Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 118. Kedatangan Keluarga Antoni


__ADS_3

Waktu terus berlalu, kini sepekan telah berlalu setelah penikahan Guntur dan Antinia. Bu Asih dan tetangga sekitar sedang mengadakan persiapan acara resepsi pernikahan yang akan dilaksanakan besok hari dikediamannya.


Tenda telah didirikan, baik dihalaman rumah maupun dibelakang rumah bu Asih. Pelaminanpun selesai dipasang. Sebuah iring-iringan mobil mewah berhenti dihalaman rumah pak Hadi. Dengan tergopoh-gopoh bu Asih yang sedang berada diruang tamu melangkah keluar rumah, turun kehalaman. Netranya menyorot kesegala arah.


"Pak....bapak...oh ya bu, lihat suami saya tidak. Itu ada rombongan besan dan menantu saya datang dari kota. Tolong salah satu dari kalian carikan pak Hadi dan juga bantu saya layani tamu, buatkan minum, siapkan cemilan ya," ujar bu Asih mengarahkan pada para tetangga yang sedang bantu-bantu dirumahnya.


Selanjutnya wanita itu melangkah menyambut kedatang besan, anak, menantu dan kerabat dari besannya.


"Biar aku aja yang siapin minum, aku juga nanti yang menguguhkan kepada tamu, sekalian kepingin lihat bule yang baru datang dari kota," ujar salah satu ibu-ibu yang merupakan tetangga bu Asih.


"Aku yang siapin cemilan, siapa tahu disitu ada bule duda kerabat dari besannya bu Asih yang naksir aku. Biar janda tapi aku kan masih segar bugar," sahut ibu yang lain yang ternyata dia seorang janda ditinggal meninggal oleh suaminya setahun yang lalu.


Sementara bu Asih menyambut besannya yang baru turun dari mobil bersama Sekar dan Gilang yang memang sudah stand by dirumah bu Asih ikut bantu-bantu buat acara besok.


"Ayo besan silakan masuk, jangan sungkan, maaf rumahnya sederhana dan sempit. Namanya rumah dikampung, tidak besar-besar seperti dikota," ujar bu Asih.


"Selamat datang tuan Antoni dan nyonya, kenalkan ini istri dan anak saya. Istri saya adalah anak pak Hadi dan bu Asih, kakaknya Guntur," ujar Gilang mengenalkan istri dan Elang yang sedang digandeng Sekar karena baru mulai belajar jalan.

__ADS_1


Semua saling bersalaman, tuan antoni beserta nyonya memandang kearah warga desa yang sedang bantu-bantu dirumah bu Asih dan saling tersenyum ramah. Beberapa warga yang berpapasan dengan mereka langsung disapa dan disalami oleh tuan Antoni beserta nyonya. Ada juga beberapa warga yang ingin mencium tangannya, namun pak Antoni dan nyonya Luna selalu menarik tangannya, mereka menolak dicium tangannya karena menurut pasangan bule itu terlalu berlebihan.


"Bagaimana kabar bundamu Gilang. Sepertinya bunda Reni sekarang tidak pernah berkumpul lagi dalam grup sosialita"


Nyonya Luna berteman dengan bunda Reni dalam grup sosialita. Namun semenjak menikah dengan pak Soko bunda Reni tak mau lagi hadir dalam setiap pertemuan para ibu-ibu sosialita dengan berbagai alasan. Sering dibuli karena menikah dengan lelaki miskin, teman-temannya yang tak lagi sejalan dengan jalan pemikirannya membuatnya tidak merasa nyaman gabung dengan mereka. Keluarga dan anak-anaknya lebih prioritas. Gilang menjelaskan semua alasan orang tuanya yang kini tak pernah lagi bergabung dengan teman-temannya termasuk nyonya Luna.


"Oh jadi begitu ceritanya. Tapi aku terakhir bertemu dengan bundamu yang menggandeng suaminya disebuah mall, dia terlihat lebih cantik dan ceria. Kelihatannya dia bahagia sekali," sahut nyonya Luna.


Kehidupan bunda Reni saat ini memang sangat bahagia dan bersahaja, beliau tak terlalu memikirkan kemajuan perusahaan atau ketakutan kalau perusahaannya akan bangkrut. Kini dia pasrah dan yakin kalau pak Soko bisa mengelolanya dengan baik dan dia percaya pak Soko suami yang baik dan tak akan pernah menghianatinya.


Mereka terus berbincang hingga pak Hadi datang menyapa dan menyalami mereka satu persatu.


"Ingat Tur jangan lupa daratan, mentang-mentang kamu semakin ganteng dan mempesona lantas membuatmu tebar pesona pada semua wanita. Yang perlu kamu ingat kamu kelihatan ganteng dan mempesona itu kan berkat Antinia yang selalu perhatian dan pandai membuat suaminya senang dan bahagia, betul kan pak," ucap Gilang meminta pendapat pak Hadi.


Pak Hadi sependapat dengan Gilang, kebaikan apapun yang terjadi setelah pernikahan itu semua terjadi atas adanya campur tangan istri. misal meningkatnya rezeki setelah menikah, terlihat tampan dan awet muda, itu semua terjadi karena istri yang begitu perhatian. Beda istri beda rezeki, beda istri beda kebahagiaan, begitu katanya menurut orang tua dulu, itu menurut pak Hadi namun pak Antoni pun sependapat dengan hal itu.


"Jadi sudah seharusnya setelah menikah kalian menjaga jarak dari pergaulan dengan lawan jenis, agar tidak terjadi fitnah, demi menjaga perasaan istri," tuan Antoni menimpali.

__ADS_1


"Ayo pak, bu, Guntur, Gilang dan semuanya kita makan dulu. Itu sudah disiapkan. Mari kita ketenda yang ada disebelah rumah. Setelah ini kalian baru istirahat" ujar bu Asih mengajak besan dan kerabatnya berjalan kearah halaman samping. Ternyata disana ada sebuah tenda yang didalamnya telah tersusun kursi dan meja yang diatasnya berbagai hidangan khas desa Cipaganti tersaji.


Nyonya Antoni duduk tepat disebelah suaminya. Dia mengambilkan nasi dan beberapa lauk dan sayur yang diinginkan suaminya. Selanjutnya dia juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Nyonya Antoni sengaja mengambil beberapa makanan yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya dan diletakkan dipiring terpisah karena takut rasanya tidak bisa bersahabat dengan lidahnya. Sementara Sekar, bu Asih dan Antinia juga melakukan hal yang sama.


Selesai makan Guntur membawa keluarga Antinia untuk beristirahat dirumahnya yang lama dimana Antinia tinggal disana saat belum menjadi suami Guntur.


"Ternyata orang desa Cipaganti ramah-ramah ya Tur, mereka begitu menghormati orang yang tinggal dikota seperti kita, iya kan dad?"


Nyonya Antinia menyentuh pundak suaminya yang duduk di kursi paling muka dimana Gunturlah yang mengemudikan mobil tersebut karena para supir masih beristirahat dirumah pak Hadi. Sedangkan Antinia dan mommynya duduk dikursi nomor dua. Dibelakang mobil mereka ada beberapa mobil yang membawa keluarga Antinia, ada keluarga dari mommy dan juga dadynya yang kebetulan tinggal satu kota.


"Tadi ada juga yang mau cium tangan mommy, tapi mommy langsung tarik tangan mommy agar tidak sempat diciumnya. Bukan apa-apa, mommy cuma merasa tidak pantas diperlakukan seperti itu. Mommy bukan orang suci atau istrinya para alim ulama. Mommy hanya wanita biasa yang kerap sombong dan banyak dosa," ujar nyonya Luna begitu antusias menceritakan kenangannya yang sangat unik.


"Laki-laki apa perempuan mom, yang mau cium tangan mommy," tanya tuan Antoni sedikit panik.


"Tentu saja perempuan dad, dady kan lihat tadi yang menyambut kedatangan kita perempuan semua," jawab bu Asih.


Bu Asih berusaha mengingat-ingat tentang perempuan yang menyambut kedatangan dia dan keluarga. Dia baru ingat kalau dari beberapa perempuan itu ada yang ingin mencium tangan suaminya.

__ADS_1


******


__ADS_2