
"Gading....ayo kita pulang"
Bu Tarni keluar dari rumah bunda Reni dengan derai air mata. Kini harapannya agar Sitah punya masa depan yang lebih baik telah Sirna. Pak Soko menolak dengan penuh amarah atas permintaannya. Sedangkan bunda Reni malah mengusirnya.
"Ada apa bu, kok ibu menangis," tanya Gading saat diperjalanan pulang. Gading merasa heran. Tadi bu Tarni minta diantarkan ke rumah pak Soko dengan penuh semangat. Tapi setelah keluar terlihat berurai air mata, langkahnya tampak lelah tak berdaya.
"Nanti saja, aku ceritanya dirumah sakit nak Gading, sekarang aku masih sedih," ujar bu Tarni sambil terisak.
Gading pun menuruti ucapan bu Tarni agar tidak bertanya apapun padanya. Dia melajukan kendaraannya lebih cepat, karena mendung begitu menghitam, sepertinya hujan akan turun dengan lebat. Angin pun bertiup cukup kencang. Beruntung sampai diparkiran rumah sakit hujan belum turun, walau rintik air sudah mulai ada. Mereka pun melangkah dengan cepat berkejaran dengan laju air hujan yang akan segera turun.
Sitah sedang ngemil makanan yang tadi pagi dibelikan oleh Gading. Wajahnya terlihat lebih tegar, sembab disekitar matanya pun mulai memudar. Dia sunggingkan senyum tipis dibibirnya yang masih terlihat sedikit pucat.
"Bagaimana kabarmu Sitah," Sapa Gading, dia menghentakkan pantatnya disebuah kursi yang ada didekat ranjang dimana Sitah berbaring. Sedangkan bu Tarni duduk di ranjang tidak jauh dari tempat dimana Sitah duduk.
"Berkat kebaikkanmu, dan berkat mendengarkan nasihat-nasihatmu, aku merasa lebih enakkan, aku sudah mulai belajar menerima dengan ikhlas, semua yang telah menimpaku"
Sitah melanjutkan ngemilnya seraya memandang ibunya yang terlihat sedang bersedih. Diapun menanyakan apa yang telah membuatnya sedih. Sebab saat berangkat kerumah pak Soko, ibunya terlihat bersemangat sekali. Sitah juga penasaran apa yang dibicarakan ibunya dengan pak Soko. Apakah ada ucapan pak Soko yang menyinggung perasaan ibunya.
Mendengar pertanyaan Sitah, bu Tarni pun menceritakan maksud kedatangannya kerumah pak Soko dan bunda Reni kepada Sitah dan Gading. Dia juga menceritakan bagaimana reaksi mereka berdua.
Mendengar cerita ibunya, Sitah langsung menggelengkan kepalanya. Dia tak habis fikir, kenapa wanita yang telah melahirkannya bisa mempunyai pikiran seperti itu.
__ADS_1
"Ya jelas ajalah bu, pak Soko menolak dan bu Reni marah-marah. Pak Soko laki-laki setia, mana mau dia menikah dengan wanita hina seperti Sitah. Ibu seharusnya mikir bu"
Sitah sangat kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh ibunya.
"Apalagi pak Soko sudah mempunyai istri seperti bu Reni, wanita cantik, baik hati dan kaya raya. bu Reni juga wajar kalau dia mengusir ibu, beliau pasti Sangat marah pada ibu. wanita mana sih yang tidak marah kalau ada orang yang minta suaminya menikahi anaknya," lanjut Sitah.
Gading yang dari tadi hanya diam akhirnya ikut bicara, bahwa ucapan Sitah benar, untuk apa terus berharap dan berusaha menjadi istri orang yang sudah jelas-jelas tidak mengharapkannya, apalagi dia lelaki beristri. sebagai sesama wanita, seharusnya paham, bagaimana sakitnya kalau miliknya diambil orang. Tidak mudah menjadi madu, harus rela berbagi cinta, berbagi harta dan berbagi kasih sayang. Rentan perselisihan sudah pasti, sulit untuk hidup tentram dan bahagia, siang bertanding rupa dan malam bertanding rasa.
"Kamu sepertinya sudah sangat berpengalaman dalam hal itu Gading. Apa kamu sudah pernah jadi madu atau pernah punya madu"
Sitah bertanya seraya tersenyum. Kini dia sudah mulai bisa melupakan luka parah dihatinya. Ucapan Gading benar-benar telah membuka jalan fikirannya.
"Ya tahulah, aku kan rajin nonton sinetron. Lagian untuk mempelajari sesuatu hal, kita tidak harus mengalaminya terlebih dahulu. Tapi kita bisa lihat dari lingkungan sekitar, bisa juga dari membaca"
Setelah dia kehilangan kehormatannya. Dia baru menyadari dimana titik lemahnya. Harta.... Ya, Sitah terlalu silau pada harta, dia selalu berfikir bagaimana memiliki harta yang melimpah tanpa harus susah payah bekerja.
Mungkin itulah kelemahan dari banyak wanita, demi harta mereka rela berbagi cinta. Tak perduli hari-harinya harus tersiksa. Baginya tak mengapa, yang penting uang nafkah lancar.
Wanita tipe seperti ini biasanya lebih mudah terjerumus, lelaki lebih mudah memperdayanya. Hanya dengan lembaran uang, dia akan pasrah, menyerahkan diri untuk dinikmati walaupun tidak harus dimiliki.
Sitah bertekad tidak ingin lagi menjadi wanita yang silau dengan harta. Walau hidup perlu harta, namun harta bukan satu-satunya sumber kebahagiaan.
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi melamun, sepertinya ucapanku membuatmu sedih, maaf yah"
Suara Gading memutus lamunan Sitah yang tengah hanyut tanpa arah. Dia mencoba sharing dengan Gading, tentang kebiasaannya selama ini yang selalu silau dan lupa diri jika melihat lelaki kaya. Bagaimana cara merubah kebiasaan itu, bagaimana agar dia bisa menjaga hatinya agar tidak tertarik memiliki apa yang menjadi dimiliki orang lain.
"Bagaimana kalau kamu menghabiskan waktu luangmu, untuk pergi tauziyah. Menghadiri kegiatan keagamaan lainnya,"saran Gading.
"Apa kamu sering ketempat seperti itu Gading, kalau kamu kenal acara-acara seperti itu bisa ajak Sitah enggak?
Bu Tarni yang dari tadi hanya mendengarkan akhirnya ikut bicara.
"Kebetulan setiap minggu aku sering menghadiri majelis ta'lim bu, kalau Sitah mau bisa kok ikut, nanti aku kenalkan pada para ustadz dan ustadzah disana, sahut Gading lagi. Sitah langsung setuju, dia sangat antusias.
Waktu terus berjalan, Sitah semakin sehat dan rasa sedih yang menyelimuti hatinya berangsur memudar.
Hari ini Sitah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. dengan menggunakann taksi on line, bu Tarni dan Sitah menuju kontrakannya. Sedangkan Gading mengikuti dibelakangnya.
"Ayo masuk Gading, jangan sungkan"
Gading melangkah memasuki rumah kontrakan Sitah. Bu Tarni membuatkannya segelas teh. Setelah berbincang-bincang sejenak. Gading pun pamit pulang. Sitah tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih atas kebaikkan Gading selama dia dirawat dirumah sakit. Tanpa ada Gading, entah apa yang terjadi pada Sitah. Keberadaan Gading yang begitu setia membuat Sitah sangat kagum padanya. Padahal mereka tidak akrab sebelumnya. Tapi Gading tanpa pamrih begitu tulus membantunya. Rasa peduli pemuda itu terhadap sesama benar-benar luar biasa. Mungkin itulah yang membuat nasibnya berubah drastis dari seorang pemulung sejak kecil bisa menjadi mahasiswa, sambil bekerja dikantoran.
Sitah menatap kepergian Gading dengan pandangan nanar. Semua yang ada pada pemuda itu telah membuatnya terkagum-kagum. Namun dia sadar keadanya yang telah kotor dan ternoda tak layak untuknya bahkan walau hanya sekedar berteman dekat. Pada hari berikutnya bu Tarni pamit pulang. Sitah pun sudah mulai kembali bekerja.
__ADS_1
Pak Soko memindahkannya ke devisi marketing, satu devisi dengan Gading.
*******