
Hari ini pak Hadi, bu Nina, Sekar dan Guntur berkumpul dimeja makan. Dengan penuh kasih sayang bu Nina melayani Sekar mengambilkan makanan, minum, lauk dan sebagainya. Sedangkan Guntur dan pak Hadi hanya memperhatikan tingkah laku keduanya yang persis seperti seorang ibu dan anak gadisnya.
"Pak bagaiman kalau bapak nanti-nanti saja pulangnya,nginap lebih lama lagi disini. Lihat nih anak gadis bapak seperti sedang sangat bahagia di sini bersama ibu baru, begitu juga ibuku, sepertinya sedang sangat bahagia. Maklumlah pak sudah lama ibu ingin punya anak perempuan, tapi ya gimana ya!! , pentungan yang dipake buat bikin anak dibawa mati sama bapak," ucap Guntur. Bu Nina yang sedang minum teh langsung tersedak, sedangkan Sekar tersenyum ditahan, pak Hadi yang sedang menyendok makanan langsung berhenti dan mengacak-acak rambut Guntur.
"Kamu dari kemarin kaya cemburu banget sama Sekar Guntur!!, kamu enggak nyadar semenjak pulang dari kota kamu hanya sibuk dengan pak Hadi, kamu juga senangkan dekat sama pak Hadi, seperti bapak dan anak ucap ibu sambil tersenyum. Maaf ya pak Hadi jangan diambil hati, kami memang suka bercanda dan sering kali saling mengolok. Tapi memang benar semenjak ada Sekar hidup saya sangat bahagia selama ini saya memang merindukan anak perempuan. Maaf ya pak kalau kebersamaan bapak dan Sekar terganggu padahal kalian telah terpisah cukup lama, tapi Sekarnya malah saya pinjam terus," ucap bu Nina sembari terus mengunyah makanan.
"Tidak apa-apa bu Nina, saya juga merasa bahagia bisa bersama Guntur. Saya jadi tahu rasanya punya anak laki-laki. Karena saya juga seperti pria pada umumnya, sudah punya anak perempuan kepingin anak laki-laki. He...he... Manusia tidak pernah cukup," ucap pak Hadi sembari terkekeh.
Bagaimana kalau kita jalan sama- sama hari ini, aku juga ingin tahu rasanya punya keluarga yang lengkap, ada bapak, ibu, saudara. Ya.....untuk kenang-kenangan, nanti kalau Sekar dan pak Hadi sudah pulang, kita tidak akan merasakan indahnya kebersamaan, ucap Guntur kepada semua yang sedang makan dimeja makan.
"Ide bagus itu Guntur, aku suka sekali," Sahut sekar sambil terus menyuap makanannya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita lihat sawah dan kebun milik warga, suasananya enak sekali," imbuh Sekar lagi. Dan disetujui oleh pak Hadi bu Nina dan Guntur.
Malam tadi pak Hadi mulai berfikir untuk memikirkan kelangsungan hidupnya dan Sekar selanjutnya. Jika harus kembali kekota akan banyak masalah yang dihadapi. Terutama masalah Sekar, Gilang dan bunda Reni. Gilang yang selalu bersikeras untuk menikahi Sekar karena cintanya yang begitu besar pada putrinya. Sementara bunda Reni yang terus menentang dengan berbagai macam cara hingga mengancam nyawa putri semata wayangnya.
Ada terbersit dihati pak Hadi untuk menetap didesa Cipaganti dimana Guntur dan bu Nina tinggal. Tapi apakah niatnya ini tidak merepotkan mereka dan apakah Sekar akan menyetujuinya, mengingat dia begitu mencintai Gilang. Pak Hadi sangat berharap, Sekar mampu berfikir realiatis, tidak terlalu terbawa perasaan cintanya pada Gilang yang justru membahayakan nyawanya.
Akhirnya selesai makan kami berempat mengahabiskan waktu dengan berjalan kaki di pematang persawahan. Melihat-lihat para warga yang sedang beraktifitas. Ada yang sedang menanam padi, ada yang sedang memanen sayur adapula yang sedang rerfresing seperti kami dengan memancing ikan disungai-sungai kecil diantara tanaman padi milik penduduk desa Cipaganti.
Sementara pak Hadi duduk bersama ibu Nina di sebuah saung milik warga. Mereka sama-sama merasa sudah tua hingga tak mampu lagi kalau harus berjalan kesana kemari seperti yang dilakukan oleh Guntur dan Sekar.
"Bu kebanyakan warga disini bekerja sebagai apa ya," tanyaku pada bu Nina. Bu Nina pun menceritakan tentang keseharian warga disini yang menggarap lahan pertanian untuk ditanami padi, buah-buahan, sayuran dan sebagainya. Ada yang menggarap tanah milik sendiri ada pula yang menggarap tanah milik orang lain. Sedangkan bu Nina sendiri mempunyai lahan yang lumayan luas dari peninggalan suaminya. Lahan itu di garap oleh warga sekitar dengan cara bagi hasil. Dari bagi hasil itulah bu Nina membiayai hidup dirinya, Guntur anak lelakinya sejak kecil. Bu Nina juga mengeluh karena masih ada seperempat dari lahan yang dimilikinya belum tergarap. Karena warga sudah tak sanggup lagi untuk mengolahnya. Sedangkan bu Nina selalu mengeluarkan biaya untuk perawatannya seperti herbisida atau obat pembasmi gulma atau tanaman liar agar tidak menjadi hutan kembali. Mendengar cerita bu Nina masih mempunyai lahan yang kosong yang bisa digarap, ada sebuah harapan baru dihati pak Hadi untuk pindah dan tinggal di desa ini. Dia bisa menggarap lahan bu Nina sebagai mata pencahariannya. Dan berencana menjual rumahnya yang ada dikota kemudian dibelikan rumah disini atau tanah kosong kemudian membangun rumah sederhana ditanah kosong tersebut untuk mereka tinggal. Dengan demikian mungkin Sekar bisa melupakan Gilang cepat atau lambat dan dia bisa hidup tenang karena nyawa Sekar tidak terancam lagi.
__ADS_1
Akhirnya dengan agak ragu-ragu memgutarakan niatnya dihadapan bu Nina. Dia juga menceritakan tentang kekhawatirannya bila dia tetap melanjutkan hidupnya dikota. Bu Nina pun menyambut baik dengan niatan pak Hadi dan berjanji akan membantu semampunya dalam mengurus kepindahan domisili pak Hadi dari kota ke desa Cipaganti.
Menjelang tengah hari Sekar dan Guntur pun datang sambil membawa beberapa ekor ikan hasil pancingannya.
"Kalian ikut mancing juga," tanya bu Nina pada Sekar dan Guntur. Sambil mengeluarkan bekal makan siang yang sudah disiapkan dari rumah.
"Iya bu, aku kenal baik sama om itu, kami sering ketemu saat aku pulang dari kota, kebetulan dia membawa pancing lebih dan meminjamkan kepada kami dan kami pun diberi umpan, aku dan mbak Sekar senang sekali bu, iya kan mbak," Guntur menceritakan pengalamannya dengan penuh semangat. Mengingatkan bu Nina pada saat Guntur masih anak yang begitu ceria dan menggemaskan. Walaupun Guntur seringkali menangis jika di ledek oleh temannya, kalau dia tidak punya ayah.
"Ya sudah, ikannya kalian simpan dulu untuk lauk makan malam kita, sekarang kita makan dulu ya," bu Nina menyodorkan piring yang sudah terisi penuh oleh nasi, lauk dan sayur kepada Sekar, Guntur dan pak Hadi. Tak lupa pula dia menuangkan air putih kedalam gelas-gelas plastik dan menyerahkan kepada mereka bertiga.
Sambil mengobrol ringan, sesekali tersenyum mereka makan dengan nikmat seperti sebuah keluarga sederhana yang bahagia. Dimana mereka dikaruniai seorang gadis yang cantik dan seorang pemuda yang tampan karena bapak dan ibu mereka juga cantik dan tampan. Tapi itu adalah pandangan bagi orang yang belum mengetahui kalau mereka bukanlah satu keluarga.
__ADS_1
********