
...🐾🐾🐾🐾🐾...
Kia mengerjapkan mata perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada sinar mentari yang terpantul di lantai dan mengenai sudut ranjangnya.
Tangannya menjelajah. Menyusuri ranjang untuk mendapatkan benda pipih, nyawa seperempat hidupnya. Menelisik sosial media sebentar, kemudian beralih melihat pesan.
Pesan Kenneth masih belum ia buka. Sepertinya Kia masih terlalu malas meladeni pria itu. Atau mungkin kesal, karena sebelumnya sudah dikerjai habis-habisan.
Kia membuang ponselnya. Lalu, turun dari ranjang dan mengeliat. Meregangkan otot-ototnya yang dirasa begitu kaku, usai kerja rodi mendorong lemari besar.
Ia keluar dari kamar, kemudian masuk ke kamar putri kecilnya. Melihat malaikat itu masih tertidur begitu nyenyak. Kia mendaratkan ciuman di kening Jenny. “Mommy akan menemukan papa secepat mungkin!” ucap Kia lirih.
Seperti seorang ibu pada umumnya. Kia mengikat rambut, dan mulai mengerjakan aktifitas rumah tangga pada umumnya. Membersihkan setiap sudut lantai dan membuatnya terlihat selicin mungkin. Mencuci piring dan memasak sarapan.
“Mommy ....” Jenny berdiri tak jauh dari Kia dengan tangan yang mengusap mata.
“Eh, anak mommy sudah bangun?” Kia menoleh. Melihat anak perempuannya mengangguk.
Kia mematikan kompor. Lalu, mengajak putrinya untuk mandi. “Jenny, kalau mommy pergi, jadi anak baik ya?” ucap Kia sibuk memandikan putrinya.
Jenny yang fokus dengan kodok mainannya hanya mengangguk. Seolah benar-benar mengerti ucapan mommynya.
Setelah mandi, Kia langsung menyuapi anaknya. Hari ini, ia sedang menjalankan tugas seorang ibu. Yang fokus merawat anaknya dengan bahagia dan .... Rasa jengkel? Itu pasti, terutama untuk anak yang sedang aktif seperti Jenny.
__ADS_1
Menggurus rumah dan anak, membuat Kia lupa waktu. Sampai tak sadar, matahari sudah meninggi dan sudah codong ke barat. Baru saja menidurkan Jenny, bel pintu rumahnya berbunyi.
“Hari ini Bibi Yu libur, kan?” gumamnya lirih.
Kia melihat sosok lelaki tengah berdiri terhuyung di depan pintunya. Wajahnya begitu pucat, dengan bibir kering, juga keringat yang membasahi kening juga badan.
“Ke-kenneth!”
Tubuhnya ambruk dalam dekapan Kia. Membuat wanita itu seketika panik. “Hei! Hei!” Kia menepuk-nepuk pipi Kenneth. Namun pria itu tak juga sadar.
“Aku gimana bawanya? Ah dasar!” Keluh Kia.
Akhirnya, ia membopong tubuh lelaki itu dengan punggungnya. Lalu, meletakkannya di sofa sesegera mungkin.
Netra matanya melihat Kenneth yang merintih kesakitan, dengan keringat dingin yang membasahi bajunya.
“Aduh anak orang ini, kalau mati di sini kan gawat!” batin Kia segera mengambil kain lap.
“Air ...” Rintih Kenneth.
Kia sempat menghela napas pelan. Lalu mengambilkan segelas air dan membantunya minum. Mata Kenneth perlahan terbuka, melihat Kia sedang menyeka tubuhnya.
“Kakau sakit itu ke rumah sakit, bukan ke sini!” ucap Kia sinis.
__ADS_1
Kenneth berdecis engan. “Kamu gak jawab telfonku!” ucapnya lirih.
Netra Kia membuluat sesaat. “Memang siapa kamu?” Kia berdiri. Namun Kenneth memegang tangannya. “Aku, pacarmu!” Kia menoleh, melihat lelaki tak berdaya itu terkolek lemas.
“Aku anterin kamu ke rumah sakit!” Kia berusah melepas gengaman tangan Kenn.
“Ngak, tolong, biarin aku istirahat di sini sebentar!”
Kia tak berdaya. Melihat Kenneth yang kemarin begitu sombong dan juga angkuh. Seperti istana megah yang tak dapat di robohkan. Namun sekarang, justru lemah tak berdaya. Kia hanya bisa setuju, membiarkan lelaki yang mengaku pacar itu menginap satu malam.
“Ruang tamu ini untukmu!” Kia pergi ke kamar. Meninggalkan Kenneth sendirian di ruang tamu.
Mbak Kia, jan galak-galak napa. Kesian babang Kenn looooohhhh
Udah dulu ah, Othor mau semedi cari wangsit. Takut di gedor emaknya Kikim 🙈🙈
Jangan lupa sajen .....
Segala sajen othor terima deh.
Mau itu Vote, Kembang, hati, kopi. Othor pemakan segala, tapi gak makan temen kok 🤭😂😂😂
__ADS_1
Ritual wajib jangan lupa!