
"Maaf bu Nina, wajah ibu mirip sekali dengan istri saya namanya Asih. Dia meninggalkan saya dan Sekar putri kami sejak dia masih kecil. Saya tidak tahu apa penyebab kepergiannya. Seingat saya hubungan saya dan ibu Sekar saat itu baik-baik saja. Saya sudah mencarinya kemana-mana, tapi saya tak juga menemukannya. Kini sudah puluhan tahun dia pergi dan tak pernah kembali. saya tidak tau, apakah dia masih hidup atau sudah meninggal," pak Hadi langsung menceritakan beban hidupnya pada bu Nina.
"Saya jadi ikut sedih mendengar kisah perjalanan hidup pak Hadi. Apalagi sekarang pak Hadi kehilangan putri semata wayangnya saat akan melangsungkan pernikahannya. Tentunya hati pak Hadi sangat hancur sekali. Saya tidak tahu andai saya berada diposisi pak Hadi, apakah saya akan sanggup menjalani ataukah tidak.
"Ayo pak kita berangkat menuju desa Bumi Hangus mumpung belum terlalu siang," ucap Guntur sembari mengambil kunci kendaraan dan masuk kedalam garasi untuk mengambil kendaraannya.
"Pak Hadi saya titip Guntur ya!!, soalnya dulu ayah Guntur adalah orang terkaya dikampung ini. Beliau dibunuh oleh warga desa Bumi Hangus karena telah membunuh salah salah satu warga Bumi Hangus saat menyelamatkan saya dan Guntur sewaktu kami dirampok oleh warga Bumi Hangus. Saya cuma takut ada warga Bumi hangus yang tahu kalau dia keturunan pak langgam, ayah Guntur," ucap bu Nina dengan wajah sedih.
"Tentu bu Nina, saya pasti akan melindungi Guntur, sejak pertama kali bertemu dengan Guntur saya sudah menganggap dia seperti anak saya sendiri, saya pamit dulu bu Nina, doakan saya bisa ketemu dengan Sekar anak saya" ucap pak Hadi sembari melangkah kearah Guntur yang sudah siap dengan kendaraan metiknya.
"Ibuuu!!... Guntur jalan dulu," teriak Guntur sambil duduk diatasi kendaraannya. Pak Hadi dan Guntur segera melajukan kendaraannya kearah jalan menuju desa Bumi Hangus. Setengah jam kemudian.
"Kita sudah memasuki desa Bumi Hangus pak. Apa bapak masih ingat ciri - ciri rumah yang ditinggalli Sekar," tanya Guntur sambil berteriak karena suaranya bersaing dengan suara kendaraan.
"Rumahnya sangat sederhana terbuat dari papan dekat aliran Sungai, dia sedang duduk dengan seorang nenek dan juga pemuda. Mereka memakai pakaian lusuh termasuk Sekar pun menggunakan pakaian lusuh," ucap pak Hadi sembari mengingat mimpinya.
"Berarti kita sebaiknya berkendara menyusui aliran sungai," ucap Guntur. sembari mengarahkan kendaraannya menuju pinggir sungai.
Kurang lebih setengah jam sudah pak Hadi dan Guntur berkendara. Kini mereka sampai disebuah rumah panggung yang berdinding kayu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita singgah dirumah kayu itu pak, siapa tahu Sekar tinggal disitu atau barang kali mereka mengetahui keberadaan Sekar. Apakah bapak membawa foto Sekar," ucap Guntur sembari turun dari kendaraan dan melangkah menuju rumah kayu itu. Sementara pak Hadi mengikuti dari belakang.
tok... tok... tok...
"Assalamualaikum, apa ada orangnya didalam," Guntur naik ke teras rumah itu kemudian mengetok dan mengucapkan salam. Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat kearah pintu.
kreeekeeet...
Pintu terbuka, muncullah seorang laki-laki bertubuh kurus dan tinggi, mengenakan peci berwarna hitam.
"Maaf pak mengganggu waktunya sebentar, apakah bapak kenal wanita ini, namanya Sekar, " Guntur memperlihatkan sebuah foto yang barusan dikasih pak Hadi. Lelaki itu segera mengarahkan pandangannya untuk melihat foto yang ada ditangan Guntur.
"Jadi kamu anak laki-laki jahanam itu, " ucap lelaki itu. Dia mendadak terlihat kasar dan menakutkan. Pak Hadi pun ingat pesan bu Nina agar ia selalu menjaga Guntur. Laki-laki itu langsung melangkah dengan cepat, dia mengambil sebuah pedang yang menjadi pajangan diruang tamu rumahnya. Melihat sinyal bahaya ada di depan mata. pak Hadi terus menarik tangan Guntur dan berlari menuju kendaraannya.
"Kita harus pergi dari sini, orang ini sangat berbahaya, " pak Hadi terus menarik tangan Guntur hingga sampai dekat kendaraannya. Dia langsung mengambil kunci kontak yang ada dikantong baju Guntur. Kemudian pak Hadi menghidupkan kendaraannya.
"Guntur ayo cepat naik, jangan kelamaan, lihat bapak-bapak itu mengejar kita, nanti aku jelaskan dijalan, yang penting kita sekarang menyelamatkan diri," ucap pak Hadi gugup. Saat Guntur sudah membonceng kendaraan, pak Hadi langsung memutar gas kendaraan, melaju pergi meninggalkan rumah laki-laki itu.
"Sebenarnya ada apa tadi Pak, Guntur bingung tidak mengerti apa yang membuat kita harus pergi dari situ," pak Hadi langsung menceritakan apa yang diamanatkan ibu Nina kepadanya tentang masa lalu orang tua Guntur.
__ADS_1
"Pantas ibu selama ini melarangku pergi dan bahkan hanya singgah saja didesa Bumi Hangus, ibu pun melarangnya, jadi begitu ceritanya.
" Iya Guntur Kamu harus hati -hati pada setiap orang yang baru kamu kenal di sini. Takutnya mereka adalah keluarga dari kawanan perampok yang telah dibunuh ayahmu. Pak Hadi dan Guntur terus melajukan kendaraannya sepanjang aliran sungai. Kini mereka berada disebuah rumah panggung. Seorang ibu berambut keriting tengah menyapu dihalaman rumahnya. Pak Hadi dan Guntur pun langsung menghampiri wanita tersebut. Dengan berbekal sebuah foto dia menanyakan keberadaan Sekar.
"oh inikah yang namanya Sekar, dia tinggal dipinggiran hutan situ, jadi kalian ikuti saja aliran sungai ini, Di jalan ini nanti kalian akan menemui rumah panggung ukuran sekitar empat kali enam meter beratapkan daun rumbiah. Disitulah Sekar tinggal bersama neneknya bernama nenek Leni dan cucunya yang bernama Gading. Tapi menurut nenek Leni Sekar adalah cucunya yang baru datang dari kota. Jalan menuju rumah nenek Leni hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki karena kondisi jalannya yang sempit dan menanjak, akan sangat berbahaya jika mereka menggunakan sepeda motor. Pak Hadi dan Guntur pun menitipkan sepeda motornya kepada ibu tadi yang ternyata bernama ibu Titin.
Dengan penuh semangat pak Hadi terus berjalan dibelakang Guntur, menyusuri jalanan berbatu disepanjang aliran sungai. Terkadang mereka berjalan menanjak dan terkadang menurun. Kini baju mereka telah basah oleh keringat karena matahari bersinar begitu terik. Namuh tak sedikit pun membuat pak Hadi mengeluh, walau usianya yang tidak lagi muda membuat nafasnya terkadang tersengal-sengal karena memang tak terbiasa berjalan jauh apalagi dengan kondisi jalan seperti ini. Sudah berulang kali Guntur mengajaknya untuk beristirahat. Namun pak Hadi terus menolak, dia sudah sangat rindu sama Sekar katanya.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak mudah, akhirnya mereka sampai disebuah rumah dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan ibu Titin tadi. Dengan semangat Guntur menaiki teras rumah dan mengetok pintu rumah tersebut. Setelah beberapa kali mengetok pintu. Muncullah seorang nenek renta berumur sekitar tujuh puluh tahun.
" Permisi nek, apa nenek yang bernama nenek Lani? " tanya Guntur. Nenek Lani pun menganggukan kepala. Kemudian Guntur pun menceritakan maksud kedatangannya menemui nenek Leni.
"Jadi bapak ini bapaknya Sekar, syukurlah Sekar bisa ketemu lagi dengan orang tuanya. Tapi kebetulan Sekar sedang bekerja pada tetangga kami yang sedang memanen kacang tanah. Sekar sedang mencari dan mengumpulkan uang untuk ongkos pulang ke kota. Maklumlah kami hanya orang miskin, kami tidak mampu membantu Sekar menyediakan uang untuk ongkos pulang. Sebaiknya pak Hadi dan nak Guntur tunggu saja disini. Mungkin sore Sekar baru pulang.
Akhirnya pak Hadi dan Guntur pun mengikuti saran nenek Leni untuk menunggu Sekar pulang dari ladang. Sembari menunggu, nenek Lani pun menceritakan awal pertemuannya dengan Sekar, saat dia dan cucunya menemukan Sekar dengan kondisi tak sadarkan diri, kedua tangan terikat dan terdampar diantara sampah-sampah yang bau busuk, dengan lalat yang beterbangan disekitarnya. . Tak terasa air mata pak Hadi menetes membayangkan kondisi putrinya saat itu.
*************
.
__ADS_1