
...🐾🐾🐾🐾🐾...
Kia kembali ke apartemennya dengan perasaan kesal. Bisa\-bisanya dia tertipu oleh Kenneth! Begitu pikirnya. Namun di balik pikiran itu, ada terselip pikiran yang berbeda. Kia memegang bibirnya, memory pikiran tiba\-tiba mengajak kembali ke beberapa jam yang lalu.
Napas hangat Kenneth yang terasa begitu hangat. Aroma khas yang menggoda jiwa kosong Kia. Perlahan menerobos masuk, menciptakan perasaan yang aneh baginya.
Jelas, ciuman itu bukan yang pertama bagi Kia. Dari sekian kali ia pernah berciuman. Hanya lelaki tiga tahun lalu dan juga Kenneth yang mampu membuat hasrat dalam dirinya terbangun.
Kia memindahkan tangannya ke pelipis, kemudian tersenyum getir membayangkan kegagalannya. “Sudahlah, lagi pula cuma tiga bulan!” Pikirnya.
“Mommy!” teriak Jenny yang baru bangun tidur.
Kia merubah ekspresi wajahnya. Seketika tersenyum lalu berjongkok. Menyambut bidadari kecilnya dengan tangan yang terentang.
“Mommy, i want spagety!” Pinta Jenny dengan gaya cadel layaknya balita berusia dua setengah tahun.
“Spagety? Do you want pasta?” Kia menggendong anak perempuannya. Jenny mengangguk cepat, berharap bisa segera mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Mommy masak sekarang! Jenny main dengan Nyonya Wu, oke!” Kia menunjukkan ibu jarinya.
Kia mengambil clemek dan memakainya, mengelung rambutnya ke atas agar tak menganggu. Lalu, mulai mengacak-acak dapur tercintanya.
Moment libur seperti ini menjadi saat yang bahagia bagi Kia, karena dapat menghabiskan waktu dengan malaikat kecilnya. Kia mulai memasak, salah satu makanan kesukaan Jenny.
“Tara!!! Spageti buatan Mommy sudah selesai!” Kia meletakkan piring di meja makan milik Jenny.
__ADS_1
Jenny yang sedang bermain langsung duduk di kursi singgahsananya. Mengambil garpu dan segera melahap spageti buatan Kia.
“Apa itu enak?” tanya Kia penasaran.
Jenny tak menjawab, hanya mengangguk dengan mulut yang penuh. Bibi Yu melihat mereka dari ambang pintu kamar Jenny dengan senyum bahagianya.
“Dia merindukan Anda, Miss.” Bibi Yu berjalan mendekat, lalu duduk di antara mereka.
“Aku tau, hanya saja ....” Kia engan melanjutkan ucapannya. “Bibi Yu, sore ini aku ada perlu, tolong jaga Jenny untukku, ya.”
Bibi Yu menghela napas berat. Baru saja dia bilang jika Jenny sedang merindukan Mommynya. “Itu sudah jadi pekerjaanku, Miss!”
Saat dalam perjalanan kembali dari tempat Kenneth. Kia mendapat panggilan dari salah satu sahabatnya. “Aku melihatnya di kota, sepertinya dia masuk ke perusahaan ....”
Ucapan sahabatnya terus terbayang dalam pikian Kia. Wanita itu menyalakan kran shower, berdiri tegak dengan air yang mengucur dari atas. Seketika membuat tubuh se-xynya basah.
Kia segera pergi usai mandi dan bersiap. Tak lupa mencium pipi putri kecilnya sebelum pergi. Ia mengemudikan mobilnya, secepat mungkin pergi keperusahaan yang di maksud sahabatnya.
“Kamu yakin liat lelaki itu masuk?” tanya Kia kepada seorang wanita cantik berambut pendek.
“Yakin sekali! Bahkan belum keluar sampai sekarang!”
Kia dan teman wanita bernama Shan Shan, memutuskan untuk menunggu lelaki pemilik kecebong itu keluar. Lama mereka duduk di cafe yang berada tepat di depan perusahaan. Lelaki yang di tunggu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Sampai pada akhirnya, ponsel Kia berdering.
__ADS_1
“Sekarang aku gak bisa!” ucapnya berbicara pada seseorang yang menghubunginya. “Aishh! Kamu menyebalkan!” Serunya kesal.
“Aku pergi dulu, ada hal penting!” Kia berdiri dan segera pergi dari sana. Ia tak menoleh meski Shan Shan memanggilnya berkali-kali.
Di ruangan dengan penerangan yang kurang. Kia sedang terengah-engah. Napasnya memburu, keringat mengucur deras dari keningnya.
“Ugh ... a-ah.” Lelungan keluar begitu saja dari mulut tebal nan tipis. “Dorong lebih kuat lagi!” Seru Kia menoleh pada Kenneth, yang sedang berdiri di belakang dengan kening yang penuh keringat.
“Ini udah kuat! Masih kurang kuat gimana?” dengus Kennt yang mulai kuwalahan.
“Cepetan dong! Aku udah gak kuat!” Rintih Kia dengan napas yang memburu. “Lagian kamu, dorong lemari aja panggil aku!”
“Sory, Sayang. Lemarinya berat, cuma kamu yang jawab panggilanku!” jawab Kenn
“Sia-lan! Ini alasan kamu aja, kan!”
Kenneth tersenyum puas, dengan napas mereka yang salinh memburu bersahutan. Wajah yang sama-sama penuh dengan peluh.
Hayo kalian nunggu adegan yang mana??? 🤭
Jangan bilang nanggung! Besok besok gak ada kata nanggung 👍🏻
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Vote, Hadiah 😘