Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 128


__ADS_3

Ruangan besar dengan rak buku di sisi kanan dan kiri, serta kaca besar cembung yang menampakkan pemandangan taman di luar ruangan. Semerbak bau cendana, tersebar ke seluruh penjuru ruang.


Julius pada saat itu sedang duduk, tatapannya serius memandangi papan permainan GO. Tangannya beberapa kali diangkat, ingin menggeser biduk batu, tetapi mengurungkannya.


"Anda terlihat resah, Tuan?" tanya Rey yang menjadi lawan mainnya.


"Hanya permainan begini, aku resah? Hahaha konyol sekali."


"Saya kira kita sedang berbicara hal lain."


Julius menaikan pandangannya sedikit ke atas, menatap Rey yang justru terlihat begitu santai. "Sejak kapan kamu suka ikut campur?"


"Saya mengkhawatirkan Anda." Rey mengisi cawan teh yang sejak tadi kosong, lalu memberikannya pada Julius.


"Jelas-jelas Anda punya maksud yang baik, tetapi memilih menyembunyikannya dan membuat cucu sendiri salah paham," Rey meneruskan ucapannya.


"Oh ho!" Julius menunjuk-nunjuk Rey dengan ekspresi wajah bahagia. "Kau tau siasatku rupanya."


Rey menaikan dua sudut bibirnya kemudian berkata, "Anda melupakan sesuatu, Tuan." Perkataan yang langsung membuat Julius menyandarkan punggungnya. "Saya sudah mengikuti Anda sejak kecil."


Julius sempat berdecak kagum setelah Rey mengingatkan semua itu. Dia sepenuhnya telah lupa, bahwa Rey sudah di asuhnya sejak berumur 8 tahun. Julius kembali menegakkan tubuhnya, mengangkat tangan dan menggeser biduk.


"Dia itu impulsif dan manipulatif. Jika menginginkan sesuatu, dia pasti akan mendapatkannya bagaimanapun caranya. Jika aku tidak menariknya sedikit, dia mungkin akan terperosok terlalu dalam."


Penjelasan Julius sempat membuat Rey bingung. Jelas-jelas semua perbuatan Kenneth sudah bagus, menurutnya. Lantas, dimana salahnya?


Ketika Rey sibuk menerka maksud perkataan tuannya, dan Julius sibuk dengan permainannya. Kenneth datang dengan membanting pintu secara kasar. Melihat cucunya datang penuh emosi, Julius pun menyuruh Rey untuk pergi.

__ADS_1


"Apa yang kamu inginkan sebenarnya?" tanya Kenneth tiba-tiba.


"Mau bicara, bicara yang jelas!"


"Kita sudah sepakat sebelumnya. Berikan Jenny dan aku akan meninggalkan Kia. Kenapa kamu malah membuat rencana seperti itu?"


Julius mengambil tongkat dan bangkit berdiri. Tubuh tua yang masih terlihat segar, kini berdiri di depan cucu yang paling dia sayangi.


"Sudah sejauh ini, bahkan kau tidak belajar sedikit pun? Mengecewakan!" ucap Julius kemudian pergi meninggalkan Kenneth.


Tidak belajar? Apa maksudnya?


Kenneth hendak mengejar, tetapi Rey menghalangi langkahnya.


"Anda masih belum bisa memahami maksud Tuan Besar?" ucap Rey tiba-tiba, membuat Kenneth berkacak pinggang karena kesal.


"Demi aku? Jangan bilang kalau dia melakukan ini demi kebaikanku?" Kenneth mulai marah. "Itu hanya demi kepuasannya sendiri! Kamu saja yang tidak mengenal dia!"


Rey berdecak kesal mendengarnya, "Apa Anda pernah menyadari sesuatu? Bahwa Anda terlalu impulsif dan manipulatif. Anda bahkan telah gagal mempertahankan dua orang sekaligus. Jika bukan tuan besar yang turun tangan, apa Anda bisa bernapas lega seperti sekarang?"


Kenneth yang jengkel langsung mencengkram kerah baju Rey, "Apa maksudmu?"


"Saat Anda berusia 10 tahun. Dua orang teman memperebutkan permen yang Anda beri. Alih-alih membaginya sama rata dan menikmati permen itu. Anda justru membuangnya."


"Anda selalu berpikir, bahwa tindakan Anda itu benar, tapi apa yang terjadi? Anda melukai dua orang demi keputusan Anda."


Cengkraman Kenneth perlahan mengendur, ketika ia mulai mengerti perkataan Rey. Terlihat dia sempat menghela napas panjang, sebelum akhirnya melepaskan cengkramannya dan pergi.

__ADS_1


Implusif dan manipulatif? Sejak kapan aku seperti itu? Bertindak pun selalu penuh dengan pertimbangan matang. Yah, meski sesekali memakai insting, tapi apa salahnya? Apa masalahnya?


Tanpa sadar, Kenneth berdiri di depan kamar yang didesain Julius untuk Jenny. Matanya fokus mengamati dua orang wanita yang berhasil membuatnya bertekuk lutut. Dua orang yang sedang bercengkrama dan bercanda.


Tiba-tiba saja, Kenneth menyadari sesuatu, tentang perkataan Rey yang hampir sepenuhnya benar. Jika bukan karena Julius, dia mungkin sudah kehilangan keduanya.


T**ernyata aku cukup manipulatif terhadap mereka.



Promo


Nama Author : Santi Suki


Judul : Duda Vs Anak Perawan


Blurb:


Yusuf, seorang duda beranak satu yang baru saja ditinggal oleh Aisha–istrinya yang meninggal karena kecelakaan. Dia harus membesarkan Asiah–putrinya– seorang diri karena ibunya harus merawat ayahnya yang sakit stroke. Yusuf dan Asiah tinggal di apartemen milik perusahaan yang khusus diberikan oleh Sarah, CEO sekaligus putri pemilik perusahaan tempat dia bekerja sebagai Direktur Keuangan. Yusuf juga bertetangga dengan Zulaikha, seorang siswi SMA yang kurang kasih sayang orang tua dan suka menggoda dirinya, tetapi begitu sayang kepada Asiah. Zulaikha juga selalu terang-terangan bilang cinta dan sayang sama Yusuf. Namun, Yusuf selalu menganggapnya angin lalu.


Asiah selalu dititipkan di sebuah penitipan anak yang merangkap dengan lembaga pendidikan anak dini. Di sana mereka bertemu dengan Bilqis, mahasiswi magang yang mengingatkan pada sosok Aisha. Membuat Yusuf mulai terpaut hatinya karena kealiman dan kelembutan sifatnya. Namun, cintanya mendapat pertentangan dari keluarga Bilqis karena statusnya duda beranak satu.


Bagaimana kisah Yusuf dalam membesarkan Asiah yang aktif dan sering membuatnya mati kutu?


Siapa yang mendapatkan cinta Yusuf?


Sarah anak perawan yang anggun dan cerdas? Zulaikha anak perawan penggoda dan jahil? Atau Bilqis anak perawan yang sholehah dan penyabar?

__ADS_1


__ADS_2