Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 107


__ADS_3

Hari yang di jalani Kia berjalan seperti biasa. Hanya saja, Bibi Yu akan datang sedikit terlambat pagi ini, karena Kenneth masih bisa menjaga Jenny. Kia sebenarnya sedikit keberatan, tapi lelaki itu memaksa untuk menjaga Jenny lebih lama, sebelum kelas siangnya dimulai.


"Jenny, biasanya ngapain kalau sama Bibi Yu?" tanya lelaki yang baru beberapa minggu resmi menjadi ayah gadis kecil itu.


"Mamam, main ... emm ... tidul," jawabnya dengan aksen cadel khas anak kecil berusia 3 tahun lebih.


Jawaban Jenny jelas membuat Kenneth tertawa untuk sesaat. Selesai dengan sarapannya, dia mengajak Jenny untuk bermain di kamar. Sesekali mengajari gadis itu mengeja kata. Hanya beberapa minggu saja, Ken sudah begitu dekat dengan anak gadisnya. Dia bahkan dengan mudah menidurkan Jenny.


"Maaf, Daddy datengnya terlambat. Mulai sekarang, Daddy janji bakal jaga Jenny dan mommy." Kenn mendaratkan kecupan hangat di kening Jenny yang sedang tertidur.


Berselang beberapa menit usai Jenny tertidur, Bibi Yu pun datang untuk menjaga gadis itu. Mengantikan daddynya yang harus segera pergi ke kampus.


"Bibi Yu." Panggilan dari Kenn membuat wanita paruh baya itu menoleh. "Bisakah setiap pagi aku menitipkan sesuatu?" lanjut Kenn.


"Apa itu?"


"Akan ada yang mengirim belanjaan setiap pagi. Bisakah Anda membawanya ke atas dan bilang padanya kalau semua itu Anda yang belanja?"


Ucapan Kenneth sedikit tidak dimengerti oleh Bibi Yu. Wanita berkepala 4 itu bahkan menunjukkan ekspresi kebinggungan. Melihat raut wajah Bibi Yu, Kenneth menghela napas dan mencoba menjelaskannya perlahan.

__ADS_1


"Jadi begini, setiap pulang mengajar, Kia selalu mampir ke pasar untuk belanja bahan. Aku gak mau dia terlalu lelah, jadi aku berinisiatif memesan bahan secara online. Hanya saja, gadis itu sedikit hemat, dia pasti marah kalau belanja sesuatu yang kelewat mahal."


Bibi Yu mengangguk, seakan paham maksud dari perkataan Kenneth. "Aku paham sekarang. Jadi kamu mau aku yang bilang ke dia, kalau aku belanja di pasar, begitu kan?"


"Benar, begitu."


Bibi Yu berdecak sembari menggeleng kepala. "Aih, memang dasar anak muda ya. Mau perhatian aja sembunyi-sembunyi! Iya, iya, aku atur semua untukmu!"


Kenneth tersipu malu, dia tak menyangka, wanita yang sudah membantu menjaga Jenny itu, rupanya cukup peka. Dia pun langsung turun ke bawah begitu selesai bernegosiasi dengan Bibi Yu.


Seorang lelaki muda, dengan setelan jas biru tua, berdiri di depan sebuah mobil sedan. Tubuh yang sejak tadi berdiri tegap, tiba-tiba membungkuk saat melihat seorang lelaki keluar dari lift. Lelaki yang hanya memakai kaos tipis dengan mantel tebal, seakan mampu membuatnya tunduk segan.


"Lain kali jangan tunggu aku di depan mobil! Juga, jangan pakai baju formal!" Nada bicara Kenneth terdengar ketus dan tegas.


"Ba-baik, Presdir."


"Dimana Zico? Apa dia mati?" Gerutu Kenneth jengkel sambil menengadah, meminta berkas yang di bawa lelaki itu.


"Pak Zico pagi ini ada rapat dengan investor dari Dubai. Apa Presdir membutuhkan sesuatu?"

__ADS_1


Kenneth terdengar membuang napas panjang. Tangan besarnya meraih pena yang di sodorkan karyawannya, lalu menorehkan tanda tangannya di beberapa dokumen.


"Bilang sama dia, Dubai cocok untuk buka cabang!" Kenneth langsung pergi begitu saja, masuk ke dalam mobil dengan perasaan jengkel. Bagaimana tidak, sebelumnya dia sudah mengingatkan Ziko tentang identitasnya dan penyamarannya. Lalu, dengan seenak jidat, dia menyuruh anak buahnya yang lain untuk datang mengacaukan seluruh rencananya.


Tak mau ada bukti yang mungkin akan membongkar identitasnya. Kenneth menghubungi Tania, dan memintanya untuk menghapus rekaman CCTV di basement.


"Hapus semua, jangan sampai ada yang ketinggalan!"


"Baik, Presdir."


Angin musim semi sudah berhembus. Meski beberapa jalanan masih basah, tetapi tumpukan salju sudah mencair. Beberapa pohon pun mulai menumbuhkan daunnya. Kenneth baru saja memarkirkan mobil bututnya di tempat biasa. Lalu, berjalan ke kelas.


Dua orang yang sebulan lalu resmi menikah, terlihat seperti orang asing saat bertemu di kampus. Kia bahkan tidak melirik lelaki yang sudah menyandang sebagai suami, saat tak sengaja berpapasan di koridor.


Hingga akhirnya ....


📩 Kamu mengabaikanku, Sayang.


Pesan dari Kenneth menghiasa layar ponsel Kia saat dirinya fokus mengajar. Alih-alih membalas, dia hanya melirik notifikasi yang masuk tanpa membukanya.

__ADS_1


"Shakia Shen! Liat gimana aku menghukummu nanti," gumam Ken yang berdiri di ambang pintu. Memandang istrinya yang lebih memilih melihat proyektor dibanding membalas pesan.


__ADS_2