
"Nak Gilang....ngapain nak Gilang kesini,"ucap pak Hadi nada bicaranya biasa saja namun terdengar tegas.
"Sa..saya mau jemput Sekar pak, maaf saya baru tahu kalau bapak dan Sekar ternyata ada di sini.
Pak Hadi yang baru saja masuk keruang tamu terlihat sangat kesal mendengar jawaban Gilang. Dia pun menjelaskan kalau Sekar adalah anaknya dan dia sudah memutuskan untuk pindah domisili di desa ini, jadi tidak ada hak bagi Gilang untuk menjemput Sekar. Pak Hadilah yang mempunyai hal penuh atas Sekar selaku orang tua kandungnya. Pak Hadi berucap dengan nada Dingin. Gilang sangat terkejut dengan ucapan pak Hadi. Sebagai calon suami Sekar yang gagal menikahinya, tentulah dia ingin membawa Sekar kembali ke kota dan menikahinya kembali. Tapi sepertinya pak Hadi telah berubah fikiran, itu semua karena pak Hadi telah mengetahui kalo bunda Renilah yang telah menculik Sekar. Sempat terfikir oleh Gilang apakah pak Hadi telah menjodohkan Sekar dengan Guntur.
"Tapi saya sangat mencintai Sekar pak, kegagalan pernikahan kami bukanlah kehendak saya. Saya ingin kembali melangsungkan pernikahan dengan Sekar, saya janji peristiwa yang telah lalu tidak akan terjadi. Saya akan mengerahkan anggota saya untuk menjaga Sekar. Saya sangat mencintai putri bapak, saya mohon jangan pisahkan kami pak, ' ucap Gilang sembari tertunduk.
Sebenarnya pak Hadi tidak keberatan menerima Gilang sebagai menantu, dia tahu Gilang pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Mungkin banyak orang tua diluar sana yang mendambakan mempunyai menantu seperti Gilang. Tapi pak Hadi lebih mengkhawatirkan keselamatan Sekar. Batalnya pernikahan mereka karena penculikan yang dilakukan bunda Reni itu dianggap merupakan teguran dari yang Maha Kuasa kalau mereka tak seharusnya menikah.
Menurut pak Hadi, sebagai orang miskin, sudah seharusnya dia sadar diri. Diapun meminta pengertian Gilang, bahwasanya Sekar anaknya satu-satunya, hanya dia keturunannya. Dia harus menjaga keselamatannya dengan cara tidak menikahkannya dengan Gilang.
Sebab kalau pak Hadi membiarkan Gilang menikahi Sekar berarti dia telah membiarkan Sekar celaka akibat ulah bunda Reni yang tidak pernah merestui hubungan mereka dan terus memisahkan mereka dengan membuat Sekar celaka, atau bahkan dengan melenyapkan nyawa Sekar, itulah ungkapan pak Hadi pada Gilang dengan berapi-api, segala unek-unek yang dia pendam selama ini keluar tanpa ada filter.
Gilang pun sangat mengerti bagaimana perasaan bapak dari kekasih hatinya. Seandainya dia berada diposisi pak Hadi mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama.
Dengan kepala tertunduk Gilang pun menceritakan kalau kemarin dia sempat drop dan masuk rumah sakit, setelah kepergian Sekar perusahaan sempat mengalami kebangkrutan karena Gilang tidak bisa bekerja dengan baik. Disitulah bunda Gilang sadar bahwa Gilang tidak bisa hidup tanpa Sekar, Sekar memang tidak bisa membantu Gilang memimpin perusahaan seperti beberapa wanita yang bundanya jodohkan dengan dirinya. Tapi Sekar ada sumber semangatnya. Kehadiran Sekar mampu menjadi sumber kekuatan Gilang. Bunda sangat menyesali perbuatannya menculik Sekar, bunda juga sempat mengerahkan anak buahnya untuk mencari Sekar namun tak membuahkan hasil.
Gilang menarik nafas panjang, mencoba menatap pak Hadi kemudian mengalihkan pandangannya kepada semua yang ada di ruangan itu. Lalu dia pun melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Tapi saya tidak serta merta percaya kepada bunda setelah beberapa kali bunda berusaha memisahkan hubungan kami. Saat saya tau keberadaan Sekar, saya merahasiakannya dari bunda begitu juga sewaktu saya kesini, saya sengaja tidak pamit kepada bunda, hanya meninggalkan pesan pada satpam digerbang depan, " ucap Gilang.
"Terus kalau kamu bersikeras tidak ingin berpisah dengan Sekar apakah kamu mempunyai solusi atas masalah ini?. Yang jelas saya tidak akan membiarkan Sekar jauh dari saya, saya takut terjadi sesuatu dengan putri saya, " ucap pak Hadi menegaskan.
Mendengar penuturan pak Hadi, Gilang pun berfikir sejenak. Akhirnya dia pun memutuskan akan mengembangkan usahanya di tempat terpencil ini. Sehingga dia mempunyai akses menjalani hari-hari di sini dan menikah dengan Sekar lalu menjalankan rumah tangga dengan normal.
"Mengenai pekerjaan sudah saya fikirkan. mungkin Setelah menikah, saya akan sesekali pulang ke kota untuk menghandle perusahaan. Perlahan-lahan saya akan mengembangkan usaha disini," ujar Gilang.
"Kalau begitu keinginanmu, kita tanya bagaimana pendapat Sekar, apakah dia masih tetap bersedia jadi istrimu setelah semalam batal menikah, " tanya pak Hadi sembari memandang ke arah Sekar.
"Ayo.. Sekar kawin saja, jangan ditolak, sayang cari orang ganteng yang baik hati tuh...susahnya setengah mati"
Bu Nina memberi semangat kepada Sekar seraya menepuk-nepuk pundaknya. Sedangkan Sekar tertunduk malu dengan wajah memerah.
ucap Guntur memberi saran yang mendapatkan pelototan dari Bu Nina, namun Guntur hanya tersenyum simpul menaggapinya.
"Ia... Se.. Sekar ikut setuju saja sama rencana kak Gilang. Sekar sudah mempertimbangkan segala baik dan buruknya, tapi Sekar ingin tetap tinggal di desa ini, kasian bapak sendirian, boleh kan kak Gilang? ," ucap Sekar, seraya memandang ke arah Gilang dengan raut wajah malu-malu.
Gilang pun menjawab dengan anggukan kepala dan tersenyum sumringah memandang wanita pujaan hatinya.
__ADS_1
Bu Nina segera mengacungkan jempol kepada Sekar dan semua yang ada diruangkan itu pun tersenyum lega.
"Kalau itu kesepakatan kalian saya sebagai orang tua akan selalu mendukung dan merestui kalian"
Pak Hadi memberi saran kalau sebaiknya pernikahan Sekar dan Gilang dilaksanakan secara sederhana saja dengan mengundang beberapa warga desa di sekitar sini. Tapi sebelumnya alangkah baiknya kalau Gilang pulang dulu untuk mengurus surat menyurat yang diperlukan untuk di masukan ke KUA. Sekar sudah resmi menjadi warga desa Cipaganti, jadi alangkah baiknya kalau pernikahan itu dilaksanakan setelah pak Hadi dan Sekar pindah rumah, sekitar sebulan lagi.
"Baik pak saya setuju dengan saran bapak. Tapi boleh saya minta izin untuk jalan-jalan berkeliling disekitar desa ini untuk melihat suasana dan melihat potensi usaha apa yang bisa dikembangkan di desa ini, " Ujar Gilang.
Bapak Sekar tentu saja mengijinkan Gilang jalan-jalan di desa Cipaganti dan Sekitarnya, dia juga mengijinkan Sekar ikut serta agar bisa membicarakan rencana mereka berdua kelak. Namun mereka tidak di ijinkan hanya pergi berdua saja. Pak Hadi pun meminta tolong kepada bu Nina untuk menemani.
"Iya pak... siap ide bagus itu, " ujar Gilang tersenyum ceria.
"Saya juga siap menemani anak gadisku yang cantik ini, pokoknya tak akan ku biarkan si Gilang pegang-pegang dia sebelum halal, " ucap bu Nina penuh semangat.
"Aku ikut juga, selain menjaga mbak Sekar aku juga akan tunjukkan lokasi-lokasi yang bagus didesa ini. Aku pengin ngobrol banyak dengan kakak ipar seputar dunia kerja, sebentar lagi kan kuliahku selesai" ujar Guntur tak mau ketinggalan.
Pak Hadi pun tersenyum seraya mengangguk. Dia pun meminta maaf karena tidak bisa ikut mendampingi mereka. Karena pak Hadi masih ada kesibukan untuk mengawasi tukang agar rumahnya cepat selesai dan segera bisa ditempati.
" Ayo kita berangkat tapi sebelumnya kita antar dulu pak Soko kerumahnya. Pak Soko terimakasih banyak ya, berkat bantuan bapak semua rencana saya berjalan lancar. Seandainya saya tidak ketemu bapak mungkin saya masih muter-muter di desa ini, tanya sana tanya sini," ucap Gilang sembari mempersilakan pak Soko untuk duduk disamping supir.
__ADS_1
Gilang dan Sekar duduk dikursi nomor dua tepat dibelakang supir. Sedangkan Guntur dan bu Nina duduk dibelakangnya lagi. Mobil pun melaju pelan meninggalkan rumah bu Nina. Beberapa warga pun memperhatikan kepergian mereka dari teras rumah sambil tersenyum ramah dan ada juga yang melambaikan tangan.
*******