
“Aku udah kenalin kamu ke mama. Kamu gak pengen kenalin aku ke orang tuamu?”
Perkataan Kenneth membuat Kia tersentak kaget. Dia langsung menoleh, menatap wajah serius suaminya yang sedang mengemudi.
“I-itu ....” Kia tertunduk tak mampu berkata apa-apa.
“Kamu gak mau?”
“Bukan! Bukan gitu. Aku bingung ngomongnya gimana. Aku ... kurang akur sama mereka.”
Kenneth menoleh, menatap Kia yang tertunduk lesu tak bersemangat. Tiba-tiba, ia mengulurkan tangan, mengusap ubun-ubun Kia beberapa kali.
“Kalau gak mau, gak papa. Aku gak masalah sama mereka.”
Kia tersentuh mendengar ucapan Kenneth. Seulas simpul senyum terukir di wajahnya. Bahagia dan senang, perasaan apa lagi yang bisa tergambar di utas senyum?
“Orang tuaku bercerai saat aku kecil. Ayah masih sendiri dan ibu menikah lagi. Lelaki itu punya anak lelaki, dia membawanya masuk ke dalam rumah kami. Aku dan mereka, makin lama makin gak cocok. Terutama, saat mereka tau aku hamil sebelum menikah.”
Degh!
Jantung Kenneth seakan berhenti mendadak. Dia tak mengira, benih yang dia sebarkan ternyata membawa dampak besar untuk Kia. Jika saja, dia bisa menemukan Kia lebih cepat ... tapi itu sudah berlalu. Sesal pun tak dapat mengulang waktu.
“Hubungan dengan orang tua ... aku gak ahli. Aku takut gak bisa berbaur atau mungkin salah bicara.”
Kenneth menghentikan mobilnya di persimpangan jalan, yang kebetulan lampu merah sedang menyala. Pada kesempatan itu, ia meraih kepala Kia, lalu mendaratkan kecupan di keningnya.
__ADS_1
“Aku juga punya kesan yang sama. Aku gak masalah kalau kamu gak mau kenalin mereka. Tapi mungkin, lain kali kita perlu makan bersama. Ngak perlu buru-buru soal itu, Sayang.”
“Iya. Kamu memang paling ngerti.”
Hari-hari yang mereka lalui seperti musim semi. Penuh bahagia, canda, dan cinta. Kenneth memberi Kia banyak kasih sayang. Perasaan yang sudah lama dia dambakan dari keluar kecil.
Sampai masa dimana libur mereka berakhir. Kenneth harus segera menyelesaikan gelarnya agar bisa menduduki kursi presdir dengan nyaman. Tekanan demi tekanan dari para dewan direksi, membuatnya sakit kepala setiap haru. Belum lagi, dia harus bekerja sembunyi-sembunyi dari Kia.
“Sayang, bangun.” Kenneth mencoba membangunkan Kia yang masih tertidur dengan lelap.
“Miss Kia ... wake up, please!” Gemas, karena Kia tak kunjung bangun. Kenneth mengigit daun telinga istrinya.
Kia sontak menjerit dan terperanjat. Mengelus-elus daun telinga yang entah masih ada atau sudah putus. Melihat Kenneth yang tertawa tanpa ada rasa bersalah, dia merasa jengkel. Sontak saja, ia meraih bantal dan melemparnya. Beruntung, Kenneth menghindar dengan cepat.
“Kenn ... sakit loh!”
Kia terjingkat kaget. Ia buru-buru bangkit berdiri, meraih jam wakker yang menunjukkan pukul delapan pagi.
“Ah, resek! Aku ada kelas pagi!” Ia berlari secepat mungkin ke kamar mandi sambil berteriak, “Kenapa gak bangunin lebih pagi?”
“Siapa yang tidur seperti babi?”
“Kenneth Lee!!”
Kenneth menulikan telinganya. Lelaki itu justru fokus menyiapkan makanan dan menyuapi Jenny. Sampai tiba-tiba saja terdengar sayup-sayup Kia memanggil namanya beberapa kali.
__ADS_1
“Kenn ... ambilkan handuk, please!”
“Kenneth ... tolong!”
Belum juga di respon, Kia mencoba dengan nada setengah menggoda. “Kenneth Sayang, Suamiku.”
Clak!
Pintu kamar mandi yang memang tak terkunci, terbuka tiba-tiba. Kenneth masuk dengan telan jang dada, juga handuk yang berslampir di pundaknya.
“Ratuku, pelayanmu datang membawa diri ... eh bukan, handuk maksudnya.”
Kia berjalan mendekat dengan badan yang basah. Air menetes dari ujung alisnya, jatuh tepat di atas buah yang sudah ranum. Jemari lentik itu berselancar ria, dari bawah naik ke atas.
Sial, aku masih harus ngajar!
Kelas pagi membuatku jengkel.
Kia mengambil handuk lalu mendorong tubuh Kenneth keluar begitu saja.
Nanggung ye Miss Kia 😂😂
Padahal dikit lagi enak tuuhh
__ADS_1
Eehhh ya amsyong 🙈
othor kan menjelma polos ...