
Kia Pov
Baru saja melambung, bukan karna pamor atau popularitas. Hanya karena berhasil mendapat kesempatan pergi, menghindari musim dingin yang begitu menyebalkan. Namun pada akhirnya, panggilan dari wanita yang aku panggil ‘mama’ membuyarkan sejuta angan.
Habis berendam lalu di semprot parfum yang paling mahal, tapi pada akhirnya jatuh di kubangan kotoran.
Beberapa saat yang lalu nadanya begitu lembut, permintaan maafnya terdengar sangat tulus. Sudah begini, jelas bisa menebak niat yang terselubung darinya.
“Cuma lima ratus ribu. Kamu tentu punya kan?”
Pada akhirnya, yang dia pikirkan hanya uang dan uang. Entah kenapa, mendengar itu membuat sudut bibirku terangkat. Ingin sekali menertawakan diri sendiri. Menggolok-ngolok dengan puas karena sudah terlalu bodoh.
“Aku kasih kamu satu juta, setelah itu ....”
Tenggorokanku tercekat sesaat, sangat sulit meneruskan apa yang ingin aku sampaikan.
“Setelah itu, lepaskan aku.”
Sedang bertaruh pada diri sendiri. Sudah seperti itu, siapa yang akan dia pilih?
__ADS_1
“Jangan kelewat batas, Kia! Mama cuma minta lima ratus ribu. Apa kamu sudah engan menganggap aku yang melahirkanmu?”
Muak, benar-benar sudah muak. Setiap hari diperas tanpa tau batas. Jika ingin meluapkan rasa lelah, dia selalu menyudutkanku pada kodratnya sebagai seorang ibu.
“Mah, aku ingin bicara beberapa kata. Apa kamu mau mendengarnya?”
Tanpa menunggu jawaban, langsung saja ku teruskan maksud perkataanku.
“Hari dimana kamu menggusirku, itu hujan salju yang tak begitu lebat, tapi cukup dingin. Aku hanya asisten dosen yang sedang kuliah. Uang saja hanya ada sepuluh dolar, dan kamu menggusirku dari rumah tanpa melihat wajahku.”
“Kamu tau, Ma? Aku hampir mati beku diluar sana. Terkena hipotermia dan pingsan selama setengah jam di jalanan. Jika, jika saat itu tidak ada orang yang menolongku. Mungkin aku sudah lama mati.”
Hingga sejak saat itu, aku benci salju! Dingin yang begitu menusuk tulang, bahkan sampai ke sum-sum. Hawa dingin yang mencabik-cabik seluruh tubuh, aku ingat dengan jelas.
“Cukup! Katakan saja intinya! Kamu mau kasih atau tidak.”
Lagi-lagi seperti ini. Di tekan dan di peras tanpa sisa. Aku bisa berharap apa sih?
“Ma, bisa gak, kamu rinci semua biaya hidupku dari kecil sampai ... sampai terakhir kamu beri aku uang untuk membeli buku saat sekolah? Aku ingin membayarnya, dan putus denganmu!”
__ADS_1
“Dua puluh tahun aku membesarkanmu, tapi kamu justru perhitungan denganku! Dasar anak ....”
“Anak kurang ajar, tidak berbakti ... lalu, apa lagi? Sampai kapan kamu menekan dan memerasku seperti ini? Selama ini, apa kamu peduli, anak dan cucu mu sudah makan atau belum? Punya selimut atau baju tebal saat musim dingin atau engak? Atau, tentang pekerjaan anakmu dan siapa yang menggurus Jenny? Setiap kamu telpon, mulut manismu hanya berujung uang lagi, uang lagi. Di matamu, aku dan Jenny ini ada atau engak, hah?!”
Hatiku sudah terlalu panas, panas hingga akhirnya meluapkan segala beban yang selama ini menganjal di hati. Setelah ini, aku tak peduli, meski seluruh dunia menyudutkanku sebagai anak yang tidak berbakti.
Tiba-tiba, dari belakang ada yang mengenggam tanganku. Sebuah tangan besar yang hangat, seakan membuyarkan perasaan marah yang menggebu-gebu.
“Aku kecewa padamu!”
Panggilan terputus begitu saja usai dia berkata seperti itu. Saat ini, siapa yang sebenarnya lebih kecewa?
Hati dan perasaanku seakan runtuh. Sejak awal sudah jelas tau, saat aku sudah berbicara, pasti akan berusaha mengeluarkan apa yang mengganjal di hati dan hal apa yang akan di dapat. Namun, meski sudah menyiapkan mental sebelumnya, pada akhirnya juga tetap merasa sakit.
Sajen mana sajen?????!!!!!!!
Jangan lupa ritual wajibnya!
__ADS_1