
...||...
...Kia Pov...
📩 Kamu mengabaikanku, Sayang.
Pesannya sempat terngiang di kepalaku beberapa waktu. Jujur saja, itu sedikit mengganggu konsentrasiku saat mengajar. Sebelumnya, kita memang sama-sama berkomitmen untuk menjaga hubungan saat berada di kampus. Hanya saja, lelaki itu terus mengganggu pikiranku.
Hah, dasar suami maniak!
Aku baru saja keluar dari kelas meski kelas belum sepenuhnya selesai. Mencoba mencari udara sejuk di awal musim semi dan menetralkan isi kepala yang dipenuhi dengan bayang konyolnya. Baru saja berjalan beberapa langkah dari kelas. Sesuatu tiba-tiba menarik tanganku, membawaku masuk ke sebuah kelas kosong.
Ada napas hangat, yang berbaur dengan udara dingin di awal musim semi. Tiba-tiba menyapa wajah yang hampir beku. Sosok lelaki yang tak asing, berdiri di hadapanku dengan senyum yang paling manis. Memberikan syal merah tebal yang langsung dililitkan ke leher.
"Musim dingin baru berakhir, tapi udaranya masih cukup untuk membuat bibirmu membiru. Kenapa gak pakai mantel atau syal saat keluar kelas?" ucapnya dengan sorot mata tajam ke arahku.
Memang benar yang dia katakan, baru keluar beberapa langkah, bibirku sudah kaku. Sampai-sampai tak cukup kuat untuk bergerak dan menjawab pertanyaannya. Hanya sepersekian detik, dua tangan itu berpindah ke pipi. Lalu, lidah tak bertulang yang lembut, menerobos masuk tanpa aba-aba ke dalam mulut. Membawa sesuatu yang hangat, dan mencairkan bibir yang setengah beku.
__ADS_1
Dia selalu punya pesona, yang membuatku lupa banyak hal. Termasuk, lokasi dimana kita berada sekarang.
Oh, ****!
Buru-buru ku dorong tubuhnya hingga mundur beberapa langkah. "Ini masih di kampus!" lirihku berusaha menekan suara agar tidak terdengar dari luar.
"Ayo pulang kalau begitu," ucapnya santai.
"Pu-pulang?" Decahku kesal. "Ken, kita sudah sepakat sejak awal ya. Di Kampus, aku dosen, dan kamu mahasiswa!"
Hela napasnya terdengar jelas di telinga. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku sambil melihat ke bawah. Tingkahnya yang seperti ini, mengingatkanku akan Jenny saat sedang merajuk. Iya, sama persis, seperti bocah berumur 3 tahun yang tidak dibelikan mainan.
"Kamu masih ada satu kelas lagi. Cepat pergi, aku tunggu kamu, jadi kita bisa pulang bersama," ucapku membujuknya.
Dia menatapku dengan mata bulatnya, lalu tersenyum untuk beberapa saat dan melangkah maju. "Jenny sudah menunggu di rumah, kamu pulang aja. Aku masih ada urusan setelah kelas," ucapnya sambil mengusap pipi dengan tangan hangatnya.
"Kemana?" tanyaku penasaran.
Alih-alih mendapat jawaban yang memuaskan, ia justru kembali menenggelamkan lidahnya ke dalam mulutku selama beberapa detik. Lalu, bibir itu berpindah mengecup kening.
__ADS_1
"Mencari nafkah untukmu dan anak kita," jelasnya singkat. "Makan siang dulu sebelum pulang, dan hati-hati saat menyetir."
Kecupan kembali mendarat di kedua pipi, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkanku di kelas sendirian. Entah kenapa, tingkah lakunya selalu berhasil membuat senyumku lepas begitu saja.
"Huh! Panas!" Desaku merasa suhu di sekitar menjadi sedikit panas.
Gila sih, bisa-bisanya aku di buat kasmaran sama bocah ingusan seperti dia. Padahal cuma di beri kecupan dan kata-kata gombalan ala buaya buntung dari negeri bambu.
Kok bisa?
Pasti buayanya udah di training, sampai bisa jago begitu. Iya, pasti nih!
Buaya kemana saja?
Readers kangen nih, Buaya. Sampe lupa kan ceritanya 🤣🤣
Kawal Othor sampe tamat pokoknya!!
__ADS_1