Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 115


__ADS_3

...||...


...||...


Cerita bergulir kebelakang, tepat tiga tahun yang lalu saat Kia kehilangan anaknya. Disebuah kamar kecil berukuran 20 meter persegi. Seorang wanita berkulit putih, dengan rambut hitam bergelombang menggantung. Mata indah berwarna amber, serta hidung mancung khas orang timur tengah, sedang mengambil segelas air untuk Kia.


Namun tiba-tiba saja ….


"Ya Tuhan, Kia! Kamu berdarah!" teriak seorang wanita bernama, Gea.


Kia terlihat berkeringat, mencoba berdiri dengan memegang nakas. Sedangkan Gea, berusaha menghubungi layanan darurat.


"Gea, ini sakit! Sakit sekali," rintih Kia memegangi perutnya yang membesar.


"Tenang Kia, jangan panik. Atur napasmu perlahan. Sebentar lagi ambulans datang."


Kia telah berjuang setidaknya satu jam lebih. Namun pada akhirnya, bayi yang di kandungnya sudah kehilangan detak jantung. 


Dia kembali dipaksa untuk tegar saat harus berbaring di meja operasi sendirian. Wajah tanpa ekspresinya, seakan menggambarkan betapa terpukulnya dia. 

__ADS_1


"Gea, aku tidak bisa memakamkan anakku. Bisakah kau memakamkannya untukku?" pinta Kia pada Gea setelah keluar dari ruang operasi.


Gea tidak bisa menolak, karena bagaimana pun, Kia telah berjasa di hidupnya. "Iya, kamu tenang saja. Semua akan aku urus."


Gea adalah seorang wanita yang baru ditemui Kia lima bulan lalu, dalam keadaan mengandung. Menurut cerita Gea, dia diusir oleh mertuanya saat sang suami dinas di luar kota, hanya karena dia belum bisa memberi keturunan. Namun sialnya, pada saat itu Gea telah mengandung tiga bulan.


Hanya karena Kia merasa mempunyai nasip yang sama, dia menawarkan tempat tinggal untuknya. Bahkan merekomendasikan sebuah pekerjaan ringan. Bagi Kia, Gea adalah keluarga tanpa darah, begitu juga Gea menganggap Kia. Sehingga sudah biasa bagi mereka untuk saling membagi beban.



Dua minggu telah lewat. Namun rasa kehilangan masih menyelimuti Kia. Hampir setiap hari, sepulang dari bekerja, dia datang ke makam sang anak untuk meminta maaf. Setidaknya dua jam, dia duduk di sana sembari menghabiskan waktu sebelum masuk ke kampus.


Seorang wanita yang baru berumur 23 tahun, yang di paksa oleh keadaan menjadi wanita kuat dan mandiri. Gea sendiri salut akan kisah hidup Kia. Sekalipun Kia tidak mengenal ayah dari bayi itu, dia tetap datang setiap hari karena penyesalannya.


Hari itu, hujan deras tiba-tiba mampir ke kota mereka. Jarak pandang pun menjadi pendek, hanya berkisar dua hingga tiga meter. Melihat cuaca yang tidak memungkinkan, hari itu Kia absen ke makam anaknya dan memutuskan untuk pulang. 


"Gea, aku langsung pulang hari ini. Kamu mau makan apa?" tanya Kia buru-buru membereskan buku di atas meja.


"Apa aja."

__ADS_1


"Oke. Di luar hujan deras, kamu gak perlu ke halte. Siapin aku air panas aja ya!" 


"Iya, iya. Hati-hati kalau pulang!" ucap Gea sembari melihat payung di belakang pintu.


Ekonomi yang sulit, ditambah tabungan untuk melahirkan. Membuat dua orang itu berhemat sebisa mungkin, hingga akhirnya hanya mempunyai satu payung.


"Ahh, dia tidak membawa payung lagi." Hela napas Gea memanjang.


Demi mengantarkan payung sampai ke halte, Gea melanggar kesepakatan dengan Kia dan pergi keluar. Wanita itu menunggu dengan sabar di halte tempat Kia biasanya turun dari bis. 


Tidak lama setelah ia sampai disana, bus yang dinaiki Kia berhenti. 


"Kenapa kamu keluar? Liat perut besarmu itu?" ucap Kia gemas. 


Disaat Kia memarahi Gea. Sebuah mobil terlihat melaju cepat seperti kehilangan kendali. Lalu, menghantam bagian belakang bis dan terpental di atas tubuh mereka berdua.


...||...


...||...

__ADS_1


TBC


__ADS_2