
Lelaki itu duduk di kursi bernomer 16-G, satu tangannya bertopang dagu, matanya lurus ke depan memandang layar kecil. Pandangannya seolah fokus, padahal melayang entah kemana.
Sampai-sampai, kehadiran seorang wanita yang berdiri di sebelahnya pun tak di hiraukan.
“Permisi, Tuan!” ucap wanita itu mencoba menyadarkan Kenneth. Namun lelaki itu masih belum juga sadar, hingga ia mencoba sekali lagi dengan membesarkan nada bicaranya.
“Tuan, Anda ingin minum apa?”
Nada yang sedikit meninggi akhirnya membuat Kenneth terperanjat kaget dan menegakkan punggungnya, “Oh, Sorry!”
“Anda mau minum apa, Tuan?” Wanita berseragam biru bertanya untuk ketiga kalinya.
“Beri aku segelas coffee!” Jawab Kenneth sambil memijat kening.
...Kenneth Pov...
Bahagia sampai jadi bodoh, begitu kah? Jelas-jelas dulu seorang play boy kelas biawak. Bisa buat siapa pun bertekuk lutut tanpa banyak syarat, tapi sekarang? Bahagia hanya karena bisa mengajaknya berfoto untuk membuat surat nikah, bahagianya sampai bikin gila mabuk kepayang.
Oh ayolah, Kennt! Sejak kapan? Sejak kapan jadi lebay kuwadrat begini?
Saat menoleh kesamping, dia terlihat biasa saja. Gak begitu bahagia sampai bikin tertawa sendiri karena hormon Dopamin yang dipicu tubuhnya.
Perasaan ini, seperti bertepuk sebelah tangan ya?
__ADS_1
Engak! Gak mungkin! Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, dia tadi sempat tersenyum begitu.
“Tuan, coffee Anda.” Seorang pramugari sexy berdiri di samping sambil meletakkan cangkir di depan.
“Oh, Thanks!”
Lihat tubuh pramugari yang di balut rok panjang dengan belahan yang cukup panjang. Setelah ku telisik, tubuhnya gak sebagus milik Kia, cuma bajunya yang terlihat Oke.
Tiba-tiba, sebuah boneka kecil melayang dan mengenai lenganku. Reflek saja mataku melihat ke samping. Kia memainkan mimik bibirnya, meski tanpa suara, aku tau apa yang coba ia katakan.
“Matamu lihat kemana?”
Yeah, kalau di translate perkataannya kurang lebih seperti itu.
“Kamu mau mati?” Dia mengayunkan tangannya di leher.
Kita hanya bermain mimik bibir tanpa mengeluarkan suara. Entah kenapa, aku merasa kami terasa cocok satu sama lain. Ya, itu karena dia dan aku bisa menebak gerakan bibir dengan sangat baik.
“Pagi nikah, malam jadi janda. Kamu mau?”
“Gak masalah, aku sudah pernah jadi janda!”
Wanita ini! Dia membuatku gak bisa berkata-kata lagi, sial! Bisa-bisanya bilang kata-kata itu dengan mudah, lihat gimana aku mengurusmu nanti malam.
__ADS_1
Lima jam perjalanan di atas awan, berlalu cepat bagi penumpang lain. Namun bagi Kenneth, itu seperti lima malam tanpa bulan dan bintang, sangat lama dan membosankan. Belum lagi, mereka masih harus transit di Bangkok, menunggu dua jam sebelum berganti dengan pesawat lain yang akan membawa mereka ke Phuket.
“Lelah?” tanya Kenneth saat berjalan menuju gate selanjutnya.
“Sedikit.”
“Mau istirahat dulu? Kita bisa cek-in di sekitar sini dan mengalihkan penerbangan untuk besok.”
Kia menoleh, menatap sosok lelaki bertubuh tinggi, berjalan santai sambil menggendong anaknya yang tertidur pulas.
“Gak perlu! Uang tiket sebelumnya bisa hangus, itu boros. Kamu tau, boros itu temenan sama setan!”
Kenneth mendegus mendengar ucapan Kia. Dengan gaya bicara santai, membalas ucapan wanita yang baru saja dia nikahi.
“Aku sih gak masalah kalau punya teman setan, itu lebih baik dari pada teman bermuka dua.” Kenneth berhenti sejenak.
“Hal yang penting, istriku bukan setan!” Lelaki itu menoleh, dua sudut bibirnya terangkat, menunjukkan senyum licik penuh kepuasan, karena berhasil membalas ucapan Kia.
“Kamu iblis!”
Jempol jangan sampe lupa!! Kasih hadiah atau Vote, othor berterimakasih sekali. Gak dikasih juga tetep ngucapin makasih ☺️
Bab selanjutnya meluncur besok pagi
__ADS_1