
Satu persatu para penumpang memasuki bis jurusan Bumi Harapan. Sekitar setengah jam kemudian, semua kursi sudah terisi semua. Sang supir mulai mengemudikan bis keluar dari terminal induk menuju kejalan tol.
"Mau kemana bang," Seorang laki-laki muda berumur sekitar dua puluh tahun berambut gondrong dengan pakaian yang rapi menyapa pak Hadi.
"Saya mau ke desa Bumi Hangus, jawab pak Hadi singkat. Laki-laki itu langsung membuka matanya lebih lebar.
"Abang orang asli sana," tanyanya agak ragu.
"Bukan!!, saya belum pernah kesana, pak Hadi langsung menceritakan tujuannya ke desa Bumi Hangus. Dia langsung bercerita apa adanya karena sepertinya pemuda itu orang baik, siapa tahu dia bisa bantu sesuatu nantinya.
"Kenalkan nama saya Guntur, saya tinggal tidak jauh dari desa Bumi Hangus, kalau saya asli orang sana, saya merantau ke kota untuk menuntut ilmu, saya kuliah disalah satu perguruan tinggi dikota ini," ucap pemuda itu.
"Kalau abang mau ke desa Bumi Hangus, abang Bisa bareng saya, nanti saya tunjukkan tempatnya. Tapi abang hati-hati dengan barang berharga abang. Maklumlah penghuni didesa itu kan semua keturunan perampok, pencuri dan sejenisnya. Walaupun mereka sudah disumpah untuk tidak melakukan kejahatan lagi, tapi bila ada kesempatan mereka akan mudah tergoda untuk berbuat jahat,"ucap pemuda itu memberitahu.
"Terimakasih nak, saya tahu nak Guntur orang baik, makanya saya tidak segan-segan menceritakan permasalahan hidup saya walaupun saya baru mengenal nak Guntur, oh iya kenalkan nama saya Hadi, panggil bapak saja," ucap pak Hadi pada Guntur pemuda yang baru dikenalnya barusan.
"Terimakasih pak atas kepercayaannya," sahut Guntur, sepertinya pak Hadi sedang bersedih karena kehilangan anaknya dihari pernikahannya. Tatapannya begitu sayu menggambarkan goresan luka yang begitu pedih dilubuk hatinya yang paling dalam. Aku harus bisa membantunya untuk menemukan putri semata wayangnya. Karena putrinya adalah harapannya dimasa depan, sebab istrinya pergi entah kemana," bstin Guntur.
__ADS_1
Bis terus melaju memasuki jalan tol keluar dari propinsi dan memasuki propinsi tetangga. Semua penumpang nyaris tertidur karena perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan. Guntur dan pak Hadi tidur secara bergantian agar barang bawaan mereka tetap aman dalam penjagaan mereka. Walaupun baru beberapa jam mereka kenal namun mereka langsung akrab seperti sudah kenal dan bersama puluhan tahun. Guntur yang ramah dan ringan tangan dan pak Hadi yang bersifat kebapakan membuat mereka merasa cocok satu sama lain.
Tak terasa hampir dua puluh jam mereka menempul perjalanan, beberapa kali bis berhenti sekedar untuk beristirahat, makan dan shalat. Kini bis yang mereka tumpangi memasuki terminal Bumi harapan. Setelah sampai diterminal Bumi Harapan satu persatu penumpang turun, termasuk Guntur dan juga pak Hadi.
"Mari ikut saya pak, kita cari makan dulu, nanti di perjalanan tempatnya sepi kalau lapar susah mencari Warung, " ucap Guntur sembari menggandeng lengan pak Hadi seperti seorang anak Memapah orang tuanya. Pak Hadi pun merasa terharu diperlakukan begitu manis oleh Guntur.
"Seandainya Sekar mempunyai kakak atau adik seperti Guntur mungkin dia akan sangat bahagia, karena akan ada yang menggantikan posisinya menjaga Sekar setelah dia tiada nantinya," batin pak Hadi.
"Ini warung langganan Saya pak, rasanya lumayan enak dan harganya pas untuk kantong seorang mahasiswa he.... he.... " ucap Guntur tertawa. Mereka memesan dua piring nasi rames. Setelah menunggu beberapa saat sang pemilik warung pun menyuguhkan dua piring nasi dengan oseng-oseng kacang campur mie, oseng-oseng belut pedas dan telur dadar. Sebuah menu yang sederhana namun terasa sangat enak, karena dari kemarin pak Hadi tidak sempat makan nasi. Hanya sebotol air mineral dan beberapa bungkus roti yang dia beli disetiap pemberhentian bis Sejak dari kemarin pak Hadi tidak berselera makan, pagi ini setelah ngobrol asyik dengan Guntur perlahan fikirannya menjadi tenang kembali tidak cemas seperti kemarin. Mungkin karena dia telah menceritakan semua beban Fikirannya dan Guntur pun bersedia menemaninya mencari Sekar.
"Simpan saja uang bapak untuk keperluan nanti pak, kebetulan dikota saya kuliah sambil kerja, saya mempunyai uang sendiri," ucap Guntur dengan sangat ramah.
"Terimakasih nak Guntur, bapak sangat bersyukur karena Tuhan mempertemukan bapak dengan pemuda sebaik nak Guntur. Semoga Tuhan mengabulkan semua cita-cita nak Guntur" ujar pak Hadi.
"Aamiin, terimakasih pak atas doanya. Sebaiknya kita kepangkalan Ojek, kita naik Ojek saja. Sebaiknya bapak ikut kedesa saya yang tidak jauh dari desa Bumi Hangus, mungkin jaraknya kira-kira tiga sampai empat kilometer, nama desaku adalah desa Cipaganti. Nanti setelah sampai dirumah saya, bapak saya antar keliling-keliling dengan sepeda motor saya mencari Sekar. Soalnya kalau keliling-keliling pakai Ojek, bakalan mahal biayanya," ucap Guntur. Pak Hadi pun menurut saja mengikuti apa yang disarankan Guntur.
Setelah pak Hadi dan Guntur menaiki Ojek, tidak berapa lama mereka pun memasuki sebuah pemukiman yang penduduknya masih jarang. Sepeda motor yang mereka tumpangi pun sampai disebuah rumah beton. Kalau untuk ukuran dikota, rumah ini sederhana saja. Tapi disini rumah Guntur adalah rumah paling mewah bila dibandingkan tetangganya.
__ADS_1
Pak Hadi dan Guntur segera turun dari kendaraan, lagi-lagi Guntur membayar semua ongkos Ojek mereka berdua.
"Ayo masuk pak, ini rumah saya, bapak tidak usah sungkan, saya hanya tinggal bersama ibu saya, sebentar lagi mungkin ibu pulang dari ladang. Bapak saya meninggal sejak saya masih bayi. Ongkos Ojeknya biar saja saya saja yang bayar pak, saya sudah anggap bapak seperti bapak saya sendiri," ucapan Guntur membuat pak Hadi sangat terharu. Bagaimana dia tidak terharu, disaat dia sedang bingung kemana mencari Sekar ternyata masih ada pemuda baik yang mau menolongnya.
Guntur langsung mempersilahkan pak Hadi untuk segera mandi. Mungkin dia tau kalau sejak semalam pak Hadi belum mandi. Selesai mandi pak Hadi langsung menghampiri Guntur yang sedang asyik ngobrol dengan seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahun lebih.
"Nah ini bu!!, yang namanya pak Hadi, bapak yang tadi Guntur ceritakan. Pak Hadi ini ibu saya, ibu yang sudah membesarkan saya, menyekolahkan saya dengan hasil jerih payahnya sendiri namanya ibu Nina. Saat pak Hadi melihatnya, dia langsung terkejut, ternyata wanita itu adalah Asih istrinya yang puluhan tahun telah meninggalkan dia dan Sekar. Namun yang dia heran, Asih sepertinya tidak mengenalinya.
" Sebentar ya pak!!, sekarang giliran Saya mandi, kalian silakan ngobrol dulu,"
ucap Guntur sembari beranjak meninggalkan Pak Hadi dan bu Nina.
"Asih kenapa kamu pura-pura tidak mengenaliku. Kenapa, kamu meninggalkan aku dan Sekar"ucap pak Hadi pada Asih yang memandangnya dengan penuh keheranan.
"Maaf pak Hadi, bapak berbicara seolah bapak sudah mengenal saya. Tapi maaf pak saya sama sekali tidak mengenal bapak," ucap bu Nina.
**********
__ADS_1