Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 69


__ADS_3

Kia Pov


Aku menatap mama yang menunjukkan mimik wajah seriusnya. Entah kenapa, aku seketika punya indra ke enam. Punya kekuatan untuk menembus pikirannya dan menebak sesuatu.


“Bicara aja, Ma.” Kutuang teh dari teko itu ke cangkir. Sambil menunggu mama berbicara, menyesap sedikit teh yang rasanya ... terlalu manis.


“Ini ... adikmu, dia akan segera menikah.”


Baru saja meneguk teh panas, lidahku sedikit melepuh dan reflek menjulur. “Lihat anakmu itu! Diajak bicara malah mengejek!” Seru lelaki yang engan ku panggil papa.


Ingin sekali aku menyuruhnya menyesap teh panas itu, agar dia tau bagaimana rasanya lidah yang melepuh. Namun pada akhirnya, aku engan untuk meladeni ucapannya.


“Dia mau nikah, apa hubungannya sama aku?”


“Fang-fang anak lelaki, dia butuh rumah sebagai mahar. Kamu — bisa bantu sedikit, gak?”


Ternyata begitu. Selama ini, mama engan jika aku ingin memintanya menjaga Jenny, meski hanya beberapa jam saja. Namun, kemarin itu jadi hal baik. Aku kira, hubungan kita bisa kembali akrab seperti dulu. Kenyataannya yang kudapat, justru seperti ini.


“Gak banyak kok, mama ada dua ratus ribu. Kamu — bisa tambah tujuh ratus, ngak?”


Seketika netra mataku membulat, dengan kasar meletakkan cangkir itu di atas meja. “Kenapa gak suruh aku langsung beliin dia aja? Yang mau nikah itu dia atau aku, sih?”

__ADS_1


“Kamu dengar dulu.” Mama mencoba mereda emosiku. “Fang sudah diterima bekerja di perusahaan ternama. Dua ratus ... tidak ... lima ratus. Lima ratus angap aja hutang, yang dua ratus kamu bisa angap sebagai angpau buat adik iparmu.”


Beneran gak habis pikir sama pemikiran mama kandungku. Bisa-bisanya dia royal sama anak tirinya seperti itu. Bahkan dia tak pernah royal sama aku.


“Aku gak ada uang!” Tegasku.


“Kamu ini dosen di universitas ternama, mana mungkin gak ada uang? Hidupmu terlalu boros!” Lelaki itu menambah bubuk mesiu ke dalam minyak yang mendekati pematik. Jelas saja aku langsung bangkit berdiri dan menjelaskan segala biduk permasalahan yang dituduhkan lelaki itu.


“Dengar, gajiku perbulan hanya 12 ribu dolar. Sewa rumah saja, aku cari yang murah dengan harga ratusan dolar. Masih harus mengirimi istrimu empat ribu dolar. Tujuh ribu dolar, menurutmu seperti apa aku hidup?”


Nadaku meninggi saat menjelaskan. Aku ingin mereka bertiga tau bagaimana kondisiku di sana. Bekerja bukan juga semata-mata menjadi begitu mudah saat diminta uang. Diri sendiri mau bahagia saja, sampai harus berpikir dua kali.


“Kamu bisa jual mobil, ambil juga deposit apartemenmu itu!” ucapnya begitu enteng, seperti semuanya itu terlihat lebih mudah baginya.


“Papamu benar, kamu bisa pindah ke sini. Rumah kan juga dekat halte. Transportasi bisa pakai bis dulu buat ke kampus.”


Sekarang aku baru sadar. Di sini, aku seperti bidak catur. Segala langkahku diatur oleh mereka. Yang paling menyakitkan, justru mamaku membela permintaan konyol suaminya itu.


Dengan senyum sinis dan menunduk, aku bertanya, “Mah, aku ini bukan anakmu lagi kah?” Aku gak bisa lagi menahan semuanya. Hatiku sangat sakit saat mendengar mama membela lelaki itu dan anak tirinya.


“Kia, Nak ....”

__ADS_1


“Mah, aku berumur 26, ada anak juga. Kamu gak pernah sekalipun tanya tentang hubunganku. Apa aku mau menikah, atau kapan aku mengenalkan calon suamiku?” Aku tertunduk lesu, membiarkan air mata menetes sesukanya.


“Sejak dulu, bakcang asin itu kesukaanku. Apa lagi jika isinya daging cincang campur jamur pedas. Yang manis itu, Fang yang suka.” Kutatap wanita paruh baya yang sedang duduk sambil memegang cangkir teh.


“Nak, kamu anak perempuan, akan lebih baik jika kamu tinggal di rumah.”


Satu sudut bibirku meninggi, mataku melirik tajam, melihat ekspresi wajahnya yang masih datar.


“Lebih baik? Mah, rumah dan apartemenku hanya berjarak sepuluh kilometer. Sedangkan dari sini hampir 70 kilometer, dan mobil itu ... itu dari papa. Menjual itu, apa mama gak malu? Itu hadiah dari seorang ayah kepada putri satu-satunya, kenapa harus di berikan kepada mantan istrinya untuk membelikan rumah anak tirinya?”


Mereka diam membisu, yang satu tertunduk dan yang satu lagi acuh-tak acuh. Aku hanya fokus melihat ekspresi dua orang itu, tak tertarik melihat ekspresi adik tiriku yang selama ini kerjanya cuma makan tidur.


Dengan berat hati, aku mengakhiri pembicaraan itu dan pergi ke kamar. Kamar yang menemaniku selama hampir dua puluh tahun. Aku sudah memutuskan saat itu, hanya akan berdiam diri di kamar sampai besok pagi.


Namun kenyataannya ....



...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


Bab selanjutnya sgera meluncur 🛬🛬🛬

__ADS_1


Ritual dan Sajen, jangan sampe lupa.


__ADS_2