
...||...
...||...
"Semuanya terjadi begitu cepat. Hal yang aku ingat, kita sama-sama membungkuk, tapi posisi dia lebih tinggi karena melindungiku." Air mata Kia kembali menetes saat menceritakan kisah kelam pada saat itu.
"Saat sadar, dia sudah jatuh tersungkur dan kepalanya berdarah. Aku … aku berusaha membawa dia, tapi dia …." Kia tak kuasa menahan rasa pedihnya, hingga menangis tersedu-sedu.
Tak kuasa mendengar Kia menangis, Kenneth pun memberikan pelukan, mencoba menenangkan wanita yang masih berstatus istri.
Aku bersumpah akan menjagamu, Kia. Tidak akan membiarkan air matamu menetes lagi.
Kenneth mengangsurkan tangannya, mengusap ubun-ubun dan mencium kening Kia. Lalu, perlahan turun ke bawah, berhenti di bibir tebal milik sang istri.
CUP CUP
"Jangan menangis. Kita bisa membesarkan Jenny bersama. Memberinya keluarga yang lengkap."
"Siapa yang menyetujui itu?" Kia mendorong tubuh Kenneth yang sejak tadi memeluknya. Lalu, menghapus sisa air mata dan melipat kedua tangannya.
"Julius! Kakek tua itu sudah memberimu persetujuan." Kenneth membelai kening Kia, lalu perlahan menurunkan tangannya dan mengusap bibir wanita itu.
Manik mata Kenneth seperti medan magnet, mampu menarik pandangan Kia dan membuatnya lekat. Begitu lekat sampai-sampai Kia tidak dapat melepaskannya.
Rubah licik yang selama dua bulan ini menghilang tanpa jejak. Kini kembali mempermainkan kelinci kesayangannya.
Jemari jemarinya mulai bertindak sesuka hati. Menjelajah liar menjajaki leher jenjang Kia, kemudian turun melewati bukit yang masih tertutup kain.
__ADS_1
Bukan hanya tangan, tetapi juga bibir tipisnya, yang juga turut menjadi liar tak terkendali. Kenneth begitu lihai, membuka dua deretan gigi dengan lidahnya. Lalu mulai menelisik setiap rongga di dalam mulut Kia.
"Eemmgghh … aasshh." Lelungan Kia tidak sengaja keluar, saat jemari itu berhasil meraih buah ranum berwarna peach, dan memainkannya.
Puas menjelajah, bibir tipis itu kembali menyusuri alur tangannya tadi. Berawal dari leher jenjang Kia, lalu turun ke bawah, mencicipi buah ranum yang begitu menggoda.
"Argh, Kennt. Jangan disini!" Kia menancapkan kuku panjangnya di pundak Kenneth, tepat saat lelaki itu mulai menjilat, dan menyesap ujung buah.
Kenneth tidak peduli dan terus menikmati camilan sorenya. Sedangkan Kia, hanya bisa menggeliat dan menahan desaahan.
Kancing blouse yang Kia gunakan sudah lepas semuanya. Bahkan, dua tali penyangga buah sudah melorot. Rambut yang sejak tadi digelung dengan rapi, ikat rambutnya saja tidak tau entah dimana.
"Jangan gila, Kenn. Kita berada di pinggir jalan!" Kia berusaha berbicara sambil meremas rambut Kenneth.
"Aku ingin memakanmu bulat-bulat, Sayang!" Kenneth mendongak, menatap wajah merona Kia yang terlihat menggemaskan.
"Hanya dua bulan, kamu jadi semakin liar." Kia mendorong tubuh Kenneth, lalu membetulkan blousenya yang berantakan.
Kenneth selalu suka menggoda Kia sampai membuat wajahnya merona. Menurutnya, wajah Kia terlihat menggemaskan saat merona seperti tadi.
"Kia, kenapa kamu lari pada malam itu?"
"Aku seorang asisten dosen dan mahasiswa. Kalau ada yang tau aku punya malam seperti itu, aku bisa lari kemana?" Kia masih sibuk merapikan diri.
"Kamu membenciku?"
Pertanyaan Kenneth membuat jemari lentik yang sedang merapikan rambut, tiba-tiba berhenti. Manik matanya berpindah. Menatap seorang lelaki yang duduk menyerong, menghadap dirinya.
__ADS_1
"Iya," jawab Kia tegas. "Pada awalnya aku benci, tapi bukan olehmu. Aku benci, pada lelaki malam itu."
Kenneth berbikir beberapa kali saat mendengar pernyataan Kia. Memang, apa bedanya? Bukankah lelaki itu adalah dirinya?
Lalu, Kia memberinya penjelasan.
"Kennt, seandainya kamu datang lebih cepat, atau mungkin beberapa hari setelah malam itu dan menawarkan diri untuk bertanggung jawab. Aku jelas akan menolak, karena aku membencimu."
"Kenapa? Apa bedanya dengan itu?" kKenneth terheran.
Kia mengangkat dua sudut bibirnya, hingga terlihat garis tipis yang membuat pipinya sedikit mengembang.
"Alasan, kenapa aku mencintaimu. Kenapa aku mau menikah denganmu, itu semua hanya karena perlakuan lembutmu."
"Aku kehilangan ayah saat kecil. Tidak pernah merasakan kehangatan rumah. Sampai aku bertemu dengan lelaki bernama Kenneth Lee. Seorang mahasiswa yang lancang mengencani dosennya sendiri."
"Kamu selalu memberiku rumah untuk tempat bernaung dalam segala kondisi. Memberikan kehangatan yang lama hilang, selain itu, kamu adalah orang yang selalu bisa aku andalkan. Alasan itu, aku mau bersamamu. Terlepas, bahwa kamu adalah pria malam itu."
Kenneth mengusap pipi Kia yang rona merahnya telah pudar. Sambil menopang dagu, memandangi wanita yang duduk di sampingnya. "Akhirnya kamu mengakui perasaanmu."
"Berhenti menggodaku!" Kia menepis tangan Kenneth yang membelai pipinya. "Aku harus kembali, Jenny menungguku."
"Oke, aku antar kamu,"
...||...
TBC
__ADS_1