Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 48


__ADS_3

...🐾🐾🐾🐾🐾...


Kenneth merogoh saku dan mengeluarkan ponsel dari dalam. Ia mengangkat ponsel itu bersamaan dengan bibirnya yang menyentuh pipi Kia.


Satu jepretan kamera berhasil masuk ke dalam galeri ponsel. Membuat senyumnya mengembang. Namun ekspresi Kia justru berbeda.


“Aku absen untuk beberapa hari. Jadi ini ....” Kennt menunjukkan hasil jepretannya. “Akan jadi pengobat rinduku!” lanjutnya.


Kia menyandarkan tubuhnya ke dinding, lalu melipat ke dua tangannya. “Kenapa absen? Mau ngulang kelas, kah?” Kia acuh tak peduli.


Bukan Kenneth namanya, jika terpengaruh dengan ejekan Kia. Ia justru semakin bergejolak. Mendekat dan melahap bibir kecil nan tebal milik dosen gila. Membuat wanita itu bertekuk lutut dan jatuh dalam buainya lagi.


Tangan kecil itu ingin memberontak, tapi pada akhirnya juga kalah telak. Sampai pada akhirnya ....


“Agh!” Kenneth mengusap bibirnya yang terluka akibat gigitan Kia.


“Ini kampus! Apa kamu buta?” Seru Kia dengan raut wajah penuh amarah.


Wanita itu pergi usai meluapkan amarahnya. Meninggalkan Kenneth yang justru menunggingkan satu sudut bibirnya.


Marah? Justru raut wajahnya menunjukkan rasa puas. Padahal, wanita itu sudah mengigit bibirnya dan membuat luka.

__ADS_1


“Aku tetap datang menagih hutang empat hari lagi, Miss!” Seru Kenneth.


Kia tak lagi peduli, dengan taruhannya dulu. Juga, perjanjian satu minggu itu. Rasa jengkel sudah mengerogoti tubuhnya. Bagaimana tidak?


Baginya, tak masalah jika itu satu kali. Namun, jika itu ke dua kalinya, maka kau akan mati!


Dia lupa. Soal hati, siapa yang bisa tau?



Sudah lebih dari seminggu sejak kejadian itu. Kia tak melihat Kenneth di kampus, juga tak meneripa pesan darinya. Saat dateline, Kenneth juga taj menghubunginya untuk meminta jawaban.


Kia sedikit lega untuk itu. Dia tak lagi diganggu oleh seorang anak muda yang sedang kasmaran, begitu pikirnya.


Kenyataannya jelas terlihat. Beberapa kali saat Kia akan pergi tidur. Layar ponsel dan matanya saling berhadapan. Melihat pesan terakhir sari pria itu. Bukan hanya itu, saat pelajaran, tatapannya sesekali melihat ke arah meja kosong yang sering diduduki Kenneth.


“Gak mungkin suka, kan? Jangan bodoh, Kia!”


Kia menutup wajahnya dengan buku yang terbuka. Memandangi kegelapan yang terlihat tak berujung. Pikirannya mengajak berkeliling, mengingat beberapa moment yang begitu manis.


Baru melamun sebentar, suara bel pintu memaksanya kembali ke alam nyata. Secepat mungkin bangkit dan membuka pintu.

__ADS_1


“Miss ....”


Kenneth berdiri di depan pintu. Menyapa Kia dengan senyum manis tanpa cacat. Entah kenapa, senyuman itu membuat jetak jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.


“Ka-kau kemari menagih hutang? Maka aku belum ....”


Kenneth menghentikan kalimat Kia dengan jari telunjuknya.


“Dengar, aku gak akan paksa kamu lagi. Aku mencintaimu, tapi juga gak mau memilikimu dengan cara paksa!” Jemari Kenneth berpindah. Membelai pipi Kia beberapa kali.


“Aku membebaskanmu, Miss. Dari masa pacaran tiga bulan, juga jawaban itu.”


Kenneth meraih tangan Kia dan memandangnya sesaat.


“Aku mencintaimu, aku ingin memilikimu. Tapi cinta bukan pemaksaan yang membuatmu tak bahagia. Aku akan senang jika pada akhirnya kamu jadi milikku. Tapi hatiku juga terluka jika melihatmu dengan lelaki lain.”


Satu kecupan mendarat di punggung tangan Kia. “Kecupan ini, aku harap bukan yang terakhir. Jangan terbebani olehku lagi!”


Kenneth menatap mata Kia sesaar, sebelum akhirnya meninggalkannya. Berdiri terpaku di ambang pintu. Perlahan melihat punggung lelaki itu yang semakin menjauh.


...🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


Sudah dua bab nih. Jadi jangan sampe lupa sajen dan ritualnya!


📬📬📬 Next Bab, meluncur sesegera mungkin!


__ADS_2