Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 85


__ADS_3


Langit baru saja berubah warna, meski matahari bersinar, tetapi tak cukup untuk menghangatkan seisi kota. Hari ini bisa terbilang cuacanya cukup cerah, awan tipis membumbung menghiasi langit, meski suhu hanya lima derajat, dan tanpa kicauan burung.


Kia bangun lebih awal dari biasanya, ia sempat meregangkan tubuh sebelum akhirnya keluar kamar, melewati koper 20 inch berwarna biru yang diletakkan dekat pintu. Semalam setelah ia menutup pintu, Kennteh menghubunginya, memberikan kabar baik tentang liburan. Tak hayal, raut wajahnya terlihat sangat cerah saat bangun pagi.


Secangkir latte baru saja siap, lengkap dengan mantau dan bakcang tertata di atas meja. Ia menyikap tirai, berdiri memegang cangkir, sesekali menyesap isinya.


Baru menghabiskan setengah latte, bel pintu terdengar jelas.


“Siapa?” batin Kia penasaran. Seingatnya, janji dengan Kenneth jam sembilan, dan sekarang masih jam enam. Kia buru-buru membuka pintu.


Seorang lelaki memakai jaket kurir, berdiri di depan dengan menenteng paper bag.


“Miss Kia, ada paket untuk Anda?”


“Paket? Dari siapa?” tanyanya.


“Di sini tertulis Mr. L, Nona.”

__ADS_1


Kia terdiam, menebak-nebak, siapa kiranya Mr. L. Tangannya terlihat ragu saat menerima paper bag besar dari kurir. Meski begitu, paper bag itu tetap berakhir di tangannya. Dia membawanya ke dalam dan mengintip isinya sekilas. Perlu beberapa menit, sampai dia memasukkan tangannya ke dalam dan menarik kotak hitam dari sana dan langsung membukanya.


Terlihat sebuah dress yang terlipat rapi, di atasnya terselip secarik surat. Kia buru-buru membukanya, karena penasaran.


“Gaun cantik, untuk kekasihku yang cantik.” Pertanda, Mr Lee.


Singkat, padat dan jelas. Pikirannya langsung tertuju pada sesosok pria. Tinggi, ramping, dan gagah. Hanya pria itu yang percaya diri menganggapnya kekasih, tanpa menunggu persetujuan pihak wanita.


Kia buru-buru mengambil ponsel dan menghubungginya. Memastikan jika gaun itu memang dikirim olehnya.


“Kennt ....” Nada yang keluar terdngar sedikit ragu dan sendu, membuat lawan bicaranya berpikir yang tidak-tidak.


“Kenapa? Masih ada dua jam lagi, kamu sudah rindu sampai nadamu begitu?”


“Keturunan nenek moyang!”


Kening Kia mengerut mendengar jawaban seperti itu. Namun dia harus menahan umpatannya agar pembahasan penting tidak terlewat.


“Pagi-pagi ada yang mengirimiku sebuah dress. Di sana tertulis ‘kekasihku’. Apa itu milikmu?”

__ADS_1


“Bukan! Aku gak pakai dress!”


Kerutan dikeningnya bertambah lagi, kali ini dia benar-benar kehilangan kesabaran. Dengan kasar, dia pun membalas, “Oh, kalau gitu aku buang aja!”


“Jadi, kalau itu dariku, kamu mau pakai. Kalau bukan, kamu buang begitu saja? Kia, kamu beneran sangat menyukaiku, ya?”


Wajah Kia merah padam, bola matanya melotot hampir keluar dan melipat bibir bawah cepat-cepat. Dia tak bisa lagi berkata-kata, menyela atau membantah ucapan Kenneth.


“Sialan kau!” Kia menjauhkan ponsel dan memakinya, “Berengsek!” Sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.


Dia membuang ponsel ke sofa. Raut wajahnya masih merah padam. Malu, bercampur dengan kesal, mungkin seperti itu yang bisa tergambar di wajahnya. Sorot matanya secara tidak sengaja menangkap objek di atas meja. Kotak yang sudah terbuka, berisi dress dari Tuan L. Ia mengambil dress, menempelkan pada tubuhnya dan berdiri di depan cermin.


Satu sudut bibirnya terangkat, menatap pantulan dirinya yang terlihat cukup cantik.


“Kan memang cantik?” Gumam Kia memuji diri sendiri.



Othor KO abis paksin 😷😷

__ADS_1


kalean yang udah paksin, gimana rasanya???


Bab selanjutnya, di usahakan nanti malam. Semoga othor dapet wangsit bakso, mie ayam, sate, nasi padang. Biar kuat buat ngetik 😴😴


__ADS_2