Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 52. Perdebatan


__ADS_3

"Tentu saja ada, dia punya dua orang anak gadis yang sudah duduk dibangku SMP dan satunya masih bayi, umurnya sekitar enam bulan"


Sekarang bukan hanya tante Salma yang memandang kearah bunda Reni namun juga beberapa keluarga yang tengah bersantai diruang tamu.


"Punya bayi.....apa kamu tidak takut kalau nanti disuruh menjaga bayinya," ujar Nela yang dari tadi asyik menikmati makanan ikut menimpali.


"Aku menikahinya bukan karena aku mencintainya, bahkan kami tidak saling mencintai, kami menikah demi anak-anaknya agar merasakan kasih sayang seorang ibu, aku yakin suatu saat cinta akan datang dihati kami"


Semua keluarga bunda Reni terperangah mendengar penuturan janda cantik itu. Sepertinya mereka tak lagi mengenal Reni yang selalu mempertimbangan status sosial dalam bergaul.


"Terus apa enaknya kamu menikah sama dia, sudah tidak punya harta, tidak punya kedudukan, bahkan dia punya dua anak masih kecil yang harus kamu urus," Ranti menyahut.


"Sebaiknya kamu batalkan saja pernikahan kamu dengan si Soko itu Reni, rasanya Tante tidak rela melihatmu menikahi lelaki miskin itu, toh kamu tidak mencintainya bukan?"?


Dengan tegas tante Salma tidak setuju dengan rencana pernikahan keponakan yang merupakan ATM hidupnya, karena selama ini biaya hidup dia bunda Renilah yang menanggungnya.


"Nanti aku carikan seorang duda tampan yang kaya raya Ren," ujar salah seorang keluarga yang dari tadi hanya menyimak.


"Gilang kenapa kamu tidak menasehati bundamu yang ingin menikahi duda miskin itu, bagaimana kalau nantinya dia memanfaatkan dan memeras harta bundamu"


Tante Salma meminta dukungan Gilang. Namun Gilang hanya tersenyum santai menanggapi ocehan tante Salma.


"Aku tidak butuh duda kaya, karena Tuhan sudah memberiku limpahan harta, untuk itulah aku ingin berbagi harta dan berbagi kasih dengan anak-anak yang sudah tidak akan lagi merasakan pelukan ibu kandungnya"


Ucapan bunda Reni membuat suasana kian memanas. Tante Salma mengarahkan pandangannya kearah Gilang, menyuruh Gilang berbicara untuk menasehati bundanya dalam bahasa tersirat.

__ADS_1


"Aku sangat setuju dengan keputusan bunda menikah dengan pak Soko, aku bangga dengan pendirian bunda yang ingin berbagi kasih buat anak yang memerlukan peluk dan kasih seorang ibu"


Semua memandang kearah Gilang, membuat Gilang berhenti bicara. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan-lahan.


"Aku yang menyarankan bunda menikah dengan pak Soko, karena aku yakin bunda akan menemukan kebahagiaan disana. Soal status sosial tak akan jadi masalah menurutku," Gilang berucap dengan mantap.


"Pokoknya tante tidak setuju, tante mau kamu menikah dengan lelaki kaya dan berkelas, bukan dengan pekerja lapangan yang setiap hari harus panas-panasan"


Dengan suara lantang tante Salma memberikan ultimatum kepada janda berumur setengah baya itu.


"Aku juga tidak setuju, kamu cantik, elegan dan berkelas Reni, kamu harus mendapatkan lelaki yang sepadan denganmu, kalau kamu menikah sama Soko, aku tidak akan lagi menganggapmu saudaraku," ujar Nela menimpali.


Bunda Reni tersenyum mendengar ucapan Nela, bagaimana tidak, selama ini dialah yang selalu meminta bantuan keuangan kepadanya. Siapa yang lebih memerlukan coba.


"Iya biar saja kalau Reni tidak mau lagi dinasehati dan tidak mau membatalkan rencana pernikahannya dengan Soko, kita pulang saja, kita tidak usah anggap dia keluarga kita, karena dia sudah turun derajatnya"


Sekar yang dari tadi hanya diam kini menunduk dengan sudut mata yang berair. Dia merasa sangat kecil dan tak berarti dihadapan keluarga Gilang. Dia sadar kalau dia berasal dari keluarga biasa, yang tak punya harta, walau dia mempunyai hati yang luas seluas samudara. Gilang yang duduk disampingnya langsung menggenggam jari jemarinya seraya berbisik.


"Sayang, tak usah kau ambil hati ucapan receh mereka, bagi aku dan bunda kamu begitu sangat berharga, abaikan saja ucapan mereka yang belum mengenalmu"


Sekar membalas gengaman tangan suaminya seraya tersenyum menatap lelaki terkasihnya.


"Aku mencintaimu bukan karena hartamu, tapi karena kebaikan hatimu,"bisik Sekar. Sekar masih menunduk namun genggaman tangannya terhadap tangan Gilang semakin erat.


"Bagiku tak ada masalah, kalian tak mau menganggap aku sebagai keluarga. Aku mengundang kalian kesini bukan meminta persetujuan kalian, tapi hanya sekedar ingin kalian menyaksikan dan berbagi kebahagiaan denganku"

__ADS_1


Bunda Reni terdiam, rasanya dia enggan untuk meneruskan berbicara dengan orang yang hanya memandang manusia dari hartanya. Seolah mereka adalah orang kaya dan sudah hebat. Padahal mereka hidup dari uang yang selalu dia kirimkan. Tapi disisi lain dia harus menunjukan bagaimana cara pandang dia dalam menyikapi hidup dan kehidupan.


"Sekarang aku tidak perduli, tante, kak Nela, kak Ranti dan kalian semua tidak menganggap aku sebagai keluarga. Toh aku sudah punya keluarga yang menyayangi dan mencintaiku dengan setulus hati"


Bunda Reni berhenti bicara seraya tersenyum. Dia pandang satu persatu wajah tante, sepupu dan keluarga lainnya yang tampak bingung.


"Karena kalian sudah tidak menganggapku sebagai keluarga, maka uang yang setiap bulan aku kirimkan pada kalian akan aku hentikan, rencananya uang itu akan aku gunakan untuk kesejahteraan anak-anak sambungku"


Seketika itu juga mereka tampak shock, wajah tante Salma mendadak pucat, Nela dan Ranti langsung menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, seraut wajah ketakutan pun terlihat. Saat itu juga terbayang bagaimana mereka bisa hidup nyaman tanpa kiriman uang dari wanita cantik bernama Reni.


Sementara Gilang tersenyum puas dan memandang bundanya sambil mengacungkan jempolnya diam-diam tanpa sepengetahuan mereka.


"Maaf Reni, bukan begitu maksud kami, kami hanya tidak mau kamu di manfaatkan oleh lelaki itu. Tapi kalau memang itu sudah keputusanmu, asalkan kamu bahagia, kami bisa apa, aku merestuimu menikah dengan lelaki manapun yang membuatmu bahagia"


"Iya Reni, maafkan ucapanku yang merendahkan lelaki pilihanmu. Aku merestuimu, menikahlah, semoga ini adalah lelaki terakhir yang mendampingimu hingga akhir usia"


Akhirnya semua keluarga bunda Reni meminta maaf dan memohon agar bunda Reni tidak menghentikan pengiriman uang pada mereka. Tentu saja bunda Reni setuju saja, karena memang tidak ada niat untuk menghentikan pengiriman uang, dia hanya memberikan shock terapi pada keluarganya.


Selepas magrib bu Asih, pak Hadi dan Guntur pun datang untuk acara lamaran pak Soko dan bunda Reni.


"Alhamdullilah besan, akhirnya besanku yang cantik lahir bathin ini sudah dipertemukan dengan jodohnya. Semoga lancar sampai halal. Sungguh bahagia lelaki yang berhasil mencuri hatimu"


Pelukan bu Asih pada besan yang sangat dia bangga-banggakan begitu erat, sembari melirihkan sederet doa pada sang skenario hidup. Bunda Reni pun membalas pelukan hangat besannya diiringi seribu rasa syukur karena telah dikelilingi orang-orang baik.


Mereka semua saling berkenalan. Kali ini keluarga bunda Reni tidak berani memandang Rendah terhadap keluarga pak Hadi yang hanya berpakaian sederhana.

__ADS_1


*******


__ADS_2