Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 108. Bukan Cowo Murahan


__ADS_3

"Kamu terlalu berlebihan, sebenarnya kita sama-sama sedang jomblo dan menantikan kehadiran seseorang yang membuat jatuh cinta"


"Kamu benar, makanya aku merasa kehadiranmu adalah anugerah yang tak ternilai. Jika kamu sudah menjadi istriku nanti, aku janji akan selalu menjaga hati ini dari wanita manapun, aku akan selalu menundukkan pandanganku dari wanita lain agar hanya engkau wanita tercantik yang selalu ada dihatiku. Sudah ya, jangan kelamaan berduaannya. Enggak enak sama mommy dan dady, nanti aja kalau sudah halal baru kita bisa puas berduaan"


Guntur menanggapi panjang lebar ucapan Antinia. Kemudian dia pamit meninggalkan kediaman rumah Antinia. Lelaki itu langsung masuk kedalam mobilnya tepat dibelakang pengemudi.


"Jalan pak Tarno, kita istirahat di apartemen mas Gilang, kebetulan aku sudah kangen sama Gading. Kamu tahu kan tempatnya"


"Iya pak saya tahu alamatnya"


Mobil Guntur terus meluncur melewati jalan raya yang ramai lancar.


"Tumben kamu sudah ada dirumah jam segini"


Guntur baru saja berada didepan pintu Apartemen yang ditempati oleh Gading. Baru saja dia hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi Gading, tak disangka pintu apartemen terbuka, muncul Gading dengan muka kucel karena baru saja bangun dari tidur siangnya.


"Aku memang kalau libur engga pernah kemana-mana, spesial istirahatlah setelah seminggu berjibaku dengan urusan pekerjaan, kamu tumben kesini, apa kamu datang sendirian," sapa Gading sembari mempersilakan masuk dan duduk disofa ruang tamu diapartemen itu. Dia masuk kedalam, sesaat kemudian dia keluar membawa dua cangkir kopi hitam.


"Ayo kita ngopi biar wajahmu segeran dikit," seloroh Gading.


"Kalau mukaku kucel wajar dong, selain habis perjalanan jauh, juga baru saja ketemu calon mertua, aku kesini ditemani Tarno, dia ada dimobil mau istirahat disana katanya. Aku sudah ajak dia kesini untuk istirahat bareng tapi dia menolak," sahut Guntur.


"Calon ibu mertuamu yang bernama Ibu Luna kan?, seorang wanita bule, umurnya sekitar lima puluh tahun gitulah?"

__ADS_1


Guntur terperangah mendengar ucapan Gading. Seingatnya belum ada yang tahu siapa nama kedua orang tua Antinia. Bahkan dia sendiri juga baru tahu namanya tadi saat berkunjung kerumahnya.


"Kok kamu bisa tahu, apa dikasih tahu mas Gilang?"


Guntur sangat penasaran, apa mungkin Gading diberitahu oleh mas Gilang. Setahu Guntur antara Gilang dan Antonio hanya ada kerja sama dalam hal pekerjaan, kalau soal hubungannya secara pribadi diapun kurang mengetahui. Namun dari mimik wajah Gading sepertinya dia tidak tahu dari mas Gilang.


"Aku yakin kamu pasti direstui jadi calon menantu ibu Luna. Tak menyangka jalanmu untuk mendapatkan bule itu dipermudah oleh yang maha kuasa. Calon mertuamu sangat menyukaimu kan. Rupanya jalan percintaan kita menuju halal sungguh jauh berbeda. Jalanku berliku dan penuh cobaan. Sedangkan kamu mulus dan lurus, selamat ya, semoga kalian berjodoh hingga di surga nanti"


Guntur semakin terperangah mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Gading. Sepertinya Gading memgetahui banyak hal tentang keluarga Antinia dan Guntur semakin yakin kalau dia tidak mengetahui dari kakak iparnya, karena dia juga tahu kakak iparnya belum tahu kalau kedua orang tua antinia langsung menyetujui hubungannya dengan putrinya tanpa syarat apapun.


"Apa kamu kenal keluarga calon istriku, sepertinya kamu tahu banyak tentang mereka"


Gading tertawa terbahak mendengar ucapan lelaki tampan dihadapannya.


Teman-teman bu Luna terus menyudutkan bu Luna dan menganggapnya tidak cerdas. Namun bu Luna dapat menyangkal ucapan mereka dengan kalimat-kalimat yang begitu mengagumkan. Kamu beruntung mempunyai mertua kaya namun tidak sombong," ujar Gading memuji.


Mendengar komentar Gading tentang keluarga Antinia, rasa syukur dan bahagia di hati Guntur semakin besar.


"Iya, rencananya minggu depan aku membawa bapak dan ibu mau melamar Antinia, kalau hubunganmu dengan Sitah bagaimana, kapan kalian menikah, apa lagi yang kalian tunggu, restu nenek dan keluarga sudah kalian dapat, kuliah selesai, pekerjaan pun sudah ada, apalagi yang ditunggu, cepatlah menikah, kata mas Gilang menikah itu indah he...he..."sambung Guntur seraya terkekeh.


Seperti halnya Guntur, Gadingpun sudah merencanakan akan melamar Sitah dalam minggu-minggu ini. Dia berharap pernikahanya dengan Sitah berjalan lancar walaupun masih ada suara sumbang dari orang yang tidak suka dengan hubungan mereka, karena warga Cipaganti masih menganggap Sitah masih seperti yang dulu. Bagi Gading apapun komentar orang tentang Sitah dia tak perduli. Dia juga tak perlu membuktikan kepada orang disekitarnya bahwa calon istrinya telah berubah. Baginya yang terpenting dia dan Tuhan yang tahu, apapun komentar orang tak jadi masalah baginya.


"Ding melamun aja, aku lelah mau nginap disini, kamar sebelah kosong, tidak ada yang menempati kan?" Tanya Guntur sambil beranjak mengambil tas ransel yang dia bawa dari tadi yang berisi baju ganti dan perlengkapan mandi.

__ADS_1


"Iya, tentu saja kosong, tapi selalu bersih kok, aku selalu bersihkan siapa tahu ada keluarga datang menginap disini," jawab Gading.


"Sitah pernah tidur disini enggak?"


Guntur tersenyum meledek. Sebelah alisnya terangkat berkali-kali sembari tersenyum menyeringai.


"Pernah kesini aja enggak, dia belum pernah tahu dimana tempat tinggalku. Kamu pikir aku cowo murahan yang seenaknya saja membawa anak gadis orang"


Gading menepuk punggung Guntur dan berlalu masuk kedapur. Dia akan memasak untuk menjamu Guntur tamunya disore ini.


"Ternyata enak juga ya masakanmu, beruntung sekali wanita yang jadi istrimu. Kalau dia tidak bisa masak juga enggak apa-apa. Jadi kamu bisa menyalurkan hobymu memasak setiap hari"


Guntur langsung nyerocos sambil melahap semua masakan yang dimasak Gading. Sedikitpun dia tidak memandang bagaimana ekspresi wajah Gading saat mendengar ucapannya.


"Kamu benar, seorang istri memang tidak mempunyai kewajiban untuk memasak dan mengurus rumah tangga. Tapi dia wajib taat dan patuh dengan semua perintah dan apa yang diinginkan suaminya.


Jika aku menikah, aku akan menyuruh istriku untuk memasak dan mengurus semua urusan rumah tangga. Agar aku bisa fokus bekerja mencari nafkah. Tentu istriku harus patuh dan tidak boleh menolak apapun perintahku," jawab Gading jumawa.


Guntur mendengus kesal dengan jawaban Gading, namun akhirnya dia ketawa.


Selesai makan guntur langsung masuk kesebuah kamar kosong diapartemen itu untuk beristirahat. Setelah menyelesaikan shalat magrib, Guntur pamit pulang. Malam ini dia akan pulang menuju desa Cipaganti bersama Tarno dengan bergantian dalam menyetir mobil.


Tepat pukul delapan pagi Guntur memarkirkan mobilnya dicarport rumahnya setelah mengantarkan Tarno kerumah dinasnya. Tidak lupa dia memberikan sejumlah uang kepada Tarno, sebagai ucapan terima kasih karena dia telah memaninya menempuh perjalanan panjang menuju kekota hingga kembali lagi dengan selamat.

__ADS_1


******


__ADS_2