
...🐾🐾🐾🐾...
Seorang wanita mengenakan dress merah, menghapiri Kenneth yang baru saja datang. Dengan gaya yang menggoda, menempelkan dadanya ke tubuh lelaki itu tanpa malu\-malu.
“Minggir!” Dorong Kenn menyingkirkan wanita yang baginya cukup menganggu.
“Aku lebih tertarik milik kekasihku. Alami!”
Gayanya terlihat begitu angkuh, berjalan melewati gadis itu begitu saja. Dengan cepat mengambil tempat duduk di sofa.
“Ka-kau punya pacar? Sejak kapan?” Lelaki bernama Martin terlihat begitu antusias. Mendatangi Kenneth dan mencercanya dengan beberapa pertanyaan kuno.
“Menurutmu, dia bisa punya pacar? Paling juga buat esek-esek doang,” sahut Felix dengan gaya mengejeknya.
Kenneth hanya tersenyum mendengar ejekan teman-temannya. Justru dengan santai menuang minuman ke dalam gelas.
“Aku serius soal itu!” Ia meneguk Whisky yang baru dituangnya.
Pernyataan itu membuat tiga orang pria dalam ruangan menatapnya heran, juga penuh tanya. Bagaimana bisa, seorang Kenneth Lee jatuh cinta dan punya pacar? Hampir tidak mungkin, begitu pikir mereka kompak.
“Kau serius? Siapa dia?” Shandy meletakkan gelasnya seketika.
“Seorang dosen gila berekor tunggal!” Kennth menatap bibir gelasnya.
Felix dan Martin tertawa kompak, tidak percaya dengan ucapan salah satu temannya itu. Seorang pria yang hanya mengerti bersenang-senang dengan semua gadis, bagaimana bisa punya pacar? Begitu pikir mereka.
Namun berbeda dengan mereka, Shandy justru terdiam. Ia lebih penasaran dengan sosok wanita yang bisa menggoyahkan hati salah satu sobat baiknya itu.
__ADS_1
“Jadi, karna dia, kamu jadi gak suka lagi sama mereka?” Shandy menunjuk beberapa penari yang sedang menghiburnya.
“Sejak tiga tahun lalu, juga karna cari dia. Menurutmu aku jadi sesabar apa sama wanita-wanita itu?” Kennt meneguk lagi minumannya.
“Tunggu! Jangan bila itu Rebbeca!” Felix mengebrak meja.
“Sejak kapan aku suka model tambal sulam modelan begitu?” Bentak Kenneth dengan nada tinggi.
“Kalau gitu, kenalin dong, Bang!” Rengek Martin dengan kedipan penuh harap.
“Nanti juga tau!”
Kia pov
Masih tiga hari berlalu sejak dia melayangkan kalimat seperti itu. Jelas-jelas beberapa minggu lalu, bilang mau jadi pacar tiga bulan. Sekarang, kok malah pengen masuk ke kehidupan pribadiku?
Cih! Menyebalkan!
Aku baru selesai kelas. Sambil nunggu jam berikutnya, biasanya main game di kelas yang kosong. Lagi jalan cari kelas, tiba-tiba seseorang menarik tanganku dengan cepat. Membawaku masuk ke dalam ruang kelas.
“Aaa ....”
Netra mataku menelisik setiap inci tubuh lelaki yang telah menarik dan membekap mulutku. Jelas aku mengenal dia dengan baik, karena baru saja pikiranku tertuju padanya.
Dia yang panjang umur, atau kita yang jodoh.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan!” Sunggutku pelan saat dia melepaskan tangannya dari bibirku.
Bibirnya membisu, sorot matanya terlihat sayu tak berona. Dua tangan itu meraih pinggangku dengan cepat. Lalu, meletakkan kepalanya di pundak.
Gak tau kenapa, aku hanya diam membisu. Tak melontarkan pertanyaan apa pun padanya. Meski dalam pikiranku terselip beberapa pertanyaan. Tentang sikapnya yang berubah.
“Miss, bisa tolong aku gak?”
Suaranya begitu berat dan putus asa. Membuat hatiku tiba-tiba terasa sesak tak menentu.
“Jangan begini, ada orang yang lewat nanti!” Kudorong tubuhnya agar pelukan itu lepas. Namun, dua tangannya telah berakar begitu dalam dan sulit dilepaskan.
Dia mengangkat kepalanya dari sandaran, dan menatapku. Tadi gak begitu terlihat jelas. Namun sekarang, aku bisa melihat raut wajahnya yang sedu-sedan tak berwarna.
Satu ciuman yang begitu manis mendarat cukup elegan. Menyentuh relung, menggetarkan jiwa.
Manis dan lembut. Seperti saat aku menikmati permen kapas. Enak ... gak mau lepas!
Sakia Shen! Kau benar-benar gila!
Suara kecil yang begitu jelas, membuatku sadar dari buai asmaranya. Sekuat mungkin mendorongnya, mencabut akar yang perlahan menghujam begitu dalam.
“Ka-katakan, ada apa!”
...🍃🍃🍃🍃🍃...
Libur sehari, kayaknya kagak ada yang rindu othor yee 🤭🤭
__ADS_1
Jangan lupa sajen + ritual wajib!!
📬📬 Next Bab, meluncur ...