Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 117


__ADS_3

...||...


Kenneth menemani Kia turun dari mobil, bahkan mengantarnya sampai ke depan kamar. Kia pikir, dia sudah bisa menghabiskan waktu dengan sang suami. Namun rupanya, tidak. Kenneth harus pergi karena ada sesuatu yang harus diselesaikan.


Supir melajukan mobil sedan putih secepat mungkin, masuk ke dalam pekarangan rumah Julius.


Julius sedang bermain Igo (Go di Tiongkok) bersama dengan Rey. Igo/Go, adalah permainan papan stategis yang di mainkan dua orang.


Julius sangat suka menghabiskan waktu bermain Igo bersama dengan Rey. Terlebih, saat suasana hatinya terasa baik.


"Kau terlihat baik, Kek," sapa Kenneth terdengar ramah. Padahal, Kenneth tidak pernah seramah itu saat menyapa Julius. Mungkin, itu semua karena restu dari Julius.


"Kenapa, kau sudah menemukan ayah gadis itu?" Julius mengejek.


Kenneth mengendorkan dasi, lalu duduk di sofa dengan santai. "Aku ayahnya, kenapa harus dicari lagi?"


Satu sudut bibir Julius terangkat, dengab tangan kanan yang terus bermain Igo. "Kamu sudah memutuskan?"


"Kita sudah sepakat. Bisnismu di Inggris sudah beres dan stabil. Masalah pernikahanku, ngak perlu sampai merepotkanmu." Kenneth melangkah pergi, meninggalkan Julius yang masih sibuk bermain dengan Rey.

__ADS_1


"Besok malam, bawa dia ke rumah," ucap Julius saat cucunya belum berjalan terlalu jauh.


"Tergantung mood!"


Mendengar jawaban Kenneth, Julius sama sekali tidak terlihat kesal. Dia jutrsu terlihat fokus memikirkan stategi permainannya. 


"Emosi Anda stabil, Tuan," ucap Rey tiba-tiba, membuat Julius sontak tertawa terbahak-bahak. 


Rey pun menjadi heran. Sepuluh tahun dia mengikuti Julius, tetapi baru kali pertama dia melihat Julius tertawa terbahak-bahak seperti itu.


"Tujuh puluh tahun lebih aku hidup, dan baru pertama kali merasa puas dengan seorang wanita, selain Fara!"


"Maksud Anda, Nona Shen?"


Rey pun hanya bisa tersenyum kala melihat tatapan itu. Sepukuh tahun mengikuti Julius, membuat Rey dengan mudah memahami pria berumur 75 tahun itu. Tatapan tajamnya, bentakannya, sifat sombong yang mendominasi. Rey hafal dengan baik, sehingga tau bagaimana harus bersikap.


"Saya salah. Dia adalah nyonya muda kelaurga Lee," ucap Rey santai, sembari meletakkan biji caturnya.


__ADS_1


Senja mulai menyapa ujung cakrawala. Beberapa lampu jalanan pun telah menyala. Rombongan burung terlihat terbang untuk kembali ke sarangnya.


Mobil Kenneth kembali melaju di jalanan kota. Setelah kembali dari rumah Julius, Kenneth memutuskan untuk singah sebentar di kantor, sebelum akhirnya kembali pulang.


Mata dengan bulu mata lentik, terlihat fokus pada sebuah tablet kecil yang dipegangnya. Sesekali menyesap secangkir kopi hitam tanpa gula yang disediakan Tania.


"Presdir, Tuan Lukas ingin memajukan jadwal pertemuannya minggu ini. Perusahaan SAX juga mengatur ulang jadwal mereka," ucap Tania yang sejak tadi berdiri di hadapan lelaki itu. 


"Gak masalah. Majukan semuanya dalam satu minggu ini, dan kosongkan untuk minggu depan." Kenneth meletakkan tablet, kemudian bangkit dari kursinya. Ia mengambil kotak kecil berwarna merah yang ada di atas meja dan memasukkan ke dalam laci.


"Minggu depan? Anda mau kembali ke kampus?" 


"Ngak. Aku mau menikah!" jawabnya santai. Lalu pergi meninggalkan Tania yang terbengong sendirian di ruang kerjanya.


Dia mau nikah sama siapa? Anak kucing?


Jangan bilang, dia mau menikahi gadis itu?


...||...

__ADS_1


...||...


TBC


__ADS_2