
Esok paginya, Kia bangun sedikit siang. Pertarungan semalam telah menguras habis seluruh tenaganya. Bahkan, tidur selama delapan jam tidak membuat energinya terisi kembali. Justru, membuat tubuhnya terasa remuk.
Beruntung, Kia memiliki Kenneth yang cepat tanggap. Melihat istrinya masih tidur, dia berubah menjadi ibu-ibu rumah tangga. Harinya di mulai dengan membangunkan Jenny, memandikannya, lalu membuat sarapan.
Kia terbangun saat Kenneth baru selesai memanggang roti dan meletakkannya di atas meja. Melihat Kenneth memakai celemek, Kia tertawa lepas.
“Hahaha ... Jenny, coba lihat Daddy!”
Melihat Kia menertawakannya, Kenneth pun mengambil sisa adonan pancake. Lalu, mengoleskan ke wajah istrinya.
“Oh, udah pandai ketawa ya?”
“Cukup! Cukup! Ampun!” Pekik Kia menyelamatkan wajahnya. Namun Kenneth masih belum berhenti. Alih-alih meminta maaf dengan baik-baik. Kia justru mendaratkan bibirnya ke pipi Kenneth.
Muach
“Kamu udah bekerja keras. Terima kasih, Sayang.” ucapnya manis.
“Tapi ... kamu beneran deh ...” Kia tertawa lagi, membuat Kenneth berkacak pinggang dan melotot ke arahnya.
Kia menggeleng-geleng kepala, lalu menarik Kenneth menghadap kaca besar yang ada di sudut. “Lihat!” Kata Kia mencoba menahan tawa.
“Kamu pakai clemek, tapi ... bawahan kamu pakai kolor.” Kia tak bisa menahan tawanya lebih lama. “Itu ... mana kolor gambar phikacu lagi.” Lanjutnya dan masih tertawa.
Kenneth merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya. Lagi pula, wanita terlihat sexy pakai clemek, bahkan saat mereka tidak memakai apa pun, atau cuma pakai celana pendek. Jadi, apa salahnya?
__ADS_1
“Gini ya, Suamiku. Di sinetron ikan terbang, atau kudanil berendam. Kalau pakai clemek, cowok bakal terlihat mempesona kalau pakai pakaian formal. Lah ini ....”
“Jadi, aku gak mempesona?” Kenneth terlihat kesal, ia melepas clemek sambil berkata, “Realitanya gak seindah ekspetasi!” Dia pun melangkah pergi dengan cepat.
Kia mencoba menahan, menarik tangan Kenneth, lalu mengalungkan tangannya di leher. “Aku bercanda. Kamu yang paling mempesona, kok.” Sebuah ciuman mendarat lagi di pipi kirinya.
“Ayo makan. Bukannya tadi kamu ingin membawaku ke ibu mertuaku?”
Seperti buaya yang bertemu dengan pawang. Kenneth menurut dengan cepat. Mengesampingkan rasa jengkel, dan duduk bersama menikmati sarapan yang dia buat.
Selesai dengan sarapan pagi yang sederhana. Kia membantu Jenny bersiap lebih dulu. Kemudian membantu Kenneth sebelum dirinya bersiap.
“Sayang, pakai putih ya.” ucap Kenneth saat melihat Kia bersiap.
“Kenapa putih?”
“Tapi Jenny ....”
“Biar aku yang handel, kamu siap-siap aja. Ngak perlu terlalu tebal, kamu udah cantik.”
“Cih gombal!”
Mobil sedan keluaran tahun 2015, melenggang mengantar mereka bertiga. Kia tak banyak bertanya saat di jalan. Dia, terlihat tegang, bahkan tangannya dingin.
“Sa-sayang ... kita gak bawa apa-apa? Buah atau mungkin kue?”
“Mama ngak bisa makan. Kita beli bunga aja.”
__ADS_1
Sebentar berkendara, mereka menemukan satu toko bunga. Kenneth menyuruh Kia dan Jenny menunggu di dalam, khaawatir mereka akan kedinginan. Saat kembali, dia sudah membawa seikat bunga lily putih.
“Ngak perlu cemas. Mama baik kok.” ucap Kenneth sambil menaruh bunga di kursi belakang.
Kia tak mampu berkata-kata. Hanya bisa menurut dengan patuh. Namun, hatinya tetap ada seciul rasa cemas. Bagaimana kalau keluarga suaminya tidak menerimanya?
Itu hanya menjadi kecemasan tak berarti, saat mobil mereka masuk ke area pemakaman mewah. Gerbang di luar bahkan lebih tinggi dari gerbang kampus mereka. Terutama saat mobil itu masuk lebih dalam dan berhenti.
“Ayo turun.” Ajak Kennt.
“Ke-kenapa kesini?”
“Ketemu mama. Aku mau kenalin kalian.”
Kia berpikir, tangannya sudah cukup dingin. Namun saat jemari Kenneth menyentuhnya, tangan itu jauh lebih dingin. Dengan hati-hati dia menggandeng Kia sembari menggendong Jenny.
Berjalan masuk melewati beberapa batu nisan. Sampai akhirnya, mereka berhenti di tengah-tengah.
“Ma, aku datang. Kali ini, gak sendiri. Aku bawa istri dan anakku.”
Kia tersentak kaget untuk beberapa saat. Kemudian membungkuk dan memberi salam.
Hadir Lagi sambil nenteng salah satu temen Othor.
Nih, Ternyata Itu Cinta, gak kalah seru. jangan lupa mampir, ramein lapaknya.
__ADS_1
karya kak Aveeiiii