
...🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾...
Kenneth Pov
Pagi ke kampus, siangnya ke kantor. Sudah hampir seminggu, rutinitasku hanya berputar di dua tempat itu saja. Jika bukan karena menolak perjodohan dengan Rebbeca, juga karena wanita itu, aku ini sungguh gak mungkin menginjak bangku perkuliahan lagi.
“Jadi, sampai dimana?”
Aku hampir lupa, beberapa menit yang lalu ingin mengadakan rapat dengan orang-orang ini. Namun sekarang, aku justru terfokus pada tugas yang mulai menumpuk.
Jelas-jelas aku tahu, orang-orang ini sedang heran akan sikapku yang hilang fokus. Hanya rlsaja mereka terlalu takut untuk menunjukkan ekspresi.
“Tentang data statistik penjualan, Presdir,” Ziko membantu menjelaskan.
Hela napasku semakin berat lagi, saat melihat data statistik yang bentuknya hampir seperti laju naga disebuah iklan susu.
“Cari cara menaikkan ini dengan cepat. Dua bulan, aku ingin melihat hasil yang memuaskan!”
Aku beranjak pergi, meninggalkan ruangan dalam keheningan. Berjalan kembali ke ruang kerja dengan kepala yang sudah hampir meledak. Kuambil ponsel dari dalam saku, lalu mencari salah satu nama dan menghubunginya.
“Selamat siang, Miss Kia,” sapaku.
“Siapa ini?” Suara merdu begitu mengelitik indra pendengaranku. Mendadak aku terserang rindu saat mendengar suaranya. Jelas-jelas kemarin baru saja bertemu.
__ADS_1
“Tentu saja hasiswa yang paling mengagumi Anda.”
“Kenneth?”
Ah ....
Aku membayangkan ekspresinya saat menyebut namaku. Dia berada di atas dan aku di bawah, pasti sangat romantis.
“Anda melupakan saya? Jelas-jelas kemarin kita bertukar nomer.”
“Katakan ada apa! Aku tak punya waktu!” Nadanya sedikit serak, juga berat.
Apa dia sedang flu? Tidak! Itu jangan sampai terjadi.
“Tidak! Aku tidak ada waktu!” Ketus, setiap kata yang keluar dari mulutnya begitu tajam. Nada yang seperti ini, mirip dengan CEO dingin yang arogan.
Aku berdiri, mengambil segelas Latte yang baru dibawa Tania masuk. “Miss Kia, Anda melupakan sesuatu,” ucapku santai, sebelum akhirnya menyesap Latte dengan creamer kental. “Bukankah kemarin Anda yang menawarkan diri?” lanjutku menjelaskan.
Tak terdengar jawaban apapun dari balik panggilan. Yah, setidaknya itu beberapa detik, sampai akhirnya dia menggucapkan satu lokasi dan mengakhiri panggilan.
Baru pertama kali, panggilan dari seorang Kenneth Lee diputus sepihak. Jika bukan seorang Sakia Shen, siapa lagi yang berani? Bahkan Rektor High Collenge harus berkata sopan padaku.
Cih, wanita ini, aku sangat suka. Suka sekali sampai tidak ingin melepaskannya.
__ADS_1
Seorang wanita tengah duduk di kursi depan meja bartender, dengan sebatang rokok yang terselip diantara dua jemarinya. Beberapa botol bir kosong tergeletak di hadapannya.
“Rokok tidak baik untuk seorang wanita!” Lelaki yang baru saja datang langsung mengambil sebatang rokok dari jemari cantik Kia.
“Oh, udah dateng?” Kia menoleh, melihat seorang lelaki berjaz hitam tengah berdiri dengan gagah di sampingnya. “Jadi, kamu mau bicarain pelajaran dimana?” Kia menyandarkan kepalanya di tangan yang ia taruh meja.
Mata yang setengah sayu, dengan rona wajah yang memerah, lengkap dengan bau alkohol yang sedikit menyengat. Kenneth menghisap rokok milik Kia yang masih menyala. Dengan santai menghembuskan asap rokok agar menyatu dengan aroma alkohol yang begitu pekat.
“Rumah, bagaimana menurutmu?” ucap Kenneth yang adrenalinnya mulai tersulut.
Kia turun dari kursi yang tingginya hampir 50 centimeter. Berdiri tepat di hadapan lelaki itu, dengan santainya mengalungkan kedua tangannya dan berkata, “Ide yang bagus!”
Jawaban dari Kia membuat lelaki itu terperanjat dan membuang wajahnya dengan sudut bibir yang terangkat. Perlakuan Kia saat mabuk seakan menyalakan api yang selama ini padam dari dalam tubuh Kenneth.
“Rumah? Kamu yang meminta ya!” serunya dengan tatapan tajam. Seperti seekor serigala yang diundang secara sukarela untuk makan bersama seekor kelinci.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan juga Hadiah. Terserah deh mau yang mana, othornya pasrah di kasih apa aja, asal jangan harapan semu 🙈🙈
Lanjut besok lagi ya 😌
__ADS_1