Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 87


__ADS_3

Mobil sedan hitam berlogo Hyundai, melaju melawati beberapa bangunan, melewati tiga lampu merah dan dua kali berbelok ke kiri. Pada belokan terakhir, Kia baru menyadari ada yang salah pada jalan yang mereka lalui.


“Ini bukan arah ke bandara! Kemana kamu bawa aku?” Kia menoleh, menatap Kenneth yang fokus mengemudi.


Kenneth tak menjawab pertanyaan Kia. Ia hanya menoleh sesaat dengan senyum licik, lalu kembali fokus melihat jalan. Kia hendak menggomel saat pertanyaannya diacuhkan, tepat saat ia membuka mulut, Kenneth menghentikan mobil.


Lelaki itu dengan santai mematikan mesin, lalu membuka pintu dan keluar.


“Kennt, hei! Hei!” Kia terus berteriak memanggil lelaki itu, berharap dia mendapatkan jawaban yang memuaskan. Namun Kenneth masih diam, bahkan dia begitu santai membuka pintu belakang dan menggendong Jenny.


Wajah Kia tak bisa terprediksi, entah itu kesal, jengkel, atau penasaran. Dia buru-buru keluar dengan wajah cemberut.


“Jangan marah, kita cuma mampir sebentar!” Telapak tangan yang hangat menyentuh ubun-ubun Kia. Nada tenang, lengkap dengan senyum tampan yang membuat Kia diam tak berkutik.


Mampir, mampir kemana? Kia terus berpikir, bahkan tak segan untuk menoleh melihat sekitar.

__ADS_1


Tepat di belakang, ada toko kue yang harumnya semerbak menggugah selera. Di sebelah kiri toko kue ada butik baju dan di sebelah kanan ada coffee shop. Kia tak berpikir terlalu jauh. Mungkin Kenneth ingin membeli sesuatu di antara ketiga toko. Kenneth menggandeng tangan Kia, berjalan hati-hati menuju seberang.


Bibir Kia sedikit terbuka, pupilnya melebar, tatapannya terpaku pada dua kata yang terpampang di gedung seberang. Pikirannya melayang, membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi untuk saat ini. Namun, saat Kenneth dengan santai membawa Kia masuk ke gedung dua lantai.


Tepat pada saat itu, pikiran Kia mulai menerima sebuah kenyataan tak terduga. Ia segera menarik tangan dan menghentikan langkahnya secara sepontan.


“Apa yang kamu lakukan!” Nada yang keluar terdengar lirih, tetapi cukup berat.


“Menikah, kenapa?”


“Gila, kamu sudah gila Kennt!” Kia berbalik, hendak meninggalkan mereka, tetapi Kenneth dengan cepat mencekal tangan Kia.


Kia menatap dua mata Kenneth yang terlihat cukup serius.


“Hari ini, aku membuktikan keseriusanku padamu! Aku tau ini terlalu mendadak, membawamu langsung ke kantor catatan sipil, tanpa persetujuan darimu atau orang tuamu.” Nada yang terdengar begitu garang, tiba-tiba berubah sedikit sendu.

__ADS_1


“Karena kamu selalu bermain tarik ulur denganku. Aku takut, malam kamu berkata ‘iya’, saat pagi sudah berubah jadi ‘tidak’. Aku takut patah hati mendengar penolakan darimu lagi.”


Kenneth melepas cengkraman tangannya pelan-pelan. Tatapannya tak setegas beberapa detik yang lalu, dengan suara sedikit berat khas seorang pria, dia berbicara sedikit sendu,


“Gak peduli statusmu, gak mau tau tentang masa lalumu. Aku, hanya mencintaimu sekarang, nanti, dan selamanya.”


Setelah berbicara seperti itu, ia menarik napas sedikit panjang.


“Penerbangan kita 2 jam, 30 menit lagi. Kamu punya kesempatan setengah jam untuk berpikir. Aku dan Jenny akan menunggu di dalam. Jika lebih dari itu, aku anggap kamu menolakku, dan aku akan menghentikan langkahku untuk mengejarmu.”


Sambil menggendong Jenny, Kenneth melanjutkan langkahnya, masuk ke kantor Catatan Sipil dengan wajah penuh harap.


Statusnya ke depan, bergantung pada jawaban Kia hari ini.


__ADS_1


Jan gugup bang Kennt. Gak ada Kia, masih ada Othor kok 🤭😂😂


Setengah jam, Kia bakal masuk atau engak nih???????


__ADS_2