
...||...
...||...
Dua bulan hampir berlalu. Kia masih belum juga mendapat respon dari Kenneth, padahal, dia telah menyiapkan hati dan mentalnya untuk menandatangani surat perceraian.
Pada penghujung musim semi- -
Kia baru saja keluar dari minimarket yang berada tidak jauh dari apartemen. Baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba seorang pria berjas hitam mendatanginya.
"Selamat sore, Nona Shen," sapanya ramah.
"Anda siapa?"
"Tuan saya ingin menemui Anda," Dia mengangsurkan tangannya ke pintu mobil yang berada di sampingnya.
Kia menoleh, memandang kaca mobil hitam yang tidak terlihat apapun dari luar.
Siapa? Siapa yang mencariku?
Sikap bengong Kia membuat orang yang berada di dalam mobil seakan tidak sabar, dan akhirnya menurunkan jendela kaca.
"Nona Shen, bisa kita bicara?" Julius memandang Kia yang berdiri tidak jauh darinya.
I-itu Julius!
"Tuan Julius, sedang bertemu Anda." Kia menyapa dengan senyum manisnya, berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Hanya saja, diantara kita tidak mungkin ada hal penting yang perlu dibicarakan," lanjutnya terdengar ketus, tetapi masih dengan senyum ramahnya.
__ADS_1
Entah kenapa, respon ketus dari Kia justru membuat satu sudut bibir Julius terangkat. "Bicara dengan cucu menantu, apakah perlu ada hal penting?"
Dua bola mata Kia membulat, menunjukkan ekspresi kagetnya dengan jelas. Seorang Julius, orang kaya dengan sederet bisnis besar, apakah mudah mengakui cucu menantu?
Menggaruk kening sembari melihat sekitar. Pikirnya, tidak ada hal yang salah jika berbicara dengan Julius. Lagi pula, dia telah siap jika pada akhirnya bercerai dengan Kenneth.
"Disana ada coffee shop, kita bisa bicara disana!" Kia menunjuk ke sebuah coffee shop yang terletak di ujung.
Julius sempat menawarkan tumpangan, bahkan Rey sudah membuka pintu mobil. Namun, Kia memilih untuk berjalan kaki.
"Tolong 1 Latte tambah sedikit creamer." Kia menatap pelayan tanpa melihat buku menu.
"Baik, kalau Anda?"
"Kau punya Black Tea? Beri aku itu!"
Dua pesanan di meja paling sudut telah dicatat oleh waiters dan langsung disiapkan.
"Suka, hanya membatasi. Dia bilang, kafein itu tidak baik. Aku masih ingin hidup lebih lama untuk mengawasi bisnis besarku."
Jawaban Julius membuah Kia mendesah heran. Memang, orang kaya tetaplah orang kaya. Persepsi di artikel tentang kesombongan Julius yang mendominasi memang benar adanya.
"Hal apa yang anda ingin sampaikan, Tuan Julius?"
Julius mengambil cangkir teh yang beberapa menit lalu diantarkan waiters. Dia menyesap Black Tea miliknya sambil melirik Kia.
"Kenapa kau tegang? Aku gak akan menyuruh kalian bercerai!"
Manik mata Kia membulat penuh mendengar perkataan Julius. Ada banyak hal yang di luar ekspektasinya, termasuk tentang hubungannya dengan sang cucu. Namun, apa yang terjadi?
__ADS_1
Dia, merestuiku?
Tetapi, itu percuma. Hubungan kami sudah berakhir. Dia tidak lagi peduli tentang kami.
Kia memandang cangkir Latte dengan senyum getir.
"Kau tau, alasan dia memilih High College?" Julius memandang Kia.
"Seorang pewaris dari Julius, apakah perlu pergi ke kampus seperti itu hanya karena sebuah gelar sarjana?"
"Seorang presdir yang mampu memenangkan banyak tender. Memimpin hampir 200 perusahaan dan semuanya dalam kondisi stabil. Apa perlu pergi belajar lagi?"
Rangkaian pertanyaan Julius seakan membuat mata Kia terbelalak lebar. Sudah dua bulan sejak dua insan saling menghindar, tetapi tak satu pun pemikiran seperti itu ada di pikiran Kia.
"Aku gak pernah lihat dia memperjuangkan seseorang sampai ke titik demikian. Setelah aku melihatmu, aku baru tau alasannya."
Julius mengambil tongkat berukir naga, lalu berdiri dari duduknya. "Kamu ibu yang baik, juga wanita pekerja keras. Aku mengakuimu, tapi masalah hubungan, itu terserah kalian!"
Membahas tentang 'Ibu' Kia langsung mengerti apa yang Julius maksud. Jika pria tua itu bisa mengetahui dimana Kia mengajar, pasti mudah pula menemukan Jenny.
Namun, hal mana yang Julius ketahui?
"Tuan." Kia buru-buru bangkit berdiri. "Sepertinya, Anda salah paham. Dia bukan anak …."
Julius melambai, membuat Kia berhenti berbicara. "Aku tau semua ya, termasuk orang tua anak itu!"
...||...
... ||...
__ADS_1
TBC