
Selesai mengganti pakaian, axel dan clara turun ke bawah.
Clara menuju ruang makan, ia melihat ada rujak seperti yang ia ingin pesan.
"xel, ini punya siapa." tanya clara.
"punya kamu sayang, tadi aku melihat ponsel kamu, sepertinya kamu menginginkannya, jadi aku pesan saja." ucap axel.
clara pun memeluk axel.
"terimakasih ya xel." ucap clara.
"eeeittss . .tapi tidak gratis cla." ucap axel.
"maksud kamu apa xel." aku harus bayar." tanya clara polos.
axel mengangguk.
"tapi dengan ini." ucap axel sambil menunjuk ke arah bibirnya.
"jangan aneh aneh xel." ucap clara.
Tiba tiba axel mencium langsung bibir clara di ruang makan.
"cup."
mama adel yang baru saja tiba pun terkejut melihat adegan itu.
"eheeem." ucap mama adel yang membuat keduanya melepaskan ciuman itu.
Mereka pun terkejut.
"ma." ucap mereka serentak.
"ingat, ini ruang makan, bukan ruang privasi kalian." ucap mama adel sambil senyum senyum.
"iii . .iya ma." ucap clara.
"malu banget rasanya ketahuan sama mama." batin clara.
Clara pun menunduk malu, ia merutuki kebodohannya.
"ma sini." ucap axel.
"iya xel" ucap mama adel sambil mendekat.
"makan rujak sama sama ma." ucap axel.
"kalian beli rujak kapan." tanya mama adel.
"tadi ma, pake aplikasi online." ucap axel.
Mereka pun makan rujak sama sama.
Sementara di gedung hotel pernikahan bryan dan davina, baru saja selesai.
para anggota keluarga pun menginap di hotel itu juga.
Mereka semua pergi ke kamar masing masing untuk istirahat sejenak sebelum jam makan malam.
Davina dan bryan pun masuk ke dalam kamar mereka yang sudah di persiapkan oleh bryan.
Davina melihat sekeliling kamar di hiasi oleh bunga bunga.
"bry." ucap davina.
Bryan pun mendekat dan memeluk davina dari belakang.
"bagaimana, kamu suka sayang." ucap bryan.
"terimakasih ya ini sangat indah." ucap davina.
Bryan pun semakin memeluk erat davina dan menciuminya.
"bry, aku capek, aku ingin mandi. Stop bryan." ucap davina.
Bryan pun menghentikannya.
__ADS_1
"ya sudah mandi sana. Apa mau mandi bareng." goda bryan.
davina pun mengambil pakaian gantinya dan berlari langsung kekamar mandi, davina menguncinya agar bryan tidak masuk.
"dasar suami mesum." ucap davina dan tersenyum.
Davina telah selesai mandi, ia bingung hatus bagai mana setelah ini.
davina pun mondar mandir di dalam kamar mandi.
"aku harus bagai mana ini. Aku belum siap jika dia memintanya." batin davina.
Bryan yang melibat jam pun akhirnya mengetuk pintu kamar mandi. Sebab sudah setengah jam lebih davina tidak keluar.
"tokk . .took . .took . ."
"davina, buruan, aku juga mau mandi." teriak bryan.
Davina pun membuka pintu kamar mandinya.
"kamu kenapa lama sekali." tanya bryan.
"ta . .tadii . . " ucap davina gugup.
"tadi apa sayang, yaudah kamu istirahat sana, aku mau mandi dulu." ucap bryan masuk ke kamar mandi.
"huuuff . .hampir saja jantungku copot." ucap davina sambil mengelus dada nya.
Davina pun bingung. Ia mau ngapain.
Akhirnya davina membaringkan tubuhnya di atas kasur.
tidak lama bryan sudah selesai mandi. bryan pun keluar hanya menggunakan handuknya yang melilit di pinggang.
Davina yang terkejutpun berteriak dan menutup matanya dengan kedua tangannya.
"aaaaaaaaaaa"
Bryan yang bingungpun mendekat ke arah davina dan menenangkannya.
"pakai baju kamu bryan, " ucap davina masih dengan menutup matanya.
Bryan yang paham maksud davina pun tersenyum.
Bryan pun menjahili davina.
Ia menarik tangan davina yang menutupi wajahnya.
"sayang, kamu harus terbiasa melihat ku seperti ini." ucap bryan sambil tersenyum.
Davina masih memejamkan matanya. Tangannya sudah di pegang oleh bryan agar tidak menutupi wajahnya.
"bryan, aku butuh waktu, aku belum terbiasa melihat seperti penampilan kamu ini." ucap davina masih memejamkan matanya.
"sayang, maka dari itu, mulai sekarang kamu harus terbiasa." ucap bryan.
"tapi bry . ." ucap davina.
"buka lah mata kamu sayang." aku tidak akan melakukan apapun sebelum kamu siap dan mengizinkannya." ucap bryan.
"aku ingin kamu mengambilkan pakaian untuk ku." ucap bryan lagi.
Davina pun membuka matanya perlahan.
Bryan tersenyum bahagiah.
"aku ingin kamu mengambilkan pakaian untuk ku sayang." ucap bryan lagi.
Davina yang sadar dia sudah menjadi seorang istri baru menyadari, dia belum menyiapkan keperluan bryan.
Davina pun mengeluarkan air matanya.
"hey . .kenapa kamu menangis. Jangan menangis sayang,." ucap bryan menarik davina kedalam pelukannya.
"maafin aku bry, aku belum terbiasa. Jadi aku lupa menyiapkan pakaian kamu." ucap davina sambil menangis.
"sudah jangan menangis lagi, sekarang kamu ambilkan pakaian untuk ku ya." ucap bryan.
__ADS_1
Bryan pun melepaskan pelukannya dan menghapus air mata davina.
Bryan menganggukkan kepalanya.
Dan davina mencari letak koper bryan, ia mengambilkan pakaian bryan.
Ketika davina membukanya, yang terlihat olehnya adalah pakaian dalam bryan duluan.
"apa ini aku juga yang harus menyiapkannya, tapiii." batin davina.
Mau tidak mau pum akhirnya davina mengambilkannya, ia sadar sudah menjadi seorang istri.
"bryan, ini pakaian kamu," ucap davina sambil menunduk dan menyerahkan pakaian bryan.
"terimakasih sayang." ucap bryan dan masuk kembali ke dalam kamar mandi.
"davina, kamu ada ada saja sih pake acara teriak segala." dia itu sudah menjadi suami kamu." batin davina.
akhirnya davina menunggu bryan sambil duduk di sofa dan menonton tv.
Selesai Mengganti pakaian, bryan berjalan menuju sofa dimana tempat davina duduk.
Bryan pun duduk di samping davina.
Bryan menarik davina ke dalam pelukannya.
Davina pun kaget.
"bryan." ucap davina.
"bolehkan aku memeluk istriku ini." ucap bryan.
"bry, kamu mengagetkan aku tau." ucap davina.
"kamu belum menjawab pertanyaanku sayang." ucap bryan.
"iii . .iiya boleh." ucap davina malu.
Bryan pun menciumi wajah davina.
"bryan lepas, kamu jangan aneh aneh.." ucap davina.
"aku tidak aneh kok, aku hanya menciumi wajah istriku yang cantik ini." ucap bryan dengan entengnya.
davina pun pasrah, mau bagai manapun dia suaminya.
davina hanya diam saja.
Bryan yang merasakan itu, akhirnya menghentikan kejailannya itu.
Davina menatap wajah bryan.
"aku sayang kamu bry." ucap davina.
Bryan tersenyum dan mencium kening davina.
"aku juga sayang kamu," jangan pernah tinggalkan aku ya sayang." ucap bryan.
Davina tersenyum dan mengangguk.
Akhirnya mereka berdua menonton tv, davina pun bersandar pada bryan.
sementara di rumah adel, clara dan semuanya baru selesai makan rujak yang axel pesan.
clara yang masih sering mual pun, kini merasa mual.
"uwwwweek."
"cla," ucap axel.
Clara menggeleng tanda dia baik baik saja.
"nak, jangan sering sering nakal ya, kasihan mama kamu." ucap axel sambil mengelus perut buncit clara.
Mama adel tersenyum melihat kelakuan anaknya itu.
.....
__ADS_1