Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 29


__ADS_3

...🐾🐾🐾🐾🐾🐾...


Hari ini, dua orang kepercayaanku sudah membuat jengkel setengah mati. Kepala sudah pening, ditambah dua orang yang terus bertindak seenaknya.


Hela napasku sedikit berat. Tangan asing yang terus memegang rambut membuat kesabaranku benar-benar di ujung batas.


“Udah cukup!” Aku berdiri, kemudian menatap wajah Ziko yang begitu menyebalkan.


Oh Tuhan, aku ingin sekali memukul wajahnya!


“Ayo berangkat!” Aku berjalan, mengambil Jaz dan memakainya.


Baru keluar dari ruangan, hanya berjalan beberapa langkah sebelum masuk ke lift. Mataku terhenti pada seorang wanita yang begitu cantik. Dia sedang duduk di kursi roda, dengan mata yang fokus menatap layar ponsel.


Wajah itu selalu membuatku terpesona lagi dan lagi. Entah kenapa, memandangnya membuat tubuhku sedikit tergelitik ingin melahapnya.


Sabar Kennt, dia akan jadi milikmu nanti.


Aku meninggikan salah satu sudut bibirku saat berpapasan dengannya. Senyuman seperti seekor buaya yang berhasil menggoda mangsanya.


Ahh tunggu! Sepertinya bukan buaya. Lebih cocok dengan serigala dan gadis berkerudung merah.


“Ada masalah, Tuan?” tanya Ziko yang sepertinya melihat ekspresiku tadi.


“Gak ada!”


Kami masuk ke dalam lift dan segera di bawa ke lantai dasar. Pada saat itu, seorang perugas keamanan menghampiri kami yang sedang berjalan. Lalu, mengantar kami ke depan. Rupanya, mobil yang dibawa Ziko sudah disiapkan di depan pintu lobi. Petugas keamanan itu juga sempat membuka pintu untukku.


“Apa semua dapat perlakuan seperti itu?” tanyaku pada Ziko saat berada dalam mobil.

__ADS_1


“Tidak, sepertinya hanya kita, Tuan.” Ziko menoleh, melihat bosnya yang duduk di kursi belakang.


“Kenapa?”


“Karena Anda menghubungi direktur mereka hanya untuk meminta pulang lebih cepat!”


Mendengar penjelasan Ziko membuatku sedikit kesal. Aku hanya ingin menggertak atasan mereka, tapi kenapa anak buahnya yang harus tunduk padaku?


Sepertinya direktur gendut itu belum cukup diberi pelajaran.


Ziko memacu pedal gas, segera meluncur ke kantor untuk menghadiri rapat darurat.


Ada pepatah mengatakan, ‘dibalik kelemahan pasti ada kelebihan’. Ternyata pepatah itu juga berlaku pada Ziko. Meski EQ-nya sedikit konslet, tapi otaknya encer seperti susu sapi Newzeland. Selain itu, dia juga pandai mengemudi dan memprediksi waktu.


Yah, gimana lagi? Aku mau pecat dia juga belum tentu dapat orang yang otaknya seencer susu sapi.


Perlu setidaknya satu jam, sampai mobil mahal koleksi perusahaan, sampai di depan lobi. Aku dapat melihat dengan jelas, beberapa awak media sudah berdiri di depan pintu untuk menggorek informasi.


“Gak perlu! Hadapi saja!”


Aku membuka pintu, dan satu kakiku baru keluar. Beberapa wartawan sudah menyerbu dan mencercaku dengan berbagai pertanyaan.


“Tuan, dua hotel Anda mengalami kebakarab hebat, apa ini sabotas?”


“Berapa kiranya kerugian dari dua hotel JW?”


“Saya mendengar jika anda baru saja kecelakaan kemarin malam. Apa itu benar?”


Telinga sensitifku masih dapat mendengar pertanyaan-pertanyaan yang lain. Aku mengangkat tangan, membuat mereka berhenti mencercaku dengan pertanyaan.

__ADS_1


“Saya akan menjawab! Bisakan kalian tenang?” Baru beberapa patah kata yang keluar, tapi orang-orang itu sudah menutup mulut mereka.


“Aku berterima kasih atas perhatian kalian. Pertama, isiden itu benar. Namun aku tidak terluka parah. Kedua, untuk kebakaran JW, kami sedang mengecek detailnya seperti apa,” jelasku dengan santai. “Oke, sampai di sini, setelah investigasi, kami akan melakukan Konferensi pers.”


Aku perlahan pergi. Berjalan di tengah kerumunan wartawan yang sudah di pecah oleh beberapa petugas keamanan. Menuju ke lantai 24 untuk mengadakan rapat mendadak.


Beberapa orang sudah duduk dengan rapi saat aku masuk ke dalam ruangan. Kutatap satu persatu wajah mereka yang tengah ketakutan. Ziko membuka laptop, kemudian menyodorkannya padaku yang baru duduk di kursi.


“Rugi berapa?” nadaku jelas sedikit ketus, aku sedang marah saat itu.


“Du-dua, dua juta dolar, Presdir,” jelas salah seorang di antara mereka.


“Dua juta, sekitar 2,8 Miliar. Ckckck.” Jemariku bermain pena, mengetuk-ngetukkannya ke meja. “Lalu, kalian diam saja?” Tatapanky masih terfokus, pada sebuah pena cantik yang beberapa hari lalu baru aku beli.


“Ka-kami sedang menyelidikinya, Presdir!” jawab orang yang sama. “Jika itu kesalahan manusia, kami akan menuntutnya.”


“Gimana kalau bukan?” Hentakkan penaku berhenti, oleh nada pesan yang baru masuk. Aku sempat melirik mereka yang saling menyeka keringat, saat membuka pesan dari Tania.


\~ Anda di mana? Api di sini baru padam, kami belum bisa melakukan investigasi. \~


Aku memberikan ponsel pada Ziko untuk membalas pesan Tania. Kemudian melanjutkan rapat untuk menambal kerugian yang di akibatkan kebakaran JW.


Rapat berjalan cukup lama. Baru kali ini aku benar-benar serius memperhatikan rapat selama dua jam lebih.


“Setelah investigasi keluar, lakukan sesuai rencana. Untuk detai dan laporan, selesaikan dalam dua hari!”



Othor berhasil ngepet lagi 🙈🙈

__ADS_1


Hari ini sekian dulu ah, besok dilanjut lagi 😘😘


Jangan lupa ritual dan sajennya 😘


__ADS_2