
"Cucu durhaka! Berhenti kau!" Teriakan Julius membuat beberapa tamu yang ada di lobby menoleh ke arahnya.
Kenneth paham dengan jelas, Julius tidak mungkin akan melepaskannya kali ini, karena api yang ia nyalakan di depan media cukup besar dan akan berimbas pada perusahaan mereka. Tentu saja dia harus siap menghadapi amukan dari Julius.
Untuk menjaga citra, Kenneth meminta ruangan kosong kepada staf, agar bisa berbicara leluasa dengan kakeknya. Tanpa ada seorangpun yang mengganggu.
Staf pun langsung membawa mereka ke sebuah ruangan kosong yang ada di lantai pertama. Membiarkan mereka berbicara dengan leluasa di ruang rapat yang berdesain kedap suara.
"Ku kira, kita sudah sepakat?" Kenneth menatap jendela yang tertutup tirai, enggan menatap wajah Julius.
"Kau cucu kurang ajar! Sejak kapan kau menikah?" tanya Julius terdengar kesal.
"Wanita yang masuk di keluarga Lee, harus sepadan. Jangan macam-macam kau!" Gertaknya kepada Kenneth.
"Coba kalau ibumu masih hidup, apa bisa kau bertingkah liar?"
Dari sekian banyak ucapan dan makian dari Julius, semua dapat dia terima dengan sabar. Namun ketika Julius menyebut 'Ibu', Kenneth langsung mengepalkan tangan dan menoleh menatap Julius.
__ADS_1
Ibu, adalah satu-satunya orang yang tidak ingin dibawa-bawa oleh siapapun, termasuk sang kakek sendiri. Mendengar Julius membawa nama ibunya ke dalam perdebatan mereka, jelas membuat Kenneth meradang.
"Cukup! Kau selalu membawa dia disetiap sifat burukku." Kenneth mencoba mengontrol emosinya yang sudah memuncak.
"Apa kau tidak sadar, sifat burukku semua diturunkan oleh mu!"
"Sejak kecil, sejak dia pergi, kau mengatur segalanya. Pertemananku, pelajaran, kesukaan, hobi, bisnis, dan sekarang pernikahan," lanjutnya.
"Dari semua itu, aku selalu patuh dan menurut. Hanya saja, pernikahan itu mutlak keputusanku. Suka atau tidak suka, aku yang memilih wanitaku sendiri!"
Julius meremas kuat-kuat ujung tongkatnya. Perkataan Kenneth memang benar, hampir semua kehidupannya, Julius yang mengatur. Si kecil yang dulu menurut, kini telah tumbuh dan mampu memberontak.
"Kita sudah sepakat sebelumnya, dan ini belum melewati batas perjanjian. Aku harap, kakek tidak mengusikku lagi, atau bahkan mengganggu istriku!"
Dilajukannya mobil sedan yang ia rebut dari anak buah Julius, dan segera bergegas kembali ke apartemen. Hati lelaki itu mulai resah, kala panggilannya tak satupun yang diterima Kia.
"Ashh, sial!" Desarnya kesal sembari menambah kecepatan.
__ADS_1
Usai ditinggal pergi cucunya, seorang pria datang memasuki ruangan tempat Julius berada.
"Tuan Besar, Anda tidak apa-apa?" tanyanya melihat Julius mencengkram dada.
"Bocak tengik!" umpatnya melempar tongkat ke sembarang arah.
"Cepat selidiki! Selidiki dengan siapa dia menikah!" teriaknya lantang, sambil menunjuk ke arah pintu yang tertutup.
"Namanya Sakia Shen. Dia seorang dosen di Universitas High Collage, Tuan," jawab pria bernama Rey sembari menyodorkan ponsel.
Julius menoleh heran, bagaimana Rey bisa mendapatkan informasi secepat itu. Apa dia sudah mengetahui lebih dulu? pikir Julius.
Diambilnya ponsel itu, dan segera mengamati informasi tentang Kia. Dua alisnya terangkat begitu mengetahui latar pendidikan Kia yang lulus dengan Coumlude. Hebat, pikirnya. Meski bukan lulusan kampus luar negri, tetapi kepintaran Kia sudah mendapat pengakuan Julius.
"Selidiki lebih lanjut! Tentang kehidupannya dan keluarganya, jangan sampai ada yang terlewat!" pintanya pada Rey.
"Menantu keluarga Lee, harus lulus seleksi!"
...||...
__ADS_1
...||...
TBC