Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 121


__ADS_3

Kondisi yang tidak terlalu parah membuat Kia dipulangkan lebih cepat. Kenneth sangat berharap, istrinya bisa beristirahat dengan tenang di rumah. Namun kenyataan justru berbanding terbalik. Kia terlihat murung saat melihat mainan Jenny yang tersusun rapi di rak. Membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi pada anaknya.


Sampai pada malam hari, Kenneth tidak mendapati Kia berada di sampingnya. Ia langsung bangun dari ranjang dan segera mencari Kia. Begitu keluar kamar, ia mendapati kamar Jenny menyala, dan membuat Kenneth mendekat.


Kia pada saat itu sedang duduk di lantai, tangannya melingkar, memeluk sebuah boneka kelinci berwarna putih. Kesedihan di wajahnya terlihat jelas, membuat hati Kenneth tersayat. Tidak tahan melihat Kia terpuruk, Kenneth langsung menerobos masuk dan membopong tubuh istrinya.


"Kita mau kemana, Kennt?" tanya Kia yang tiba-tiba di bopong Kenneth keluar dari rumah. 


"Pergi," jawabnya singkat.


"Pergi? Kemana? Ini sudah malam, Kennt. Kamu membawaku kemana? Kennt … Kenneth!"


Kenneth menulikan telinganya, dan membisukan mulutnya. Bukannya enggan menjawab, tapi ia tidak tau harus menjelaskan situasinya seperti apa. Tidak mungkin baginya berkata, bahwa ia ingin membawa Kia pergi agar bisa melupakan kenangan tentang Jenny, karena Kia jelas akan menolak.


Kenneth menurunkan Kia di mobil, memasangkan sabuk pengaman, lalu menekan pedal gas. Kia masih terus bertanya dalam perjalanan, berharap Kenneth mau menjawabnya. Namun, lelaki itu masih membisu, sampai pada akhirnya mereka tiba di sebuah Villa megah.


"Dimana ini, Kennt?"


"Rumah kita," ucap Kenneth singkat. Dia turun dari mobil, membantu Kia membuka pintu, dan melepaskan sabuk pengaman. 


"Kamu bercanda?" 


Kenneth pelan-pelan membopong tubuh Kia, masuk ke dalam rumah. "Kia, wajahku sudah seserius ini. Bagaimana bisa bercanda?"

__ADS_1


"Aku menyiapkan ini semua sejak bertemu denganmu. Mencari tau gaya rumah seperti apa yang kamu suka, dan membangunnya perlahan." Kenneth mulai menaiki tangga yang terhubung dengan pintu utama.


"Tidak punya harapan yang besar. Aku hanya ingin menghabiskan sisa waktuku bersamamu. Di rumah kita, Kia." Pintu besar nan kokoh yang terbuat dari kayu, perlahan dibuka dari dalam.


"Istriku, selamat datang di rumah kita."


Kenneth berdiri di ambang pintu, memperlihatkan segala sudut ruang di lantai bawah kepada istrinya. Menjelaskan setiap ruangan yang sudah ditata dengan rapi. 


"Bagian mana yang tidak kamu suka? Aku akan mengubahnya."


Kia terdiam untuk beberapa saat. Terlihat pundaknya sedikit naik, dan dadanya mengembang. Perlahan, tangan yang sejak tadi berada di pundak Kenneth, berpindah. 


Kia memegang kedua pipi suaminya, lalu mengecup bibir dengan lembut. "Terima kasih, suamiku tersayang."


Seperti dilambungkan ke langit ketujuh. Kenneth pun langsung membawa Kia ke kamar utama. Tempat mereka tidur, juga memadu kasih. 


"Ini kamar kita. Bagaimana menurutmu?"


Kenneth berdiri dan menunjuk ke arah pintu sambil menjelaskan. "Disana, ada kamar mandi. Bathtub dan shower. Lalu di sebelahnya ada Walk in Closet." Kenneth menunjuk ke bagian yang lain.


"Disana ada beberapa baju, tas, sepatu, juga jam tangan. Semua dari merek yang kamu suka. Kamu mau melihatnya, Sayang?"


Antusiasme Kenneth memudar, saat melihat Kia yang masih tidak responsif. Ia pikir, dengan memperlihatkan semua ini, dapat merubah moodnya hingga esok hari. Namun kenyataan yang terjadi justru berbeda.

__ADS_1


Kenneth perlahan duduk di bawah kakinya, sambil menggenggam kedua tangan Kia. "Kamu tidak suka, Sayang?" 


Kia menggeleng pelan, "Aku suka. Suka semua desain, warna dan penataannya."


Mendengar itu, Kenneth tertunduk untuk beberapa saat. Kenneth sendiri bukan orang yang tidak peka, dan mudah dibohongi. Lelaki itu jelas memahami perasaan Kia yang tentunya masih sedih. Dia sendiri bahkan merasakan itu saat mengetahui kabar dari Jenny. Namun, dia menyembunyikan perasaan itu dalam-dalam, agar ia dapat menguatkan Kia.


"Aku tau, yang kamu inginkan saat ini hanya Jenny." Kenneth memandang Kia penuh makna.


"Tapi, Kia. Kamu juga harus memperhatikan kondisi diri sendiri.  Jenny jelas akan sedih kalau melihatmu sakit saat dia kembali." Kenneth mengusap air mata Kia yang tiba-tiba terjatuh.


"Aku sudah janji padamu untuk menemukan Jenny. Jadi, bisakah kita tidur dulu untuk saat ini?" Kenneth membelai pipi Kia, berharap istrinya patuh dan segera tidur. 


Kia mengangsurkan tangannya dan melingkarkannya di leher Kenneth. "Iya. Aku akan patuh dan tidur," ucapnya lirih. "Maaf untuk segala keegoisanku."



Judul : Dendam


Karya : nazwa talita


Setelah disiksa, dikhianati, dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan tak bernyawa, Gendis bertekad mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.


Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu?

__ADS_1


...______________________________________...


Penasaran? buruan kepoin.


__ADS_2