Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 42


__ADS_3

...🐾🐾🐾🐾...


Kia Pov


Aku tadi lagi ngapain?


Oh, aku ingat! Lagi jalan mau ke kelas, terus lihat dia lagi ... lagi ....


Tiba-tiba terbayang moment itu. Kelasnya tak terlihat cukup ramai, tapi dia cukup berani berdekatan seperti itu!


Padahal, kemarin baru ketemu secara gak sengaja di supermarket. Terus datang ke rumah minta makan. Eh sekarang? Udah godain anak orang aja.


Buaya memang buaya. Sejak kapan bisa jadi kucing imut yang penurut? Cih!! Aku dibodohi!


Ah, sudahlah. Ngak penting juga dia mau apa. Lagi pula, status pacar cuma hasil taruhan. Buat apa harus marah? Sabar Kia, cuma tiga bulan.


“Pelajaran hari ini cukup sampai disini!”


Biasanya kalau gak niat kasih materi ya tidur, tapi hari ini beda. Moodku jelek sekali! Sepertinya sudah waktunya bulanan, PMS!


“Sayang ....”


Suara yang begitu samar terlintas di telinga kiriku. Jelas saja aku langsung menoleh, melihat siapa yang berani memanggilku seperti itu. Rupa-rupanya .... si Buaya tanpa ekor.


“Kenapa?” tanyaku ketus.


“Jutek amat! Kemarin masih bisa ketawa bareng.”


Dia lagi ngingetin aku soal kemarin, kah? Gak sadar kalau dia juga main-main soal hubungan ini?


“Kenapa? Wanita itu gak muasin kamu? Jadi lebih milih cari janda?” Lirikanku begitu tajam.

__ADS_1


Lelaki ini langsung berdiri di depan dan menghadang jalanku. Membuatku harus menghentikan langkah kaki. “Oh, cemburu?” Nadanya setengah mengejek.


Tentu saja aku gak terima diledek seperti itu. Magma sudah sampai di ujung, sudah ingin sekali keluar. “Matamu!” ucapku kasar sambil mendorong kepalanya dengan jari telunjuk.


Lalu, pergi secepat mungkin. Aku sempat berpikir lelaki itu akan marah dan tak lagi mengangguku. Namun nyatanya salah. Dia justru memanggil namaku dengan begitu lantang.


“Miss Kia!”


Argh! Aku mau bunuh orang ini!


Kesal, tentu saja. Dia berteriak dengan seenak jidat. Memanggil namaku dengan begitu lantang tanpa permisi. Siapa yang gak jengkel?


Amarahku sudah sampai ubun-ubun. Sudah mirip bisul yang terlihat matanya. Gemas, pengen banget dipencet dan dikekuarkan.


Aku menoleh dengan terpaksa. Melihat sudut bibirnya terangkat dengan puas. Dia datang menghampiriku dengan berlari kecil.


“Namanya Kimmy. Dia sudah punya suami, aku cuma lagi kalah taruhan. Jadi dia menyuruhku membelikan beberapa cemilan!”


Oh, dia lagi menjelaskan? Takut aku salah paham dan menuduhnya selingkuh.


“Anda cemburu, Miss. Benarkan?” Dia berjalan mengikuti langkahku.


Cemburu? Yang benar saja. Mama mungkin cemburu sama anak ingusan seperti dia?


Ah tunggu! Dia bukan anak ingusan, dia lebih tua dariku satu tahun.


“Gak ada! Jangan ikuti aku! Pergi sana!”


Aku terus berjalan, berharap lelaki itu tak mengikuti langkahku lagi. Semakin jauh aku melangkah, semakin kehilangan kehadirannya di belakangku. Menoleh sedikit untuk memastikan, ternyata harapanku terwujud.


Mengetahui itu, tentu saja aku senang. Sekarang, aku bisa pulang dengan tenang.

__ADS_1


Begitu sampai di rumah. Jenny langsung berlari dan memberiku pelukan hangat. Hari-hariku hampir berjalan seperti itu. Sampai tiba-tiba, ada rasa takut untuk berpisah dengannya.


Apa aku harus mencari pemilik kecebong ini? Atau biarkan saja kita hidup berdua. Menikmati momen menjadi ibu dan anak.


Suara bel pintu membuyarkan lamunanku. Segera ku raih gagang pintu untuk melihat siapa yang datang.


“Hai, Miss ....”


Manik mataku tertuju pada sosok lelaki yang sedang mengenakan baju basket. Berdiri dengan santai di depan pintu. Tak lupa senyum ala pepesoden yang menurutku justru terkesan aneh.


“Ada apa?” tanyaku ketus.


“Gak boleh masuk, nih? Paling gak kasih minum tamu gitu.”


Hela napasku cukup berat. Pengen banget ambil pisau di dapur dan mengusirnya. Cuman, wajah ganteng itu cukup sayang kalau tergores.


“Katakan langsung ada apa!”


“Pertandingan basket besok, datanglah!”


Perkataannya ini bukan seperti permintaan. Lebih mirip seorang presdir angkuh yang menyuruh bawahannya. Gak boleh ada penolakan.


“Lihat besok deh!” Aku menyandarkan punggungku di ambang pintu. Berharap lelaki ini segera pergi.


“Ku anggap itu persetujuan!”


Aku melihatnya sempat tersenyum, sebelum akhirnya bayang punggung itu menghilang. Soal besok, sepertinya aku memikirkan sesuatu yang menarik.



Seperti jerawat yang udah mateng. Pengen banget di ceplosin 😂

__ADS_1


Babang Ken, calon binimu ngambek. Kamu dateng gak bawa seblak sama martabak. Gak dibolehin masuk kan 😌


Jangan lupa sajennya, biar babang Kenn bisa beli seblak buat mbak Kia 😂😂


__ADS_2