
Pak Hadi yang sedang duduk santai diteras rumah langsung berteriak memanggil istrinya.
"Bu....bu...itu Guntur sudah datang, ayooo sini lihat anak lelakimu. Apa keadaannya baik-baik saja. Rasanya bapak tidak tega mau melihat sendiri"
Bu Asih yang sedang menyuapi Langit langsung berlari kedepan menghampiri suaminya.
"Ya ampun Guntur kamu pulang nak.. Terima kasih ya Tuhanku, anakku telah engkau kembalikan dengan selamat"
Bu Asih berlari mendekati Guntur sambil menengadahkan kedua tangannya berucap syukur karena putranya pulang dengan selamat.
"Kamu baik-baik saja kan Tur, tidak ada luka serius kan ya"
Bu Asih memeluk putranya, meraba wajahnya, pandangannya menyorot ke seluruh wajahnya hingga turun keleher, pundak hingga keujung kaki. Hatinya lega seketika saat melihat putra terkasihnya dalam kondisi baik-baik saja.
"Ibu jangan terlalu lebai bu. Tentu aku baik-baik saja, cuma masih ngantuk karena perjalanan jauh. Pertanyaan ibu seperti aku baru pulang dari medan ]perang saja"
Guntur menyalami kedua orang tua lalu mencium punggung tangannya dengan penuh hormat.
"Iya sih Tur, ibu cuma sangat senang kamu pulang dalam kondisi utuh" bu Asih terus bicara.
"Huss jangan seperti itu bu, ibu sama aja berprasangka buruk sama keluarga Antinia. Tapi Gimana Tur kamu disana, tidak diapa-apain kan?"
Pak Hadi memotong ucapan istrinya, dia juga bertanya dengan penuh kekhawatiran pada putranya. Guntur ingin tertawa melihat ke khawatiran kedua orang tuanya yang benar-benar tidak pada tempatnya.
"Guntur baik-baik saja bu, pak, keluarga Antina memperlakukan Guntur dengan sangat baik. Mereka kerap memujiku dan merasa kagum padaku. Hubungan kami langsung direstui dan menginginkan agar Guntur secepatnya melamar Antinia. Beliau sama saja seperti ibu, ingin anaknya segera menikah dan membuatkan mereka cucu," sahut Guntur menjelaskan.
Bu Asih dan suaminya saling pandang, mereka seperti tak percaya dengan penjelasan anak lelakinya.
"Masa iya sih Tur, segampang itu kamu bisa meluluhkan mereka ibu kok sepertinya kurang percaya"
__ADS_1
"Kalau bapak sih percaya bu, anak bapak itu mirip seperti bapak, pandai meyakinkan orang lain, karismatik dan tampan lagi," puji pak Hadi.
Kedua orang tua Guntur saling berdebat mempertahankan pendapatnya masing-masing. Karena merasa pusing dengan perdebatan kedua orang tuanya, lelaki muda itu terus melangkah kemeja makan, dia membuka tudung saji dan melahap makanan yang ada di meja makan. Hari ini selera makannya sedang sangat bagus seperti suasana hatinya. Apalagi sepanjang perjalanan ke kota, Guntur tak menemukan makanan yang senikmat masakan bu Asih.
Lelah berdebat dengan suaminya dan tiada hasil apapun, akhirnya bu Asih menyusul putra kesayangannya dimeja makan, perutnya sudah sangat lapar.
"Ya ampun Guntur kenapa nasi dan lauknya kamu habiskan, itukan jatah untuk makan kita bertiga pagi ini," ujar bu Asih seraya memindahkan nasi dan lauk pauk yang hanya tinggal sedikit kepiringnya.
"Guntur lapar bu, masakan ibu memang paling ma nyus, Guntur makin sayang sama ibu. Nanti kalau Antinia sudah resmi menjadi istriku, tolong ajari dia masak ya bu!"
Guntur terus melahap makanannya. Pak Hadi datang, lelaki setengah baya itu terkejut karena nasi dan lauk dimeja makan telah habis.
"lho bu kok nasinya habis, bapak makan apa? Padahal bapak sudah lapar!"
Pak Hadi duduk dimeja makan sembari memandang istri dan anak lelakinya yang sedang makan.
"Tunggu sebentar ya pak, sebentar lagi ibu masak lagi kok, tuh lihat anakmu yang lagi jatuh cinta ternyata bisa ngabisin makanan," ucap bu Asih sembari terus melahap makanananya.
Setelah menempuh perjalanan panjang kini mereka telah sampai di pintu gerbang rumah Antinia. Seorang satpam yang sedang berjaga dipos satpam menyambut mereka dengan sopan.
"Mas Guntur silakan masuk, langsung saja kedalam tidak usah sungkan"
Ibu dan pak Hadi terlihat terkesima melihat betapa megahnya rumah Antinia.
"Ya ampun Tur, rumah calon mertuamu besar sekali itu ada kolam renangnya, gazebo-gazebo yang ada taman samping rumah itu sepertinya terbuat dari bahan yang berkualitas, pasti mahal harganya"
Bu Asih terus mengarahkan pandangannya kesegala arah. Pak Hadi langsung mencolek pinggangnya pelan.
"Jangan bikin malu bu, rumah orang kaya memang begini. Matamu itu jangan jelalatan melihat kesegala arah kaya maling aja. Lihat kedepan, nanti malah nabrak," ucap pak Hadi mengingatkan istrinya.
__ADS_1
"Mari pak Guntur langsung masuk saja, tuan dan nyonya ada diruang tamu. Silakan masuk pak, bu, cucunya ganteng sekali"
Seorang wanita setengah baya yang merupakan asisten rumah tangga dirumah Antinia menyambut mereka dan mempersilakan masuk. Wanita tua itu memandang kearah Langit yang tertidur pulas dalam gendongan bu Asih.
"Ini anak saya bu, bukan cucu saya, dia adiknya Guntur"
"Maaf bu, saya kira cucu ibu, jadi saudaranya mas Guntur, mohon dimaafin yah.
Wanita itu tersenyum malu, dia langsung berlalu pergi setelah meminta maaf. Sementara pak Hadi langsung menggandeng bu Asih mengikuti Guntur masuk menuju ruang tamu Antinia yang begitu luas. Sofa-sofa yang megah dan terlihat mahal berjajar. Sederetan meja yang diatasnya terlihat minuman dalam botol dan aneka cemilan yang ditempatkan dalam toples besar dan transparan tersusun rapi.
Seorang wanita setengah baya, dengan rambut pirang dan pakaian mewah, perhiasan mahal disetiap bagian dari tubuhnya menyalami bu Asih dan memeluknya.
"Ibu mamanya Guntur kan, anda cantik sekali, cantik alami, masih original tidak tercemar seperti saya"
Ucapan nyonya Luna membuat semuanya mengulum senyum. Antinia menyikut mommynya.
Ayo duduk nak Guntur pak Hadi, pak Hadi kan namanya, saya tidak salah sebut nama" setelah menyambut tamunya dengan saling bersalaman dan berpelukan. Tuan Antoni mempersilakan tamunya untuk duduk.
Sementara Antinia mengeluarkan sebuah kasur kecil dan bantal lalu mengamparnya dilantai tidak jauh dari mereka duduk.
"Bu, Langit biar tidur dikasur itu aja, biar ibu bisa ngobrol dengan nyaman"
Antinia mengambil Langit yang ada di dalam gendongan bu Asih kemudian dia membaringkannya dikasur kecil yang tadi dia sediakan. Sementara mommy dan dadynya terlihat kagum, tak menyangka anaknya sudah begitu dekat dengan calon mertuanya. Terlihat sekali kalau orangtua Guntur begitu bangga mempunyai menantu Antinia, bahkan dari pancaran matanya bu Asih begitu sayang kepada putrinya.
"Ibu sepertinya sudah akrap sama anak perempuan saya, apa Guntur sudah pernah membawanya kerumah ibu," tanya nyonya Luna pada calon besannya.
"Iya bu, saya selalu menyuruh Guntur untuk membawa Antinia kerumah, jika dia kangen dan ingin ngobrol dengan putri ibu. Karena kalau dirumah saya kan bisa mengawasi mereka, takutnya setan menggoda mereka untuk melakukan perbuatan yang tidak seharusnya.
Lagi pula kalau dirumah lebih aman dari gosip dan prasangka buruk ibu-ibu warga desa. Mereka akan berfikir kalau Guntur dan Antinia tidak melakukan yang aneh-aneh karena saya kan selalu ada dirumah.
__ADS_1
*******