
Tok! Tok! Tok!
Setelah menunggu beberapa saat pintupun terbuka.
"Pak Hadi mencari pak Gilang dan bu Sekar?," Seorang asisten Gilang yang baru membukakan pintu menyapanya.
"Betul, mereka ada?"
"Kebetulan saya baru saja datang dari kampung pak, dan Asisten yang lain baru pulang dari pasar, saat kami datang bapak dan ibu tidak ada"
Tiba-tiba datang nenek Leni yang tinggal di sebelah rumah Gilang.
"Hadi kamu mencari Gilang dan istrinya"
"Iya, apa nenek tahu mereka ada dimana?"
"Tadi pagi Sekar dibawa Gilang dan asistennya dalam kondisi berdarah-darah, katanya sih mau dibawa ke puskesmas"
Pak Hadi terkejut mendengar kondisi sekar yang bersimbah darah. Dia menyesal sejak tadi tidak terpikir untuk menghubungi mereka.
Pak Hadi mengambil hand phonenya, seorang asisten menyuguhkan segelas kopi hitam kesukaan pak Hadi.
"Minumnya pak, tadi saya pikir bapak dan ibu lagi jalan-jalan, saya tidak tahu kalau ibu sedang dirawat," ucap asisten.
"Tidak apa-apa mbak!"
Sambil menunggu panggilan diangkat, pak Hadi menyeruput kopi didalam cangkir yang ada dihadapannya. Hingga beberapa kali dia melakukan panggilan keponsel Gilang dan Sekar secara bergantian, namun panggilannya tak juga dianggkat. Akhirnya dia berinisiatif untuk menelpon Deni, orang kepercayaan Gilang yang tahu segala hal tentang Gilang.
Baru sekali melakukan panggilan, Deni langsung mengangkatnya. Pak Hadi menanyakan keberadaan Gilang dan kondisi terkini Sekar putri terkasihnya. Dengan lancar Deni menjelaskan semuanya termasuk tentang vidio yang Gilang dan Sitah yang telah Viral. Namun Deni sudah melapor pada pihak yang berwenang untuk menindaklanjuti vidio viral yang sangat merugikan keluarga besar Gilang.
Pak Hadi manggut-manggut mendengar penjelasan Deni. Kini hatinya sangat lega mendengar kabar bahwa menantunya tidak pernah selingkuh dengan Sitah dan masih tetap setia kepada putrinya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar, pak Hadi yang sedang duduk diruang tamu beranjak berdiri membuka pintu ruang tamu.
"Pak Hadi..pak Gilangnya ada pak?"
Bu Tarni datang mencari Gilang, kening pak Hadi berkerut, dalam hati dia bertanya, ada apa ibu dari perempuan laknat bernama Sitah datang kerumah menantunya.
__ADS_1
"Ada perlu apa kamu mencari menantukuTarni"
Pak Hadi menyapa Tarni dan memandangnya dengan pandangan sinis.
"Tentu saja aku mau meminta pertanggung jawaban pak Gilang. Bapak sudah lihatkan vidio pak Gilang dan Sitah yang sedang viral"
buTarni menjawab dengan ketus.
"Tanggung jawab apa yang kamu inginkan, seharusnya kamu mendidik anakmu agar tidak jadi wanita murahan"
"Tentu saja pak Gilang harus menikahi Sitah anakku. Karena ulahnya dia. Bisa tidak ada lagi laki-laki yang mau sama Sitah. Karena Sitah dianggap telah ternoda"
Pak Hadi bangun dan menjelaskan jika vidio itu adalah rekayasa Sitah saat menculik Gilang. Namun bu Tarni bersikeras meminta pertanggung jawaban Gilang, tak perduli Gilang telah menikah dengan Sekar. Kalau Sekar menolak dimadu bu Tarni meminta agar Gilang menceraikan Sekar.
"Kalau itu memang mau kamu, silakan kamu bicara dengan Gilang, dia yang berhak memutuskan"
Pak Hadi kini merasa yakin, setelah menelpon Deni mengetahui apa yang sebenarnya yang terjadi. Gilang tak mungkin sudi menikahi Sitah, saat ini mungkin Gilang sangat membenci Sitah karena perbuatannya.
"Dari tadi saya memang mau bicara sama pak Gilang, pak Hadi yang tadi nanya saya, dasar kepo...mana pak Gilangnya?"
"Gilang sedang mengurus istrinya yang akan melakukan oprasi caesar"
"Percuma aku kesini, ternyata pak Gilang tidak dirumah, sebaiknya aku kerumah sakit kabupaten untuk meminta pertanggung jawaban pak Gilang agar mau menikahi Sitah.
Bu Tarni dengan tergesa-gesa menghampiri kendaraannya. Setelah mengenakan kaca mata hitam dan topi pantai diapun melajukan kendaraannya menuju rumah sakit kabupaten.
Mendengar bu Tarni akan menuju kerumah sakit kabupaten. Pak Hadi segera memberita tahu Deni melalui panggilan jarak jauh. Dia takut kehadiran bu Tarni akan mengganggu jalannya operasi caesar.
Pak Hadi juga melajukan mobilnya menuju rumah sakit, setelah memberi tahu bu Asih dan Guntur. Dia akan menjenguk putri yang dia besarkan dengan penuh kasih sayang tanpa didampingi seorang istri, sekaligus menjaga bu Tarni jangan sampai mengganggu anak dan menantunya.
Tepat jam delapan malam pak Hadi sudah sampai dirumah sakit. Dia melihat bu Tarni sedang bersitegang dengan Deni.
Setelah mengetahui keberadaan kamar rawat inap Sekar dari Deni melalui sambungan telepon beberapa saat yang lalu. Pak Hadi langsung melenggang masuk kedalam rumah sakit, melewati bu Tarni yang sedang adu mulut dengan Deni.
Tiba-tiba bu Tarni mengikuti pak Hadi yang hendak masuk menemui Gilang dan Sekar. Namun secepat kilat Deni langsung mencekal lengan bu Tarni.
"Lepaskan tanganku Deni, aku harus menemui pak Gilang untuk meminta dia menikahi Sitah"
Cekalan tangan Deni semakin kuat hingga lengan bu Tarni terlihat memerah.
__ADS_1
"Pak Gilang sedang tidak bisa ditemui oleh orang lain selain anggota keluarganya. Sebaiknya bu Tarni pulang saja"
"Kamu jangan kurang ajar Deni, perlu kamu ketahui, sebentar lagi pak Gilang akan jadi menantuku, berarti aku keluarganya juga"
"Sudahlah bu, bangun jangan kebanyakan mimpi. Mana mungkin pak Gilang mau sama Sitah yang kusut dan bulukan"
Bu Tarni langsung naik pitam mendengar teriakan Deni. Dengan sekuat tenaga dia melepaskan tangannya dari cekalan tangan Deni.
Plaaaak!!
Bu Tarni langsung menampar Deni. Hatinya sangat sakit mendengar hinaan lelaki dihadapannya.
"Kurang ajar sekali kamu Deni, awas kamu nanti," saat akan melanjutkan ucapannya. Kedua lengannya dicekal oleh dua orang satpam dan kemudian ditarik keluar dari rumah sakit.
"Lepaskannn.....lepaaskaaan. Awas kalian"
Tubuh bu Tarni terus ditarik hingga sampai dihalaman rumah sakit. Sampai disana barulah satpam melepaskan cekalan tangannya.
"Silakan pulang bu, kalau ibu nekat masuk rumah sakit lagi, maka kami akan menyeret ibu ke kantor polisi"
Mendengar akan dibawa ke kantor polisi, nyali bu Tarni pun memciut. Terbayang olehnya diinginnya tembok penjara dan meringkuk dibalik jeruji besi seperti yang sering dia lihat disinetron yang sering dia tonton.
Sementara itu pak Hadi terus menyusuri kuridor rumah sakit, hingga sampai deretan ruangan VIP. Dia terus melangkah mencari nomor kamar yang telah diinformasikan oleh Deni. Setelah melangkah beberapa meter, mertua dari orang nomor satu diperkebunan Porang itupun sampai dikamar yang dia tuju.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk"
Suara seorang lelaki dari dalam kamar yang dia kenal itu adalah suara Gilang menyuruhnya masuk.
"Bapak...."
Sekar terbaring diranjang rumah sakit dengan jarum infus ditangannya dan selang keteter ada diantara dua kakinya. Sementara Gilang tengah menggendong bayi yang sudah dibedong memakai topi bayi berwarna biru.
"Bagaimana keadanmu nak...kamu sehat"
Pak Hadi melangkah dengan cepat kearah Sekar sambil melirik Gilang yang tengah menggendong cucunya.
Pak Hadi langsung merengkuh putri tercintanya dan memeluknya dengan hati-hati, dia khawatir mengenai jarum infus ditangannya. Dia belai rambut anak gadisnya dengan penuh rindu. Tak terasa air mata bapak dan anak itu mengalir sebagai ungkapan rasa bahagia.
__ADS_1
*******