
Sudah beberapa minggu Gading terus mengamati hari-hari Sitah. Bahkan demi aksinya dia rela pindah dari apartemen mewah milik Gilang kekontrakan sederhana tepat disebelah kontrakan Sitah yang semula kosong. Baginya hal itu sama sekali tak masalah, karena Gading sejak kecil terbiasa hidup dipondok sederhana ditepi sungai dengan segala sesuatunya benar-benar seadanya.
Bukan hanya pindah tempat tinggal, Gading juga pindah dari devisi marketing agar tidak bertemu Sitah. Dengan tujuan ingin mengetahui apakah Sitah akan mencari laki-laki lain untuk menjadi pendampingnya, setelah hubungannya dengan Gading terkesan terombang-ambing tanpa arah dan tanpa tujuan.
Namun hingga sekian waktu yang telah dia lalui, Sitah terkesan santai-santai saja. Tak sekalipun dia lihat jalan bareng apalagi berhubungan dengan mahluk yang namanya laki-laki.
Dia juga tetap rajin kepengajian dan acara keagamaan lainnya. Hal inilah yang membuat Gading yakin jika Sitah telah benar-benar insaf dan bertaubat. Neneknya pun sudah mulai berusaha membuka hati untuk Sitah dan tak lagi membencinya seperti dulu.
Namun jika dia kembali meneruskan hubungannya dengan Sitah, dia takut dikira tak menghargai Gilang, orang yang sangat dia hargai dan hormati keberadaannya.
Hari ini Gading pulang keCipaganti, dia ingin menyampaikan hasil penyelidikannya pada Sitah.
Saat hendak memasuki halaman rumah nenek Leni dia melihat Guntur berjalan santai dari arah rumah Sekar.
"Hai Tur lama yah kita tidak bertemu, kamu kayanya tambah ganteng aja"
Gading menyapa Gilang, yang kini berjalan kearahnya. Sepertinya Guntur ingin main kerumahnya, mungkin kangen sama nenek Leni, atau malah kangen sama Gading karena mereka jarang sekali bertemu.
"Masuk Tur, mau cari nenek apa cari aku," sapa Gading pada Guntur"
"Ya ketemu kamulah, kalau sama nenek sudah sering ketemu saat main tempat mbak Sekar"
Mereka duduk Santai diteras setelah Gading memasukkan kopernya kedalam kamar dan berganti dengan pakaian santai
__ADS_1
"Dengar-dengar kamu lagi dekat sama Sitah. Pelakor yang ingin merebut suami mbakku dan bunda Reni, makanya hati-hati dengan hatimu, kalau bergaul jangan pakai perasaan. Susahkan kalau sampai jatuh cinta pada orang yang salah," ujar Guntur.
Gading langsung diam mendengar nasihat Guntur, ternyata Guntur, Gilang dan pak Soko sama saja, mereka sangat menutup diri tidak ingin tahu bagaimana perkembangan orang yang mereka benci. Sehingga dalam bayangan mereka Sitah tetaplah Sitah yang dulu mereka kenal, seorang pelakor bermulut pedas.
"Ya itu kan menurutmu, setiap orang kan punya pendapat yang berbeda tentang bagaimana menilai seseorang," jawab Gading.
"Ayo diminum kopinya, ini nenek gorengkan sukun, dicicipi ya tur, mumpung masih panas"
Nenek Leni menghampiri Gading dan Guntur yang sedang berbincang diteras rumahnya.
"Oh ya, Gading sebaiknya kamu minta pendapat Guntur tentang hubunganmu dengan Sitah, Supaya keputusan yang kamu ambil tidak membuatmu menyesal dikemudian hari"
Sebelum kembali kebelakang nenek Leni memberi saran pada cucunya. Gading pun menganggukkan kepala dan mengacungkan jempolnya tanda setuju.
Mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir Guntur yang terdengar bijaksana. Gading mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Sitah. Dimana Sitah begitu terpuruk pasca digagahi oleh beberapa preman saat mabuk berat.
Mulai dari situlah, Gading mencoba menasihati Sitah untuk bangkit dan bertaubat, minta ampun kepada Allah, menyesali perbuatannya, dan meminta maaf kepada orang-orang yang pernah dia sakiti.
Sitah mengikuti nasihat Gading, kini dia sedang gencar-gencarnya mengikuti pengajian dan beberapa acara keagamaan dibeberapa majelis ta'lim. Gadingpun kerap bertemu Sitah di acara keagamaan dan bahkan di kantor mereka bekerja dalam satu devisi yaitu devisi marketing. Hampir setiap hari Gading bertemu dan berkomunikasi dengan Sitah sehingga dia tahu bagaimana perubahan positif pada diri Sitah. Bahkan kini Sitah tak lagi memakai pakaian ketat dan kekurangan bahan. Sekarang dia lebih suka memakai pakaian longgar dan tertutup. Kini Sitah telah mengenakan kerudung untuk menutup aurat jika keluar dari kontrakannya. Saat ini Sitah tak lagi asal bicara dan bermulut pedas, dia lebih berhati-hati bila bicara karena takut ucapannya menyakiti hati orang lain.
Keseriusannya dalam memperbaiki diri itulah yang membuat Gaging semakin hari semakin dibuat kagum oleh Sitah. Sholatnya yang tepat waktu dan tidak pernah absen ditambah shalat sunat yang selalu dia kerjakan menambah nilai positif Gading terhadap Sitah.
"Oh jadi itu yang membuatmu jatuh cinta, tapi Sitah belum lama kan dia bertaubat. Kalau menurutku sih, kamu jangan terburu-buru memutuskannya, amati perubahan dia lebih lama lagj, takutnya dia hanya Pura-pura," saran Guntur. Seorang yang baru bertaubat memang terkadang imannya masih lemah sehingga bila mendapat ujian suka mengeluh dan gampang menyerah.
__ADS_1
Tapi jika terbukti dia telah sungguh-sungguh bertaubat dan Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Maka dia akan suci kembali tanpa dosa seperti bayi baru lahir. Kamu beruntung jika bisa memperistri wanita seperti ini. Karena dia akan sangat hati-hati agar jangan sampai terjerumus kedalam lembah dosa seperti dimasa lalu," ucap Guntur panjang lebar.
Gading mengangguk-anggukan kepala, dia merasa lega. Ucapan Guntur benar-benar telah memberikan pencerahan.
"Tapi mas Gilang, mbak Sekar, pak Soko, semua menentang keras hubungan kami. Mereka sama sekali tak percaya dengan perubahan pada diri Sitah. Apapun yang Sitah lakukan selalu salah dimata mereka," jawab Gading sembari menunduk mengingat kisah cintanya dengan Sitah yang penuh dengan perjuangan.
"Kalau nenek Leni bagaimana?," tanya Guntur.
"Awalnya nenek Leni juga menentang. Tapi saat Sitah datang kesini untuk meminta maaf. Nenek sudah melihat perubahan Sitah, hatinya mulai luluh. Nenek menyerahkan segala keputusan kepadaku. Asal mas Gilang, mbak Sekar, pak Soko dan kalian semua menyetujuinya"
"Terus hasil penyelidikanmu bagaimana ding"
"Sejauh ini baik, tapi aku masih ingin mengujinya lebih ektrim lagi, karena aku tahu yang membuat Sitah berambisi untuk merebut suami orang adalah uang.
Aku ingin tahu ketidak berdayaannya sampai dimana saat dikasih sebuah amplop warna coklat dengan tebal sekitar satu sentieter berisi lembaran uang berwarna merah," ujar Gading menjelaskan keinginannya.
"Aku setuju dengan rencanamu. Intinya kita kan menikah inginnya sekali seumur hidup, jadi harus hati-hati memilih pasangan. Kita harus yakin kalau pasangan kita mengerti kita dan menerima kita apa adanya.
Kita jangan cuma melihat fisiknya saja, tapi lihatlah dia secara keseluruhan, pandanglah dia dari segala sisi, jangan cuma satu sisi saja"
Itu adalah pendapat Guntur tentang memilih pasangan, Gading pun sependapat dengan Guntur.
"Kira-kira kalau mas Gilang dan yang lainnya sudah tahu perubahan Sitah setelah mengujinya, menurutmu apakah beliau akan memberi restu padaku. Terus terang aku tidak bisa menikah tanpa restu dari beliau, rasanya seperti tidak tahu diri," ujar Gading sembari menyeruput kopinya dan mengambil sepotong sukun goreng.
__ADS_1
*******