Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 6. Cincin Kawin


__ADS_3

Gilang mengemudikan mobil mewahnya dengan kecepatan sedang. Bunga-bunga bertebaran menghiasi setiap ruang dihatinya hingga kebagian celah tersempit sekalipun.


Syair-syair cinta terus ia nyanyikan dalam setiap jengkal perjalanan menuju kediamannya. Hati yang dulu selalu terselimuti mendung kini terlihat cerah bagai sorot cahaya bulan disaat malam.


"Ngapain kamu senyam senyum sendiri Gilang, kesurupan!!," ucap bunda Reni wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya.


"Eh, ada bunda, bunda ngapain duduk diruang tamu sendirian gelap-gelapan, apa lagi nunggu babi ngepet!!, ucap Gilang sekenanya sambil berlalu masuk kedalam kamarnya.


"Seenaknya saja kamu ngomongnya,"ucap bunda Reni sambil memandang Gilang yang berlalu meninggalkannya.


"Anakku sekarang terlihat sangat bahagia setelah aku bilang akan merestui hubungannya dengan Sekar. Lama sudah aku tidak mendengar kelakarnya. Selama dia menjalin hubungan dengan Sekar dan aku menentangnya. Aku sering kali menyaksikan dia dalam keadaan murung. Cintanya pada perempuan miskin itu telah merenggut kebahagiaannya,"batin bunda Reni.


sebagai seorang ibu, bunda Reni tentu akan sangat bahagia, bila melihat anaknya bahagia. Namun kebahagiaan yang diinginkan bunda Reni tentu saja kebahagiaan jangka panjang bukan kebahagiaan yang sifatnya sementara. Sampai hari ini bunda Reni tidak yakin, kalau Sekar akan mencintai Gilang dengan sepenuh hati. Menurut bunda Reni Sekar mencintai Gilang karena melihat harta Gilang yang berlimpah. Seandainya suatu saat Gilang bangkrut tentu saja Sekar adalah orang yang pertama pergi meninggalkannya.


Sayup-sayup suara azan subuh membangunkan Gilang yang tengah terlelap dibalik selimutnya yang tebal. Dia ingat, hari ini rencananya akan mengajak Sekar membeli sepasang cincin kawin. Segera dia singkap selimut yang menutup tubuhnya hingga sebatas leher. Bergegas dia mandi kemudian mengerjakan kewajiban menjalankan shalat subuh.


Gilang keluar kamar dengan pakaian kerja seperti biasanya, menuju kemeja makan menghampiri sang bunda yang tengah bersantai sambil menyantap beberapa potong roti. Sementara tangannya sibuk dengan gawainya berselancar dimedia sosial. Sambil sesekali menonton tik tok.


"Inikan masih sangat pagi Gilang, ngapain pergi ke kantor, paling satpam yang membuka gerbang kantor juga belum datang, mending ke kantornya nanti aja, lawan bunda main catur dulu ya," ucap bunda Reni.


Catur memang permainan yang sangat digemari oleh bunda Reni sejak dulu. Sudah menjadi kebiasaan, jika bunda marah kepada Gilang karena tingkah konyol Gilang, maka Gilang akan mengajak bunda bermain catur untuk mereda kemarahannya.


"Maaf banget ya bunda sayang, kali ini Gilang tidak bisa menemani bunda bermain catur. Rencananya Gilang akan menyelesaikan tugas kantor lebih awal. Karena nanti agak siang Gilang akan mengajak Sekar untuk membeli cincin kawin.

__ADS_1


"Serius kamu mau menikah secepatnya, menjadi suami bukanlah perkara mudah Gilang, jangan sampai kamu menyesal setelah menikah nanti," nasihat bunda.


"Iya sih bunda, banyak teman-teman Gilang yang menyesal setelah menikah," ucap Gilang dengan wajah tanpa ekspresi.


"Ya itu kamu tau, seharusnya kamu berkaca dari teman-teman kamu, berpikir baik-baik sebelum memutuskan untuk menikahi anak orang,"ucap bunda Reni bersungut-sungut.


"karena Gilang sudah memikirkan masak-masak makanya Gilang mempercepat acara pernikahan Gilang. karena rata-rata teman Gilang yang sudah menikah menyesal kenapa tidak menikah dari dulu. kata teman-teman Gilang menikah itu enak luar biasa, " ucap Gilang sambil memindahkan nasi goreng dan telur ceplok buatan bunda kedalaman piring yang ada dihadapannya dan kemudian menyuapnya.


"Gilang-gilang," seketika mata bundanya melotot, hampir saja ponsel yang ada ditangannya dilemparkan ke wajah Gilang, namun beliau sempat menahan emosinya.


"Bunda, Gilang berangkat dulu, bunda sehat-sehat ya dirumah," setelah selesai makan, Gilang langsung pamit untuk pergi bekerja, dia mencium punggung tangan bundanya kemudian mencium kening bundanya berkali-kali karena dia tau bundanya sangat kesal dengan ucapannya.


Sampai di depan gerbang kantornya dia membuka sendiri gerbangnya. Karena memang hari masih sangat pagi sehingga satpam penjaga gerbang kantor belum datang. kemarin dia Sengaja meminjam kunci duplikat gerbang pada satpam agar bisa berangkat pagi tanpa harus merepotkan satpam yang bertugas.


Usai membuka gerbang dan memarkirkan mobilnya ditempat biasa, Gilang langsung menutup kembali pintu gerbangnya.


"Sepi sekali, sebaiknya aku buka saja hordennya biar sinar matahari masuk kedalam, takutnya ada penampakan, bukankah hantu takut pada sinar matahari," batin Gilang sembari melangkah menuju deretan gorden yang menutup dinding kaca. Dengan perlahan dan satu persatu Gilang membuka semua gorden diruang kerjanya.


Tepat jam tujuh tiga puluh, para karyawan mulai berdatangan. Sementara separuh dari pekerjaan Gilang telah di kerjakan.


"Bapak berangkat jam berapa, kok jam segini kerjaan bapak sudah banyak yang diselesaikan," Resni bertanya, sepertinya dia sangat penasaran


"Jam enam, aku bawa kunci dullikat gerbang, jadi bisa masuk sendiri," ucap Gilang sambil memperlihatkan sebuah kunci duplikat.

__ADS_1


Tepat pukul sembilan pagi, pekerjaan telah selesai, Gilang segera pamit kepada Resni bahwa dia ingin keluar sebentar karena ada janji dengan seseorang. Resni pun hanya menjawab dengan senyuman seraya mengangguk hormat kepada Gilang.


Gilang segera keluar dari kantor menuju keparkiran lalu melajukan mobilnya menuju ke kediaman Sekar.


Sampai dirumah Sekar, ternyata Sekar telah siap. Dia memakai celana kulot dengan atas hem bermotif bunga-bunga.


"Maaf ya Sekar aku membuatmu menunggu lama," ucap Gilang pada Sekar setelah dia memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Sekar.


"Aku juga baru saja selesai kok kak, kita akan langsung berangkat atau kakak mau minum dulu," ucap Sekar.


"lho ada nak Gilang, ayo mari nak Gilang silakan masuk, Sekar Gilangnya disuruh masuk dulu, sana kamu buatkan dia kopi dulu, " ujar pak Hadi yang tiba-tiba saja keluar dari kamarnya dengan hanya memakai sarung dan kaos oblong.


"Tidak pak saya justru mau izin mengajak Sekar untuk membeli cincin kawin," ucap Gilang sambil melangkah mendekati pak Hadi. pak Hadi pun mengijinkan Gilang dan Sekar untuk pergi membeli cincin kawin. Setelah mereka berdua menyalami pak Hadi dan mencium punggung tangannya mereka pun pergi meninggalkan rumah Sekar menuju pusat perbelanjaan.


Setelah gilang memarkirkan mobilnya, Gilang berjalan menuju toko perhiasan dimana biasanya dia mengantarkan bundanya membeli perhiasan. Tangannya terus menggenggam tangan Sekar seolah takut mereka akan terpisahkan.


"Selamat siang mas Gilang, mau beli perhiasan, silakan pilih saja mas," ucap pelayan toko perhiasan yang memang sudah mengenal Gilang dengan baik.


"Kami akan membeli cincin kawin, menurut kamu yang paling cocok untuk kami yang seperti apa," ucap Gilang sambil melihat kearah berbagai macam perhiasan yang ada dihadapannya.


"Untuk kalian sepertinya yang ini paling pas, ini kebetulan barangnya baru datang dan pengrajinnya hanya memproduksi beberapa saja, karena memang harganya yang sangat mahal, tidak sembarang orang mampu membelinya," ucap pelayan toko.


Gilang kemudian meminta Sekar untuk memilih, yang mana cincin yang ia sukai.

__ADS_1


"Terserah kak Gilang aja yang baik yang mana soalnya aku nggak ngerti tentang perhiasan," ucap Sekar. Gilang segera memilih perhiasan yang paling baik yang ada di toko tersebut. Gilang juga membeli beberapa set perhiasan untuk Sekar.


*******


__ADS_2