
Gilang meninggalkan Sitah begitu saja setelah mendengar janji gadis itu yang tidak ingin mengulangi perbuatan bejatnya. Wanita itu benar-benar merasa terhina. Gilang yang dia dambakan selama ini ternyata begitu tak bersimpati kepadanya. Mungkinkah itu karena perbuatan buruknya atau memang lelaki itu selalu dingin pada setiap wanita.
Gilang langsung menuju parkiran, masuk kedalam mobil, mobil langsung melaju menuju kediaman bunda Reni.
"Sekar....aku pulang sayang, bunda lihat istriku?"
Gilang yang baru datang langsung memanggil wanita yang dicintainya. Dia memandang bundanya yang tengah bermain dengan Elang cucu semata wayangnya, sementara disampingnya duduklah Hawa putri sambungnya sambil memainkan boneka panda.
"Sekar dikamar, dia baru saja selesai mandi, katanya kalian hari ini akan jalan-jalan"
Gilang mengayunkan langkahnya mendekati bunda Reni mencium punggung tangannya kemudian tak lupa mencium jagoan kecilnya dan adik tirinya.
kreeet...
Perlahan, tanpa mengetuk pintu Gilang menarik Handle pintu. lelaki itu memajukan wajahnya, memanjangkan lehernya, pandangannya menyapu keseluruh sudut ruang kamar, hingga pandangannya terhenti disebuah meja rias miliknya. Sang bidadari kesayangannya sedang duduk dengan handuk sebatas dada, sementara pahanya putih bersih terpampang indah sangat menggoda iman.
Gilang berjalan perlahan mendekati istrinya
"Kakak baru pulang, tunggu sebentar yah, aku baru selesai mandi"
Gilang terkejut rupanya Sekar sudah mengetahui kedatangannya.
"Lama juga enggak papa, aku akan sabar menantimu," ucap Gilang seraya merangkul istrinya dari belakang. Dia berbisik ditelinga istrinya.
"kita jadi jalan kan kak, tunggu sebentar yah, aku siap-siap dulu"
__ADS_1
Sekar membalas dengan berbisik tepat digendang telinga Gilang, deru nafasnya terasa hangat menerobos ketelinga bagian dalam dan membuat Gilang merasa tak sanggup lagi menunda waktu ibadahnya. Dia mengangkat tubuh Sekar dan membaringkannya diranjang. Dia kembali teringat masa-masa masih menjadi kekasih Sekar. Diranjang inilah dia sering menghabiskan waktu luangnya untuk berhayal mamadu kasih, melewati malam-malam panas penuh gairah jika kelak telah menikah dengan Sekar. Kini khayalannya dulu akan segera dia wujudkan.
"Kakak kita akan pergi jalan-jalankan, kenapa malah membawaku ketempat tidur," teriak Sekar dengan suara dibuat manja.
"Sebelum kita pergi jalan-jalan, kita harus awali dengan ibadah pernikahan dulu, biar jalan-jalannya lebih afdol," Sahut Gilang sembari memeluk dan mencium istrinya dengan sangat lembut hingga menciptakan kenikmatan dan keindahan yang tak dapat dilukiskan, rasanya yang begitu luar biasa.
Setelah satu jam lamanya akhirnya keduanya mencapai puncak kebahagiaan yang mereka inginkan. Sekar kembali mengulangi mandinya setelah peluhnya membasahi seluruh tubuhnya dan bercampur dengan peluh suaminya.
"Kalian lama sekali, katanya mau jalan-jalan. Ayo berangkat sana, biar bunda yang jaga Elang"
Bunda Reni memandang kedua rambut pasangan suami istri yang sama-sama basah. Dia tersenyum dan teringat malam-malam penuh cinta yang sering dilewati bersama pak Soko suami miskinnya.
"Iya bunda kami berangkat," jawab Gilang sembari mencium punggung tangan bundanya dan melangkah keluar menggandeng Sekar.
******
Lelah dengan rutinitas yang selalu dia jalani. Kondisi keuangannya tak juga membaik. Gaji diReni Baskara Grup memang dua kali lebih besar daripada bekerja diperusahaan perkebunan porang di desanya.
Dulu saat bekerja diperusahaan Gilang, gajinya hanya untuk memenuhi biaya hidupnya semata. Namun sekarang banyak biaya yang harus dia tanggung. Biaya kontrakan, biaya makan. Dulu dia selalu makan dirumah namun sekarang dia harus masak sendiri atau membeli diwarung. Biaya hidup ibunya dulu ditanggung oleh ayahnya, namun sekarang dialah yang harus menanggungnya. Apalagi sejak ibunya mengetahui kalau gajinya sekarang lebih besar. Bu Tarni tak lagi bekerja dikebun dengan alasan bekerja dikebun tak lagi menguntungkan karena harga pupuk dan bibit tanaman yang selalu naik terus.
Waktu terus berlalu, bulan berganti bulan dan tahunpun ikut berganti tahun. Ditahun baru ini perusahaan Reni Baskara Grup akan mengadakan sebuah acara syukuran karena meningkatnya omset yang fantastis selama kepemimpinan pak Soko.
Beberapa pimpinan dari perusahaan lain dikota ini pun diundang oleh perusahaan Reni Baskara Grup. Semua berkumpul dan saling menyapa antara karyawan dengan jabatan tertinggi hingga karyawan biasa dengan jabatan rendah. Semua membaur menjadi satu menikmati jamuan makan malam dan aneka makanan lezat yang diadakan di ballroom hotel bintang lima ternama di kota ini.
Sitah terus melangkah untuk menyapa teman kerjanya, namun diam-diam dia memperhatikan pak Soko, sementara ditangannya ada air mineral yang isinya telah di tukar dengan minuman lain. Saat netranya melihat pak Soko diapun mendekat dan menyapanya.
__ADS_1
"selamat malam pak, apa bapak cuma sendiri, ibu tidak ikut? " sapa Sitah.
"Ibu ikut, tapi masih ketoilet" jawa pak Soko ramah.
kini mereka pun terlibat obrolan. sengaja Sitah memilih topik obrolan yang menarik yang berhubungan dengan pekerjaan agar pak Soko tidak mudah jenuh. Setelah beberapa lama, bunda Reni tak juga nampak , akhirnya pak Soko pun memutuskan untuk memyusulnya ke toilet wanita.
"Saya mencari istriku dulu ya Sitah, silakan kamu mencicipi semua hidangan"
Pak Soko pun berlalu meninggalkan Sitah namun dia tidak mencari istrinya tapi dia hanya menjauh dan mengawasi gerak-gerik Sitah. Setelah beberapa saat dia mengawasi Sitah, kebetulan bunda Reni telah selesai dari toilet. Dia heran melihat suaminya diam-diam memperhatikan wanita berkulit eksotis dengan pakaian minim.
"Mas lagi ngapain, memperhatikan wanita seksi itu"
Bunda Reni menyapa suaminya dengan nada ketus dan wajah merah padam. Pak Soko segera merangkul sang istri sembari menjelaskan tentang kecurigaannya pada Sitah. Dia berbisik mengajak bunda Reni untuk mengerjai Sitah seperti yang dia tadi lakukan.
Kini wajah istri orang nomor satu di Reni Baskara Grup terlihat cerah kembali, dia mengangguk-anggukan kepala dan tersenyum pada suaminya.
"Apa kabar Sitah" sapa bunda Reni menyalami sekertaris suaminya dengan ramah, begitupun Sitah, dia menjawab sapaan bunda Reni dengan ramah pula. Bunda Reni terus mengajak ngobrol Sitah dan dibuat seasyik mungkin, hingga dia tak menyadari kalau pak Soko telah beraksi menukar minumannya dengan minuman Sitah. Setelah aksinya berhasil dia memberi kode pada istrinya.
Bunda Reni meminum air yang sejak tadi dia pegang ditangannya.
"Ayo Sitah, diminum airnya"
Pak Soko meminum air yang ada dihadapannya. Begitupum Sitah, dia ikut minum air yang ada dihadapannya.
Waktu terus berlalu, malam telah larut, kini pestapun telah berakhir. Sitah melangkah dengan tertatih, kepalanya terasa pusing. Bunda Reni menatap pak Soko seraya tersenyum. Pak Soko mengacungkan jempol tangan kanannya pada sang istri. Mereka pun pulang menuju parkiran sembari bergandeng tangan dan senyum terus mengembang dibibir keduanya.
__ADS_1
*******