mengarah pada tamu yang masih ada dihalaman.
"Bundaaa.....:
Setelah mengamati selama beberapa saat. Akhirnya Sekar dan Gilang menyadari kalau tamu yang datang adalah bunda Reni .
"Hallo sayang, bunda sengaja datang tanpa memberi kabar, biar jadi kejutan buat kalian"
Bunda Reni melepaskan pegangannya dilengan pak Soko. Dia memeluk Sekar. Sementara pak Soko ikut bergabung dengan pak Hadi dan para lelaki lainnya.
"Selamat Ya Sayang, sekarang kamu sudah jadi ibu"
"Terimakasih bunda"
"Sama-sama nak"
Bunda Reni berganti memeluk bu Asih. Terimakasih karena sudah menjadi besan yang baik buat aku, terimakasih sudah menjadi mertua yang baik buat Gilang.
"Aduh cucu oma Ganteng banget, pinter juga ya abi dan umi membuatnya"
Bunda Reni mengambil Elang yang yang tertidur pulas dipanggkuan nenek Leni. Setelah berbincang-bincang sejenak. Mereka pun langsung melakukan musyawarah untuk mengadakan acara tasmiyah dan aqiqah. Acara tersebut akan dilaksanakan seminggu lagi. Acara Elang dan Langit langsung diadakan bersama.
__ADS_1
*******