
Kia terperanjat, mendapati kamarnya sudah berubah. Bukan lebih bagus, justru lebih kotor tak terurus. Bahkan lebih cocok di sebut sebagai gudang, bukan kamar.
Dua lemari berjejer memenuhi hampir setengah dari kamar. Belum lagi kardus yang menumpuk, berjejer menjadi tiga baris dengan dua tumpuk. Juga, ranjang kecil yang terlihat gak kokoh.
Belum cukup dengan itu, Kia harus mendapati Jenny tengah tertidur pulas di sana. Tubuh kecilnya terlihat meringkuk, dengan selembar selimut tipis yang tak cukup hangat.
Kia jatuh terduduk. Air matanya kembali tumpah. Dalam hati ia mengutuk hidupnya, mengutuk segala keputusan yang ia ambil.
“Mah ... aku ini bukan anakmu lagi, kah? Gak masalah kalau cuma mau uang, tapi kenapa harus begini sama Jenny?” Liriknya.
Dengan air mata yang menetes membasahi pipi, Kia membalut tubuh Jenny dengan selimut. Membuka kancing mantel, dan mendekap tubuh Jenny, kemudian menutupinya dengan mantel.
Dengan perasaan kacau, ia keluar kamar.
“Kamu mau kemana, Nak?”
__ADS_1
Kia menoleh, menatap wanita yang dipanggil mama dengan perasaan kecewa.
“Mah, kamu mau uang berapa biar bisa lepasin aku?”
Tiba-tiba tangan wanita itu melayang dan mendarat dengan keras di pipi Kia. Begitu keras sampai sudut bibirnya terluka.
“Ngomong apa kamu?!” Seru Nyonya Shen meluapkan emosinya.
“Tiga tahun lalu, aku memang salah. Aku sudah mencoba menyenangkan hatimu selama ini. Minta renovasi rumah, langsung kasih. Minta beli mobil buat Fang, langsung beli. Kamu tau ngak, selama ini aku dapat uang dari mana?” Perkataanku tertahan untuk sesaat. Menatap wajah mama yang masih terlihat begitu marah.
“Aku mengambil kontrak lebih awal. Mengambil gajiku lebih dulu, mengambil les privat khusus. Bekerja siang malam cuma buat nyenengin kamu. Tanpa peduli panas, hujan atau badai salju, bahkan Jenny pun sering aku tinggal. Saat aku meminta bantuan menjaganya, kenapa Mama menjadi terlalu engan?”
“Tumbuh bersamamu selama dua puluh tahun lebih, dalam sekejap menjadi orang asing. Mah, aku ini sudah bukan anakmu kah?”
Kia tak mendapatkan jawaban apa pun. Ia hanya melihat mamanya yang justru berpaling seakan engan menatapnya. Sudut bibirnya terangkat, terukir senyum penuh kekecewaan.
__ADS_1
Dengan hati yang terasa begitu sakit, Kia berpaling dan pergi. Namun, saat melewati ambang pintu, “Ki-Kia ....” Panggil Nyonya Shen yang terdengar engan.
Kia menoleh dan langsung berkata, “Tenang, aku masih mengirim uang sebagai baktiku!”
Seakan bisa menebak maksud dari mamanya. Ia berjalan lagi, tanpa menoleh, dengan mantap melangkah kaki. Begitu mendengar perkataan dari Kia, Nyonya Shen tak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya berdiri di ambang pintu, tak berbicara apa pun, hanya menatap punggung anaknya yang perlahan menghilang.
Sudah setengah jam ia duduk di halte, tapi bis tak kunjung datang, taxi pun tak terlihat. Akhirnya, ia memutuskan pergi ke counter ponsel yang berada tak jauh dari halte. Membeli sebuah ponsel murah dengan harga tujuh puluh dolar.
Ia langsung menghubungi Kenneth. Berharap lelaki itu menepati janjinya. Namun sayang, panggilan itu tak terjawab. Dengan putus asa, Kia mencoba mengirim pesan.
“Kalau kamu merespon pesanku, aku berjanji menyerahkan segalanya padamu! Jika, jika kau merespon, berarti kita memang jodoh,” ucapnya berbicara dengan ponsel murah yang baru saja dia beli.
Bang Ken selalu ngilang di saat penting!!!!
__ADS_1
Awas nyesel looh nanti bang 😏😏
Ritual .... Sajen ....