Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 12


__ADS_3

...🐾🐾🐾🐾🐾🐾...


Kia mengerjapkan matanya perlahan. Menatap cahaya matahari yang jatuh di lantai juga sebagian ranjangnya. Pikiran yang sedang beristirahat, secara bertahap mulai menyiapkan diri dengan sejuta memory yang tersampaikan. Sepenggal ingatan membuatnya terusik.


Dimulai sejak ia dalam perjalanan kembali dari kota Beijing untuk mengurus beberapa hal, lalu memutuskan untuk ke Bar untuk melepas penat yang mengusik. Dia masih berniat, tiba-tiba saja ponselnya berdering.


“Malam nanti di Langit Malam!”


Ingatannya terpecah, menjadi beberapa memory acak yang cukup membingungkan. Setidaknya butuh beberapa detik, sampai akhirnya dia mengingat satu isident yang begitu memalukan.


Kia segera menyikap selimut, dengan buru-buru pergi keluar kamar. Matanya membulat penuh, saat mendapati seorang lelaki tengah tertidur di sofa. Dengan selimut tipis yang menutupi dada telan-jangnya.


“Oh Shit!” Kia menepuk keningnya, menyadari kelakuan absrud yang akhirnya membuat diri sendiri jatuh terjebak.


Kini matanya fokus tertuju pada jam dinding yang berada di angka delapan, ia menjadi semakin panik. Perasaan cemas dan bingung membuat wanita itu seperti tersudutkan. Kia mengigit ibu jari, sembari berjalan mondar-mandir memikirkan sesuatu.


“Gawat! Gawat! Sebentar lagi Bibi Yu pasti datang buat nganterin Jenny. Dia gak boleh sampe tau kalau ada lelaki!” gumam Kia yang masih mondar-mandir, entah sudah berapa kali.


Kia masih berpikir keras, cukup keras sampai kepalanya hampir meledak. Tiba-tiba saja ....


Ketukan pintu membuat jantung Kia tehenti sejenak.


“Ah! Ini sudah terlambat!” Kia mengacak rambutnya.


Suara ketukan pintu, juga pekikan Kia ternyata membuat Kenneth terbangun dari tidurnya. Dengan santai ia bertanya pada Kia, “Ada apa?”


Kia menoleh, menatap lelaki yang sedang menguap itu dengan tatapan sinisnya.


“Aduh, si be-go ini!” batin Leah.

__ADS_1


Dengan cepat dan tanpa basa-basi, Kia menarik tangan Kennt dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. “Diam disini dan jangan bersuara!” Kenneth ingin sekali mendapat penjelasan, tapi Kia menutup pintu dengan cepat.


“I-iya Bibi Yu!” seru Kia yang pontang-panting menyembunyikan sepatu Kenneth ke dalam kamar mandi.


Kia membuka pintu, menyapa Bibi Yu dan memeluk Jenny. “Anak Mommy ....” ia mendaratkan beberapa kecupan manis di pipi.


“Anda datang pagi sekali Bibi Yu,” ucap Kia.


“Benarkah? Justru saya merasa sedikit terlambat.”


“Ah?” Kia menatap jam dinding sekali lagi. Sepertinya pikiran Kia masih belum cukup stabil. “Aku baru minum semalam, kepalaku masih sedikit pusing,” ucap Kia memijat kepalanya. “Hari ini tidak perlu bersih-bersih, tolong jaga Jenny sebentar, nanti siang aku akan menjemputnya.”


“Anda tidak pergi ke kampus, Miss?”


Kia tertegun lagi saat teringat jadwal kelasnya hari ini. Sepertinya efek alkohol masih membuat pikirannya buntu. “Aku, aku akan mengajukan cuti. Tolong jaga Jenny lagi, ya!”


Bibi Yu mengambil Jenny dari gendongan Mommy dan pamit undur diri. Hela napas Kia terdengar cukup berat usai mengantar bibi dan Jenny.


Suara yang berasal dari depan kamar membuat wanita itu terkejut sekali lagi. “Pulanglah!” Nada Kia ketus. Bahkan ia tak memandang Kenneth sedikit pun saat berbicara.



Kenneth pov


Wanita ini selalu membuatku tertantang lagi dan lagi. Gaya angkuh yang malu-malu, dipadu sifat sombongnya. Wajah cantik dengan bibir penuh yang sedang cemberut seperti sedang mengejek seorang Kenneth Lee.


Ia melipat tangannya dan bersandar pada dinding dengan santai. Aku berjalan mendekat, semakin dekat sampai akhirnya menyandarkan tanganku ke dinding. Pertama kalinya, aku sedekat ini dengan dia, bahkan jarak diantara kita hanya sebatas empat jari.


Bulu mata panjang yang sangat lentik. Bibir kecil yang penuh dan sedikit kemerahan. “Bajuku belum kering, apa Anda membiarkan ku keluar dengan keadaan seperti ini?” ucapku santai. “Aku sih ngak masalah, hanya saja ....”

__ADS_1


Wanita itu mendorongku dengan kasar. Tidak sampai disitu, ia bahkan menginjak kakiku.


Si-sialan! Jika bukan karena kenangan dan juga wajah cantiknya, aku mana bisa diperlakukan begini!


Kutarik lengan wanita itu dengan kuat, sampai membuat tubuhnya jatuh dalam dekapan. “Anda melupakan kejadian semalam dengan cepat.” Bola mata berwarna kecoklatan, oh salah, itu lebih mirip warna Amber. Warna bola mata yang begitu indah.


Raut wajahnya berubah usai aku menggodanya. “A-apa maksudmu!” Ia menggelak sembari meronta. Namun dua tanganku terlalu erat dan enggan melepaskannya.


“Oh, pura-pura lupa. Bagaimana jika kita melakukannya lagi? Aku ngak keberatan membantu Anda mengingatnya.”


“Jaga ucapanmu!” Ia mendorongku sekali lagi dan melepaskan diri. “Ngak mau pulang terserah! Aku masih ada urusan!” ucapnya kasar kemudian masuk ke kamarnya.


Suara pintu yang dibanting terdengar memekik telingga. Aku bisa melihat rasa jengkel dari raut wajahnya. Kerutan di keningnya tak bisa disembunyikan lagi.


Hegh!


Jelas-jelas aku cuma ingin mengingatkan, saat dia muntah di bajuku. Kok malah dia yang marah, harusnya kan aku!



...🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


Yang salah malah lebih galak 😂


Sabar ya bang 🙈


Jangan lupa Like.


Othor paling seneng loh baca komen kalian, suka senyum-senyum sendiri gitu 😂

__ADS_1


Jangan lupa semangatin othor ya 🙈


__ADS_2