Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 53


__ADS_3

...🐾🐾🐾🐾🐾...


Kia Pov


Dari balik layar laptop yang sebenarnya tak cukup untuk menyembunyikan muka besarku. Aku dapat melihatnua dengan jelas. Wajah tampan yang tengah duduk dengan wajah seriusnya. Menatap layar proyektor yang terpantul di belakang. Sesekali menopang dagu dan mengalihkan pandangannya.


Baru pertama kali, aku gak konsen mengajar. Haruskah aku mengumpatnya nanti?


Kenapa dia bisa punya wajah yang menolak tua? Padahal umurnya lebih tua dariku.


Mendengus kesal dan membuang muka, tepat saat dua mata kami saling berpandangan secara tak sengaja. Tak beberapa lama, aku mendengar dua tanda bunyi pesan.


📬 Kamu gak konsen mengajar!


📬 Semalam gak tidur karna mikirin aku, kah?


Alisku terangkat, dengan mata yang memincing melihatnya. Ia duduk dengan tenang. Satu sudut bibirnya terangkat, seakan sedang mengejek.


Siapa yang mikirin kamu!


Dengan cepat menutup laptop, membereskan meja dan mengakhiri kelas.


“Sesi hari ini selesai!”


Kepalaku rasanya berdenyut cukup kuat. Entah karena aku yang berdiri terlalu cepat, atau karna pesan pria itu. Ah, menurutku, keduanya sama-sama berpengaruh.


Aku mengambil ponsel dari saku blezer, memesan latte dengan sedikit cremer melalui pemesanan online. Berharap pesananku segera datang sebelum kelas berikutnya dimulai.


Semilir angin dingin mulai berhembus, menyapa permukaan kulit yang tak terlindungi sehelai kain. Lama dirasa, semakin menusuk. Bahkan membuat tubuh mengigil.


Padahal baru sebentar bediri, tapi udah dibuat gemetar oleh angin. Jelas-jelas musim dingin belum tiba.


Tiba-tiba, sebuah mantel bulu tersampir di pundak. Berbarengan dengan suara lembut yang berkata, “Di luar dingin, Miss.”

__ADS_1


Tanpa menoleh dan melihat, aku sudah bisa menebak suara siapa itu. Namun, yang membuatku menoleh bukan dirinya. Melainkan keadaan kampus, yang ternyata sedang sepi.


Aku cukup beruntung, tak ada yang melihat perlakuan lelaki ini.


Mungkin, udara dingin yang berhembus, juga sedang membantuku. Membuat orang-orang engan untuk keluar.


“Kenapa ke sini?” tanyaku masih malu menatap wajahnya.


“Cuma penasaran, apa yang dilakukan kekasihku!” Nadanya jelas cukup lirih, berbisik tepat di telingaku. Namun entah kenapa, itu membuat rasa takutku mencuat. Dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan.


“Stop! Kamu gila! Gimana kalau ada yang dengar?”


Ia memincingkan mata, lalu menarik tanganku yang menutup mulutnya. “Begini bukan malah membuat mereka tau?”


Tanganku masih di gengamnya, melayang setara dengan pundak. Menyadari ucapannya, aku langsung menariknya dengan cepat.


Di waktu yang sama. Seseorang dengan jaket rompi berlari kecil ke arah kami. “Miss Kia?” ucapnya memandangku.


“I-iya.”


Pesananku!


Benar, nyatanya, jatuh cinta itu akan membuat EQ-mu jeblok tiba-tiba. Bahkan IQ di atas 200 kadang juga gak bantu.


Langsung saja kukeluarkan cup coffee dari dalam usai membayarnya. Menciun wangi semerbak dari expresso dengan susu. Menggoda.


“Minum kopi lagi?” Ia melipat tangan dan bersandar pada tiang.


Aku tak peduli dengan komentarnya. Jadi langsung saja menyesapnya sedikit. Sampai aku mendengar hela napasnya yang seakan berat. Ia mengambil cup dan menutupnya kembali. Lalu menarikku, berjalan melewati koridor.


“Apa yang kau lakukan! Mereka akan melihat!”


“Hari ini kelas berlansung di lantai dua. Lantai satu sepenuhnya kosong!”

__ADS_1


Langkah kakinya tak terlalu cepat, tapi membuatku cukup tertatih mengikutinya dengan high hels yang kupakai. Ia terus berjalan, lalu membawaku masuk ke satu ruangan.


Ruangan yang kosong, tanpa siapa pun. Dengan jendela yang tertutup tirai sebagian.


“Tunggu di sini!”


“Kau mau kemana?” tanyaku begitu melihatnya pergi dengan membawa cup coffee yang baru saja kubeli.


Ah, sial! Coffee enak dolarku!


Dua menit ... empat menit ... enam menit. Dia belum juga kembali. Pikiranku mulai melenceng, memikirkan kelas yang akan di mulai lima belas menit lagi.


Sampai akhirnya ....


Lelaki itu masuh, membawa satu paper bag besar. Ia menaruhnya di meja, juga dengan coffee yang tadi di bawanya lari entah kemana.


“Kamu punya maagh! Isi perut dulu sebelum minum coffee!”


Perhatian ini, gak nyata kan? Aku tertegun sesaat, lalu mengobrak-abrik isi paper bag yang dibawanya.


Dia ini ... warung mana yang abis dirampoknya?


Entah mengapa, aku tiba-tiba teringat hal yang penting. Hal yang aku lewatkan sejak awal.


Dia menyewa apartemen kumuh, juga kerja part time. Bahkan kadang-kadang ke apartemenku hanya numpang makan.


Namun kenapa, hari ini dia begitu banyak uang?


“Kamu, habis ngepet ke mana?” tanyaku menatapnya sinis.


“Hah????” Pandangan lelaki itu penuh tanya. Melihatku dari atas sampai ke bawah.


__ADS_1


Jangan lupa Like’nya, mau kasih kopi, kembang, lope, atau vote, jelas boleh.


Bab selanjutnya akan segera meluncur.


__ADS_2