Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 76


__ADS_3

Kenneth Pov


Selesai menidurkan Jenny di ranjang, tak sengaja netraku melihat ke arah pintu kaca yang sedikit buram. Jelas aku tau, di balik kaca itu ada tempat apa, juga ada siapa di sana. Membayangkan hal yang sedikit nakal, senyumku lepas begitu saja.


Aku melepas mantel, kemudian membuka pintu kaca dan berjalan mendekatinya.


Padahal baru membuka pintunya sedikit, tapi uap panas sudah dapat terasa.


Berusaha berjalan dengan perlahan agar dia tak mendengar, ternyata sebuah taktik yang cukup bagus. Itu karena, aku bisa mendengar hal bagus darinya.


“Kalau gitu, ucapkan dengan baik!”


Dia menoleh dan terkejut. Mulut manis yang tadi sempat memuji dan hendak berterima kasih, berubah menjadi pedang bermata dua. Berbicara dengan nada ketus dan acuh. Namun, aku tak peduli. Bukan seorang Kennteh jika tak bisa melawan.


Sudah begini, lebih enak menggodanya sekalian.


Perlahan melepas kancing, dan bertindak ‘masa bodo’ dengan segala omelannya. Masuk ke kolam dan menikmati air hangat yang cukup menggoda.


Pada awalnya, wanita ini masih dengan gaya angkuh, berusaha mengusir. Namun pada akhirnya, dia membiarkanku tetap berada di dalam kolam bersamanya.


Pembicaraan di mulai dengan topik Jenny dan pola asuhnya. Aku mengira dia akan cuek seperti biasanya. Namun dia begitu terbuka kali ini.


Hingga, pembicaraanku seriusku dimulai.


“Lalu, ada apa denganmu hari ini?”

__ADS_1


Pertanyaan itu, nyatanya membuatku menunggu sedikit lebih lama. Pikiranku mulau menerka lagi, segala kemungkinan yang bisa dia hadapi.


“Gak ada!” Jawabnya dengan enteng. Sudah bisa ku kira, dia tak mungkin bisa terbuka padaku.


“Aku cuma ....”


Belum selesai dengan kalimatnya, aku menarik pergelangan tangannya, membuat tubuh yang sedikit berisi itu terdorong ke arahku.


“Kamu masih gak percaya padaku? Kamu menelponku dan aku dengan cepat datang menjemputmu. Apa ini belum bisa membuktikan perasaanku padamu?”


Setelah sekian lama menunggu, dia hanya menatapku sesaat lalu membuang wajahnya.


Kenneth ... apa lagi yang kamu harapkan? Anakmu sendiri menolak memanggil ayah. Sekarang, kekasihmu engan untuk terbuka denganmu.


Aku melepaskan tangannya dan berbalik. Harapanku ... ah rasanya sudah bukan harapan. Tak lagi berharap atau memikirkan sesuatu tentangnya. Namun, saat hendak melangkah pergi. Dua tangan tiba-tiba melingkar dari belakang.


“Sudah bisa bicara?”


“Du-duduk dulu. Kalau berdiri begini jadi dingin!”


Kia melepas pelukannya dan duduk di tempatnya semula. Sudah begini, sebenarnya aku terasa engan. Namun gimana pun, jiwa penasaranku akan menghantuiku nanti.


“Sebenarnya ini cukup rumit, jadi aku gak tau harus bicara dari mana.”


Aku bisa melihat dengan jelas saat dia bicara seperti itu. Tatapannya melihat ke bawah, tapi seperti menembus entah kemana.

__ADS_1


“Itu berawal saat orang tuaku bercerai. Mamaku menikah lagi dengan seorang duda beranak satu. Sejak saat itu, aku kehilangan kasih sayang mama. Semua makin keruh saat aku hamil. Dari dulu gak pernah meminta apa pun darinya. Bahkan biaya hidup atau memintanya merawatku saat melahirkan.”


Raut wajah yang tadi terlihat garang, kini berubah. Bahkan aku tak bisa menebak apa yang dia rasakan, entah sedang marah atau sedih.


“Kemarin, pengasuh Jenny sedang sibuk dan gak bisa jaga dia. Jadi, aku meminta bantuan mama untuk menjaganya. Untuk pertama kali dia setuju. Pergi menjemput Jenny tanpa ada pertanyaan, tapi kenyataannya ....”


Ekspresi wajahnya berubah lagi. Tatapannya terlihat marah, tapi mimik bibirnya tidak menunjukan amarah.


“Saat aku datang, Jenny tidur meringkuk di bekas kamarku yang sudah berubah menjadi gudang. Aku, saat itu aku ....”


Nada bicaranya ini ... membuatku teringat sesuatu yang sama halnya dengan apa yang dia rasakan. Marah, kecewa, terluka, mungkin seperti itu.


Tanpa bicara, aku langsung memeluknya, menepuk tengkuk tanpa berbicara. Membiarkannya menangis sedikit lebih lama.


Sekarang aku tau, alasan kenapa dia butuh waktu untuk menjelaskan masalah ini padaku. Mendengar ini, aku jadi merasa sedikit bersalah.


“Maaf, aku menyakitimu.”


“Ngak.” Jawabnya sembari menggeleng.


“Lain kali, kalau ada masalah, kamu bisa cerita padaku. Apa pun masalahnya, bisa jadi ringan kalau bisa berbagi, oke!”


Ini bukan permintaan, tapi perintah. Mau tidak mau, dia harus patuh dan menurut. Jika tidak, dia akan mendapat konsekuensi yang tak terbayangkan.


__ADS_1


Sajen dan ritualnya hayoooooo 😌😌


Up besok lagi, ya. Othor mau cari wangsit 🤭


__ADS_2