
Hari ini Sitah sedang menunggu Gading yang sudah janji akan menjemputnya diteras kontrakkannya. Sudah setengah jam menunggu, kekasihnya belum muncul juga. Untuk mengusir rasa jenuh diapun masuk kembali mengambil cemilan. Dia akan menungggu Gading sembari menikmati cemilan diteras rumah.
Saat keluar ternyata Gading sudah ada diteras lengkap dengan tas ransel yang biasa dibawa pulang. kendaraannya pun telah stand by siap digunakan.
"lho, kok kamu tiba-tiba aja sudah ada disini, sepertinya aku tidak mendengar suara kendaraan datang," ucap Sitah merasa aneh Gading secara tiba-tiba telah duduk diteras kontrakkannya.
"Ayo naik"
Gading langsung menghidupi kendaraan dan menaikinya, dia memakai helm dan menyerahkan satu helm lagi pada Sitah kemudian dia meminta Sitah untuk duduk dibelakangnya tanpa menjawab pertanyaan Sitah.
"Masa kita mau pakai kendaraan, enggak ditinggal aja kendaraanya seperti waktu lalu," tanya Sitah.
"Kamu pegangan aja, nanti aku titipkan saja kendaraannya diterminal. Ternyata salah salah satu teman kuliahku ada yang tinggal disana dia sekitaran terminal.
Kendaraan terus melaju membelah jalan raya bergabung dengan kendaraan yang lain. Kini mereka telah sampai dirumah teman kuliah Gading yang bernama Reno dimana Gading akan menitipkan kendaraannya disana.
"Ini kontaknya, kalau kamu mau pakai aja"
Gading menyerahkan kunci kendaraannya. Setelahnya dia berjalan kaki menuju terminal yang tidak jauh dari rumah Reno. Setelah membeli tiket dia masuk kedalam bis jurusan Bumi Harapan. Dengan menggunakan ojek pangkalan, akhirnya sepasang kekasih itu sampai juga dirumah nenek Leni.
Rupanya nenek Leni telah menunggu kedatangan Gading dan Sitah diteras rumah.
Setelah mengucap salam dan mencium punggung nenek renta yang telah mengurus Gading dari kecil, Sitah dan Gading diajak neneK Leni kemeja makan.
"Kalian makanlah dulu, nenek sudah dari pagi memasak untuk menyambut kedatangan kalian"
Nenek Leni menatap Gading dan Sitah secara bergantian kemudian mengambilkan piring untuk mereka berdua.
"Biar Sitah aja nek yang ngambil piring, nenek duduk aja"
Mereka makan di iringi dengan obrolan ringan. Namun setelah makan selesai neneknya Gading memulai obrolannya yang sepertinya serius.
"Begini yah Sitah, mungkin Gading sudah cerita sama kamu. Kalau sekarang nenek sudah ikhlas merestui hubungan kalian.
Maafkan nenek yang semula begitu keras menolak hubungan kalian karena merasa kamu tidak layak untuk Gading. Semua itu nenek lakukan karena cinta nenek yang begitu besar kepada cucu nenek. Sehingga nenek takut kalau Gading mendapatkan pasangan hidup yang salah.
__ADS_1
Bagi nenek, memilih pasangan hidup tidak boleh sembarangan karena kamu nantinya yang akan melahirkan dan merawat anak-anak Gading, jadi sedikit banyak pasti anak-anak kalian akan mewarisi sifat dari kalian berdua"
Nenek Leni menatap kearah Sitah dan Gading secara bergantian. Sedangkan sepasang kekasih yang ada dihadapannya hanya menunduk mendengarkan nasihat nenek Leni.
"Tapi setelah nenek merestui hubungan kalian. Nenek harap kalian tidak buru-buru menikah. Gading harus menyelesaikan kuliahnya dulu. Kalian juga harus menabung untuk masa depan kalian nantinya.
Yang namanya menikah itu perlu persiapan batin dan materi. Banyak orang yang gagal menikah karena batin yang belum siap menghadapi sifat dan sikap buruk pasangan yang tidak tampak saat mereka masih pacaran. Ada juga yang gagal karena kekurangan materi, ya walau pun uang bukan segalanya tapi uang juga penting sebagai penunjang kebahagiaan"
Kembali nenek renta itu menatap Gading dan Sitah.
"Iya nek"
Sitah dan Gading menjawab secara serentak kemudian mereka saling pandang dan tertawa.
"Syukurlah ternyata kalian kompak, dan satu lagi Gading. Kamu harus berhenti mengikuti kemanapun Sitah pergi, kamu harus fokus kuliah dan kerja. Kalian jangan terlalu sering bertemu dan sering berduaan ditempat sepi, nenek cuma takut kalian tergoda rayuan setan sehingga melakukan perbuatan yang tidak semestinya.
Gading mulai sekarang kamu pindah dari kontrakan yang ada disamping kontrakan Sitah, kamu kembali keapartemen yang sudah Gilang sediakan"
"Baik nek"
Akhirnya Sitah tahu kalau Gading selama ini tidak pernah menghindarinya. Justru dia amatlah dekat jaraknya dengan Sitah.
"Ja...jadi selama ini kamu tidak menghindari aku, aku fikir kamu sudah tidak perduli padaku karena hubungan kita tidak disetujui oleh keluargamu"
Sitah sangat terharu, hampir saja air matanya menetes, namun sebisa mungkin dia tahan. Agar tak terlihat cengeng, sedikit-sedikit menangis.
"Tentu keluarga kami tidak begitu saja menolakmu Sitah. Kami juga memikirkan kebahagiaan Gading. Setiap orang pasti ingin menikah dengan orang yang sangat dicintai, begitupun cucuku"
Nenek Leni menatap cucunya, Gading tersenyum dan menggenggam tangan keriput nenek tersayangnya
"Tapi kami juga tidak mau begitu saja menerimamu, takutnya kamu hanya taubat sambel saja, hanya pura-pura. Makanya Gilang menyusun sebuah siasat agar Gading terus mengikutimu untuk mengetahui keseharianmu sehingga dari situ kami tahu bagaimana kamu yang sebenarnya.
Butuh banyak pengorbanan, demi bisa memutuskan apakah kamu layak menjadi bagian dari keluarga kami ataukah tidak. Baik itu pengorbanan waktu dan juga materi. Oh ya Gimana,kamu suka enggak sama perhiasan yang nenek berikan?
Kembali Sitah bingung dengan pertanyaan nenek Leni.
__ADS_1
"Perhiasan yang mana nek," tanya Sitah penasaran.
"Perhiasan yang dibawa Antonio"
Bagai disambar petir disiang hari, itulah gambaran perasaan Sitah saat itu.
"Jadi lamaran pak Antonio itu bagian dari siasat kalian untuk mengetahui bagaimana sikapku?"
Sitah bertanya, netranya menatap lekat kearah nenek dan cucunya yang ada dihadapannya.
"Maafkan kami, kami cuma tidak mau Gading mendapatkan wanita yang salah," ucap nenek Leni.
"Tidak apa-apa nek, Sitah malah bangga akhirnya Sitah lulus masuk nominasi dalam pemilihan calon menantu dikeluarga ini"
Sitah tersenyum dan disambut tawa oleh Gading dan neneknya.
"Kalian ngobrolin apa sih serius amat , lho ada Sitah, datang bareng Gading juga? selamat ya calon adik ipar sudah dapat restu he...he.."
Sekar masuk menggendong Elang. Tanpa mengetok pintu terlebih dahulu dan duduk disebelah nenek Leni.
"Kamu ini Sekar, kalo masuk enggak mau ngetok pintu dulu, dasar kebiasaan, ayo elang ikut uyut yah"
Nenek Leni langsung menggendong Elang, sementara Elang terkekeh sambil mengulurkan tangannya.
Sementara Sitah langsung tertunduk, dia teringat bagaimana perilakunya dahulu yang ingin merenggut paksa kebahagiaan orang lain.
"Bu Sekar, maafkan kesalahan saya dimasa lalu ya bu, saya tahu saya dulu jahat sekali sama ibu. Saya seperti perempuan psikopat, kejam dan tak punya perasaan terhadap sesama perempuan"
Sitah menitikkan air mata mengingat betapa kejamnya dia di masa lalu.
"Sudah Sitah. Itu sudah masa lalu, lupakan saja, kami semua memaafkanmu. Sekarang dan yang akan datang kita adalah keluarga. Semoga saja hubunganmu dengan Gading bisa sampai kepelaminan untuk membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warrohmah.
"Terimakasih atas maafnya bu, saya janji akan terus memperbaiki diri agar tak lagi menyakiti banyak orang," lirih Sitah.
*********
__ADS_1