Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 102. Reaksi Pak Hadi


__ADS_3

Guntur tertawa gemas dan menepuk bahu orang yang baru saja resmi menjadi kekasihnya.


"Oh jadi itu yang kamu khawatirkan, tentu saja aku akan memperjuangkan untuk meyakinkan kedua orang tuamu, bahwa cintaku padamu begitu besar, dan aku akan selalu setia dan bertanggung jawab atas dirimu andai kita direstui untuk menikah nanti"


Guntur menatap lekat wajah kekasihnya yang tengah memandangnya.


"Benarkah?, tolong perjuangkan aku semaksimal mungkin. Aku juga akan meyakinkan kedua orang tuaku kalau kamu sangat layak untukku"


Guntur tersenyum dan menggenggam tangan Antinia, mengucapkan terimakasih atas cinta yang telah diberikan.


Hari telah sore, Gunturpun mengantarkan Antinia ketempat tinggalnya setelah mereka makan bersama Guntur dengan keluarganya.


"Baik-baik ya dirumah, maaf tidak menemani, takut dimarahi ibu he...he..."


"Iya aku mengerti, ibumu ternyata sangat perhatian dan sangat peduli dalam menjaga nama baikmu," ujar Antinia.


"Namanya juga seorang ibu, kamu pun nanti pasti sangat peduli dan posesif dalam menjaga anak-anakmu seperti ibuku dan mommy kamu"


"Maksudnya mommyku"


Antinia mengarahkan telunjuknya kedadanya sendiri, tak paham dengan apa yang maksud Guntur.


"Ya seperti mommy, kalau beliau tidak setuju dengan hubungan kita, artinya mommymu sangat peduli dan sayang sama kamu, karena dia menginginkan yang terbaik untukmu versi beliau," ucap Guntur.


"Oh iya sih, versi terbaik menurut mommy, bukan menurutku dan menurut kita, tapi intinya semua itu karena rasa sayang nya sama aku, paham deh akunya," jawab Antinia.

__ADS_1


Merasa tidak nyaman terlalu lama berdua dengan kekasihnya, Gunturpun pamit pulang. Antinia menatap kepergian Guntur dengan hati penuh cinta hingga mobilnya menjauh dan tak terlihat lagi.


Sampai dirumah pak Hadi menyambut Guntur dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Duduklah tur, bapak mau bicara"


Guntur mendekati pak Hadi dan duduk disampingnya. Sementara bu Asih yang sedang mengasuh langit juga duduk tak jauh dari mereka.


"Kamu yakin mencintai gadis bule itu dan ingin menjadikannya istrimu?"


Pak Hadi memandang Guntur dengan wajah terus mengamati gerak-gerik putranya, berusaha mencari kejujuran dimatanya.


"Guntur serius pak, baru kali ini Guntur merasakan jatuh cinta pada seorang gadis, dan Guntur ingin memperjuangkannya. Semoga kami berjodoh," sahut Guntur.


Pak Hadi meneguk segelas air putih yang ada dihadapannya. Dia menyampaikan rasa khawatirnya kepada Guntur, mengingat keluarga Antinia adalah keluarga berada yang mustahil mau menerima Guntur menjadi menantunya. Lelaki paruh bayah itu menyarankan Guntur agar sebaiknya berfikir ulang untuk menjalin hubungan dengan Antinia.


Pak Hadi tertunduk, dia terlihat murung dan kedua matanya berkaca-kaca, bayangan masa lalu yang memilukan seolah akan terulang lagi menimpa anak lelaki yang sangat disayanginya. Dengan suara bergetar dia lalu melanjutkan kembali ucapannya.


"Bapak takut terjadi hal buruk sama kamu, kamu anak kebanggaan bapak, bapak takut kehilanganmu"


Kini pak Hadi tertelungkup menyembunyikan wajahnya. isakannya mulai terdengar walau pelan. Guntur mendekat dan memeluknya. Lelaki tampan itu berusaha memberikan kekuatan kepada sang bapak yang pernah mengalami trauma karena peristiwa panjang yang membuat hatinya sakit karena cinta anak gadisnya yang tak mendapat restu dari orang tua kekasihnya.


"Bapak harus yakin kalau manusia hidup menjalani takdirnya masing-masing. Apa yang terjadi pada mbak Sekar mungkin itu sudah takdirnya. Bapak harus selalu ingat, apa yang terjadi pada mbak Sekar telah membawa pertemuan antara bapak, ibu dan Guntur. Seandainya mbak Sekar langsung mendapat restu bunda Reni mungkin kita tak mungkin bersama dan bahagia seperti sekarang ini, mungkin Langit tak pernah lahir kedunia. Jadi jangan diingat sakitnya saja pak, tapi lihat kebahagiaan dan anugerah apa saja yang telah kita terima atas hadiah dari sebuah ujian yang Allah berikan.


Begitupun dengan apa yang terjadi dalam perjalanan hidup Guntur. Tidak ada penderitaan yang datang tanpa diiringi kebaikkan didalamnya, tidak ada air mata yang sia-sia," ujar Guntur menjelaskan.

__ADS_1


Pak Hadi tersenyum dan menghapus air matanya. Wajahnya terlihat lebih cerah, ucapan Guntur benar-benar telah menyadarkannya bahwa Tuhan tak pernah mendatangkan ujian tanpa ada maksud baik didalamnya. Selalu ada keindahan setelah keburukan, selalu ada pelangi yang indah setelah ada hujan.


"Maafkan bapak nak, bapak terlalu larut dengan trauma yang pernah bapak alami. Bapak lupa bersyukur atas segala anugerah yang Tuhan berikan. Kamu benar seandainya perjalanan cinta Sekar kakakmu berjalan mulus, mungkin bapak sekarang masih hidup sendiri, kita tak pernah bertemu. Sekarang hidup bapak begitu berwarna, tapi bapak tak oernah berucap syukur dan berterimakasih kepada Tuhan, bapak cuma mengingat rasa sakit yang pernah bapak alami. Tanpa pernah mengingat kebahagiaan apa yang hadir setelahnya"


Pak Hadi menyentuh pundak Guntur dan menepuk-nepuknya.


"Mulai saat ini bapak akan mendukung apapun keputusan terbaikmu termasuk keinginanmu untuk menjadikan Antinia sebagai pendamping hidupmu. Bapak doakan semoga, orang tua Antinia bisa memberikan restu dan menerimamu sebagai menantu, walau kehidupan strata sosial kita jauh berbeda"


"Aamiin pak, terimakasih atas doa dan dukungan bapak, itu semua sangat berarti buat Guntur," lanjut Guntur.


"Kamu tidak minta doa sama ibu Tur? apa kamu anggap doa ibu tak ada artinya"


Bu Asih yang dari tadi memperhatikan interaksi antara suami dan putranya mendadak protes, membuat dua orang lelaki beda generasi yang sedang larut dalam suasana haru terlonjak kaget.


"Astaga, aku fikir ibu tadi masuk kamar untuk menidurkan langit, ternyata masih disini," ujar Guntur memandang kearah bu Asih.


"Tentu saja aku juga mengharapkan doa dan dukungan ibu juga. Mana mungkin aku tak mengharap doa ibu. Sedangkan kita semua tahu kalau surga berada ditelapak kaki ibu. Ibu pasti dukung hubunganku dengan Antinia kan?"


Guntur mendekati bu Asih dan memeluknya. Bu Asih membelai pundak putranya dengan penuh rasa bangga.


"Aku bahagia sekali karena sekarang putra tampanku tak lagi jomblo. Sekarang ada wanita cantik, baik yang selalu mengisi hatimu. Semoga wanita-wanita diperkebunan porang bisa menerima keputusanmu kalau kamu tak bisa menjadi kekasih mereka. Semoga mereka menerima kekalahan ini dengan lapang dada," ujar bu Asih.


Guntur dan pak Hadi tertawa dengan doa-doa yang dipanjatkan bu Asih yang mengisyaratkan kalau Guntur pemuda yang banyak diharapkan oleh kaum hawa untuk menjadi kekasihnya.


"Ibu ini doanya aneh-aneh saja, kaya aku ini lelaki yang sedang diperebutkan oleh para gadis dikantor perusahaan perkebunan porang. Jangan kepedean bu malu," jawab Guntur.

__ADS_1


"Ibu bicara fakta karena ibu tahu dikantor banyak yang mendambakan menjadi kekasihmu, semoga tidak terjadi permusuhan dan baku hantam diantara mereka," Sahut bu Asih lagi.


*******


__ADS_2